Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Sanny Cicilia
Tak pernah terlintas di benak Suryanto bahwa bibit yang dibelinya secara tak sengaja belasan tahun silam bakal memberi cuan kepadanya. Kini, ia mengembangkan budidaya umbi yakon yang menjadi komoditas unggulan daerahnya.
PERJALANAN bisnis yang dinaungi bendera Najwa Herbal bermula pada tahun 2013. Kala itu, Suryanto yang menyambangi toko pertanian lokal, ditawari bibit yang disebut tanaman yakon. Meski awalnya biasa saja, dia kepincut bentuk fisik tanaman yakon milik rekannya. Didorong oleh rasa penasaran akan khasiat medisnya, terutama bagi penderita diabetes, Suryanto memberanikan diri memulai budidaya mandiri.
Awalnya, dia hanya menanam sekitar 40 pohon. "Waktu itu pasarnya belum ada sama sekali," ujar Suryanto pada KONTAN, Jumat (11/9/2026).
Langkah komersialisasi baru terbuka pada 2014 melalui kolaborasi dengan mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta untuk produk olahan daun yakon kering untuk bahan baku teh herbal. Pasokannya merangkak naik dari puluhan kilogram hingga menyentuh angka 1 ton kering per bulan pasca-pandemi.
Namun, produk utamanya yakni Umbi Yakon belum dapat tempat lantaran banyak penolakan di pasar. Penyerapan pasar sempat stagnan selama kurun waktu sepuluh tahun.
Titik balik bisnis Suryanto terjadi secara dramatis awal 2024. Kepopuleran umbi yakon meledak di Malaysia dan menjalar ke Indonesia setelah sejumlah influencer dan selebgram mengulas produk umbi yakon milik Najwa Herbal di platform Instagram dan TikTok.
"Di saat viral booming itu penjualan langsung melonjak. Bahkan saya pernah melakukan live TikTok selama 45 menit dan bisa terjual sampai 1 ton," kenang Suryanto.
Sejak momentum viral tersebut, permintaan pasar tetap konsisten. Najwa Herbal mampu melepas rata-rata hingga 800 kilogram (kg) umbi yakon segar setiap hari, untuk memenuhi pasar daring maupun pasokan ke toko buah dan jaringan supermarket ritel modern. Najwa Herbal juga membuka opsi pengiriman minimal 100 kilogram untuk wilayah di luar Jawa melalui ekspedisi kargo khusus.
Dari sisi pembentukan harga, umbi yakon memiliki nilai ekonomis yang jauh lebih tinggi dibandingkan jenis umbi-umbian lokal pada umumnya. Hal ini dipengaruhi oleh masa tanam dan pemeliharaan yang memakan waktu cukup panjang, yakni mencapai 6 bulan hingga masa panen tiba.
Suryanto mematok harga umbi yakon segar di gudang Rp 21.000 per kilogram. Sementara di tingkat pengecer toko buah premium dan supermarket ritel modern, di kisaran Rp 30.000 hingga Rp 35.000 per kg.
Guna menopang kesinambungan pasokan harian yang masif tersebut, Suryanto tak lagi hanya mengandalkan lahan pribadi seluas 2.000 meter persegi, tetapi merangkul 120 petani lokal Wonosobo dengan lewat kemitraan. Total lahan membentang mencapai 18 hektare.
Pola kemitraan ini menjadi pendorong roda ekonomi warga desa, mengingat karakteristik tanaman yakon tergolong mudah dirawat sehingga sangat cocok dibudidayakan petani senior.
Memang, ada tantangan pasar ritel modern yang menuntut standar ukuran yang ketat, sehingga menyisakan umbi yakon ukuran kecil atau terlalu besar yang menumpuk hingga kisaran 7 ton. Agar tak sia-sia, Najwa Herbal tengah menyiapkan inovasi produk turunan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













