Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.578
  • SUN95,67 0,00%
  • EMAS656.000 -0,46%

Punya rasa manis, jamblang putih banyak dikonsumsi

Minggu, 05 Agustus 2018 / 14:05 WIB

Punya rasa manis, jamblang putih banyak dikonsumsi

KONTAN.CO.ID - Apakah Anda pernah makan jamblang atau yang juga sering disebut duwet? Saat ini, buah dengan warna ungu kehitaman dengan ukuran mungil atau mirip dengan anggur ini memang susah ditemukan di pasar atau toko buah. Rasanya yang masam dan sedikit sepet membuatnya kurang disukai.   

Namun, boleh jadi Anda akan jatuh hati pada  duwet putih. Jenis duwet ini banyak diburu oleh penggemar tanaman lantaran rasanya yang manis. Duwet putih pun bisa jadi pilihan tanaman untuk mengisi halaman atau kebun di sisi rumah.

Apalagi, selain dimakan langsung, daging buah duwet putih bisa diolah menjadi minuman sari buah atau campuran jelly. Duwet putih juga punya banyak khasiat untuk kesehatan, seperti, mengontrol diabetes, mencegah kanker, menjaga kesehatan tulang dan gigi, serta dapat mencerahkan kulit karena mengandung vitamin C dan anti oksidan.

Sayang, Lensi Kumalasari, pemilik Jopa Green asal Yogyakarta bilang, masyarakat masih belum familiar dengan duwet putih. Dalam sebulan, Lensi pun hanya bisa menjual lima bibit duwet putih. Ia menjualnya  dengan harga Rp 50.000 per bibit. Bibit yang Lensi jual biasanya berumur sekitar enam bulan.

Selain di gerainya, Lensi juga menawarkan bibit duwet putih ini di media sosial. Alhasil, konsumennya pun datang dari berbagai kota, seperti Salatiga, Purbalingga hingga Jakarta.

Tidak ada perlakuan khusus untuk pengiriman tanaman ke luar kota. Bibit duwet putih dikemas menggunakan kardus berbentuk balok tanpa menggunakan polybag. Sehingga, akar hanya ditutupi tanah yang menempel. "Saat tanaman baru sampai baiknya jangan langsung diletakkan dibawah sinar matahari. Tunggu empat sampai lima hari baru mulai diberikan sinar matahari secara perlahan," katanya.

Rodhia Muhajidin, pemilik Ahya Garden asal Kediri, Jawa Timur mengatakan duwet putih kini mulai dikenal oleh masyarakat. Namun, pembeli biasa menanamnya sebagai tanaman tabulampot.

Rata-rata dalam sebulan, Rodhia bisa menjual sekitar 30 bibit dengan ukuran beragam. Harganya dipatok sesuai umurnya. Tanaman berumur empat sampai lima bulan dibanderol sekitar Rp 30.000 sampai Rp 35.000 per pohon. Sedangkan, untuk tanaman yang sudah berbunga atau berbuah, harganya Rp 200.000 sampai Rp 400.000 per pohon.  

Sama seperti Lensi, penjualan Rodhia juga sudah mencapai luar Kediri. Mulai dari Situbondo hingga kota-kota di Sumatra dan  Kalimantan. Khusus pengiriman luar pulau, tanaman dikemas dengan plastik wrap sehingga lebih rapi dan aman dalam pengiriman.

Untuk tanaman yang sudah berbunga atau berbuah, Rhodia akan mengirim dengan pot atau polybag-nya. Sementara, untuk pengiriman jarak jauh, dia hanya melayani pembelian dalam jumlah besar. "Sebab, pengiriman untuk tanaman yang sudah tinggi, biayanya cukup mahal," jelas Rhodia.       


TERBARU
Seleksi CPNS 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0010 || diagnostic_api_kanan = 0.3816 || diagnostic_web = 0.9873

Close [X]
×