kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45866,25   0,74   0.09%
  • EMAS918.000 0,11%
  • RD.SAHAM -0.32%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Ryan sukses membikin jasa desain secara online


Senin, 02 April 2012 / 15:40 WIB
Ryan sukses membikin jasa desain secara online
ILUSTRASI. Harga mobil bekas Suzuki Ertiga kini dari Rp 100 jutaan saja di April 2021

Reporter: Fransiska Firlana | Editor: Tri Adi

Bermula dari memahami kebutuhan banyak perusahaan, Ryan Gondokusumo mendirikan jasa desain secara online lewat sribu.com. Dengan menawarkan model bisnis baru, ia berhasil mewadahi para desainer dan perusahaan pengguna.

Bisnis jasa kreatif termasuk jenis usaha yang menjanjikan. Asal jeli melihat pasar dan ketersediaan sumber daya manusia yang kreatif, pintu kesuksesan ada di depan mata. Paling tidak, itulah yang dilakukan oleh Ryan Gondokusumo dalam merintis usaha desain secara online.

Pertengahan tahun 2011 lalu, Ryan membuat situs desain bernama www.sribu.com dengan mengadopsi sistem crowd sourcing, yakni menggunakan komunitas untuk melakukan suatu pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh satu orang saja. Ibaratnya, sribu.com itu pasar desain bagi desainer dan orang-orang yang ingin mencari logo yang disukai.

Saat ini, sribu.com sudah menghimpun 10.400 desainer dan 90 klien yang aktif memesan desain. Rata-rata, klien sribu.com merupakan pengusaha pemula (startup) dengan lini bisnis beragam. Ada pengusaha makanan, fashion, bengkel, toko elektronik, toko peralatan dapur, dan properti.

Beberapa contoh klien sribu.com adalah kacamatakorea.com, restoran Evergreen, Berry Kitchen, Absolute Coffebar. Selain itu, ada juga perusahaan konstruksi besar di Indonesia dan waralaba restoran. “Target pasar kami pengusaha di segmen usaha kecil menengah (UKM),” ujar Ryan.

Menurut Ryan, segmen UKM menjadi target market yang potensial lantaran di negeri ini ada 52 juta UKM. Tarif yang dikenakan sribu.com beragam, mulai Rp 1,5 juta hingga Rp 14 juta. Tarif ini terjangkau oleh pelaku UKM. “Klien tinggal memilih paket dengan harga tertentu,” ujarnya. Uang dari klien,
80% menjadi hak desainer dan 20% untuk sribu.com.

Ryan yang lulusan teknik elektro Universitas Purdue di Indiana, Amerika Serikat, ini memang bercita-cita menjadi seorang wirausahawan. Meski begitu, setelah lulus kuliah di tahun 2006, dia tak langsung berbisnis. “Mencoba menjadi karyawan terlebih dulu,” katanya. Ia sempat bekerja di perusahaan teknologi informasi (TI) selama sembilan bulan dan selama tiga tahun bekerja di perusahaan travel sebagai head of business development.

Di perusahaan yang terakhir ini, Ryan menyadari adanya kebutuhan desain kreatif, mulai desain logo, banner, brosur, sampai kalender. “Ketika masih bekerja di perusahaan travel, saya merasa kesulitan membuat suatu desain. Permintaannya juga macam-macam dengan hanya mengandalkan satu desainer,” kenangnya. Kondisi ini tentu juga dialami oleh perusahaan-perusahaan lain ketika membutuhkan suatu desain.


Sulit menyosialisasikan

Dari pengalaman itu, Ryan berpikir untuk membuat wadah yang menampung banyak desain. “Saya memilih sistem crowd sourcing karena potensi pasarnya besar dan creatives atau desainer di Indonesia juga sangat banyak,” katanya. Karena itu, di sribu.com, ia mencoba menampung karya kreatif desain melalui sistem kompetisi.

Tahun 2011, berbekal tabungan sebagai modal awal, Ryan mulai merintis usaha. Dia menggaet temannya, Wenes Kusnadi, sebagai programmer.

Tantangan awal adalah memperkenalkan model bisnis sribu.com pada masyarakat. Ternyata membuka bisnis ini tidak semudah yang dibayangkan. Usaha ini tidak cukup bermodal website. “Pemilik website banyak sekali dan sulit sekali menjadikan website kami dikenal banyak orang,” ujar pemenang SparxUp Awards 2011, penghargaan bagi start up kreatif dan berkinerja bagus.

Karena itu, Ryan memilih fokus menjalani bisnis ini dengan rajin melakukan edukasi atau perkenalan pada khalayak. Ia rajin masuk ke forum-forum internet, menjadi partnership acara-acara, publikasi, mengikuti kompetisi, dan bergabung dengan komunitas.

Pelan namun pasti, makin banyak yang menggunakan jasa seperti pembuatan logo, web design, packaging desain, naming creative, dan 16 kategori jasa lain. “Klien tinggal membuat lomba desain apa yang dimaui dan tim kreatif sribu.com akan berlomba memberikan desainnya pada klien,” kata Ryan. Lantas, klien tinggal memilih desain yang disukai.

Sistem ini ternyata disukai desainer maupun klien. Bagi desainer, sribu.com bisa menjadi usaha sampingan. Bila menang, mereka mendapatkan uang. Klien juga bisa mendapatkan aneka desain untuk diseleksi yang terbaik. “Klien mendapatkan banyak pilihan, beda ketika hanya menyerahkan penggarapan desain hanya ke satu orang,” jelas pria kelahiran Jakarta 16 Januari 1985 ini.

Sayang, Ryan enggan menyebutkan omzet dari usahanya ini. “Ya, jutaan rupiah saja,” katanya merendah. Ia menargetkan pertumbuhan bisnis setiap bulan mencapai 30% hingga 40%. Mulai bulan ini, ia menyewa kantor yang lebih besar dan menambah karyawan. Sekarang, ada enam karyawan dan akan tambah menjadi 12 orang.

Pelan tapi pasti, sribu.com terus tumbuh. Apalagi belum lama ini, sribu.com juga mendapatkan suntikan pendanaan dari perusahaan modal ventura khusus TI dari Singapura.




TERBARU

[X]
×