kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Sensasi rasa andaliman dalam roti dan banderek (1)


Sabtu, 15 Februari 2020 / 10:00 WIB
Sensasi rasa andaliman dalam roti dan banderek (1)

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menyebut andaliman, ingatan kita langsung teringat pada salah satu bumbu dahsyat bagi masakan khas Batak, seperti ikan arsik, na niura atau ayam napinandar. Kedahsyatan bumbu yang biasa disebut merica batak ini adalah sanggup menghilangkan bau amis pada ikan mas yang dimasak arsik.

Rupanya rasa mangitir alias rasa yang getir pahit dan bau yang segar pada buah yang punya nama latin zanthoxylum acanthopodium ini kerap menjadi buruan masyarakat Batak untuk membuat beragam masakan khas daerah Sumatra Utara.

Dan rasa khas dari andaliman yang masuk keluarga citrus ini dimanfaatkan oleh beberapa pebisnis untuk membuat variasi makanan dan minuman yang salah satu bahan bakunya adalah andaliman.

Baca Juga: Menikmati kuliner Toba yang khas lagi unik

Seperti yang dilakoni oleh Marandus Sirait. Ia sendiri sudah sejak 2005 membudidayakan tanaman andaliman. Tanaman yang awalnya tumbuh liar itu sudah bisa ia tanam di areal kebunnya. 

Baca Juga: Mengenal andaliman, merica batak yang punya aroma jeruk

Tapi persoalan datang, saat periode harga komoditas ini tidak stabil. Misalnya saat Natal dan Tahun Baru harga andaliman meroket menjadi Rp 200.000 per kilogram. "Tapi setelah itu, harganya cuma Rp 10.000 saja per kilogram. Karena itu saya membuat inovasi produk dari andaliman supaya harganya bisa stabil," katanya kepada KONTAN (9/2).

Baca Juga: Mempertahankan tradisi minum kopi Robusta di Samosir

Sejak 2018 ia mulai membuat varian produk dari andaliman seperti berbentuk bubuk dan biji kering. Marandus bersama Asosiasi UMKM Tobasa di sekitar Danau Toba, juga membuat produk andaliman menjadi panganan. Salah satunya adalah roti ketawa andaliman. Ini adalah roti khas batak yang mirip onde-onde tapi digoreng. Dan salah satu bumbunya adalah andaliman.

Marandus membanderol kue tersebut sebesar Rp 15.000 berisi 9 potong. Sekali produksi, ia bisa membuat 1.000 roti ketawa andaliman.

Selain roti, ada juga bumbu arsik yang dibanderol Rp 20.000 per bungkus. Lantas ada andaliman kering Rp 20.000 ukuran 15 gr dan andaliman bubuk Rp 20.000. 
Ragam produk makanan dari andaliman tersebut ia pasarkan di toko oleh-oleh di sekitar Danau Toba, seperti Taman Eden, Tobasa, Balige hingga Silanget. Ia juga memasarkan produk ini via media sosial.

Sedangkan Jojor Jery Jeremias Lumban Gaol atau yang akrab disapa Gery justru membuat minuman bandrek andaliman.  Olahan andaliman ini ia kerjakan di tempat tinggalnya di Kecamatan Pollung, Humbang Hasundutan, Sumatra Utara pada 2016.

Awalnya, ia membuat minuman bandrek andaliman ini berbentuk cair. Hanya saja inovasi tersebut kurang diminati pasar. Akhirnya ia belajar dari internet cara membuat produk bandrek andaliman menjadi kemasan bubuk. Hasil inovasi ini ia pasarkan  mulai 2018. "Saya ingin membuat minuman khas dengan memakai andaliman," katanya.

Seluruh proses pembuatan bandrek andaliman yang ia beri label Bandal tersebut dikerjakan dalam skala industri rumah tangga. Bahannya berupa  jahe gajah, jahe merah, andaliman, kayu manis, bunga lawang, gula merah dan rempah lainnya. Untuk ukuran saset ia jual Rp 5.000 per saset. Produknya disukai para pelancong. Dalam sebulan bisa terjual 3.000 saset.        

(Bersambung)




TERBARU

Close [X]
×