kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.765.000   -24.000   -0,86%
  • USD/IDR 17.735   -1,00   -0,01%
  • IDX 6.384   13,14   0,21%
  • KOMPAS100 847   3,74   0,44%
  • LQ45 640   5,20   0,82%
  • ISSI 228   -0,08   -0,03%
  • IDX30 365   3,75   1,04%
  • IDXHIDIV20 452   4,63   1,04%
  • IDX80 97   0,52   0,54%
  • IDXV30 125   0,06   0,05%
  • IDXQ30 118   1,42   1,21%

Sentra gitar Mancasan: Keahlian tutun-temurun (1)


Selasa, 07 Agustus 2012 / 16:45 WIB
ILUSTRASI. Kuartal III tahun ini, dollar AS diperkirakan jadi aset menguntungkan. Ketidakpastian ekonomi dan pemulihan AS yang lebih cepat menjadi faktor pendukung. ./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/05/05/2021.


Reporter: Revi Yohana | Editor: Tri Adi

desa Mancasan, Baki, sudah lama kondang sebagai sentra pembuat gitar. Umumnya, para perajin desa ini mendapat keahlian membuat gitar secara turun-temurun dari orangtuanya. Produk gitar buatan tangan terampil para perajin Desa Mancasan kini sudah melanglang buana ke berbagai daerah.

Gitar termasuk alat musik paling favorit para musisi. Nah, kalau Anda ingin memesan alat musik gitar ini, cobalah mendatangi Desa Mancasan, Kecamatan Baki, Sukaharjo, Jawa Tengah.

Ya, Desa Mancasan memang telah lama dikenal sebagai daerah home industry gitar. Sejak tahun 1975, para penduduk desa tersebut telah mulai merintis usaha pembuatan gitar. Kian lama, kian banyak perajin yang ikut membuat gitar dan lambat laun daerah ini pun kondang sebagai sentra pembuatan gitar.

Giatno, pria berusia 52 tahun yang salah seorang perajin gitar dari Desa Mancasan, berujar, ia memiliki keahlian membuat gitar setelah berguru pada ayahnya yang juga bekas pembuat gitar. Kebanyakan para perajin gitar di desa ini memang belajar keahlian membuat gitar secara turun-temurun atau belajar dari tetangga sekampung.

Kini, hampir seluruh penduduk Desa Mancasan, merupakan perajin gitar. "Kalau ditotal bisa ada sekitar 100 perajin gitar di kawasan ini," ujar Giatno.

Produk-produk yang dihasilkan di sentra ini pun beragam. Awalnya, para perajin ini hanya menghasilkan celo, bas, dan gitar ukuran besar. "Karena dulu musik keroncong berjaya," ujar Giatno. Namun kini, seiring perkembangan zaman, para perajin juga membuat gitar akustik dengan ukuran standar yang mendominasi penjualan.

Giatno sendiri dalam sebulan bisa memproduksi gitar hingga 12 lusin. "Harganya bervariasi, mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 500.000 per gitar," ujar Giatno.

Omzet yang diterimanya pun bervariasi tergantung jumlah pesanan. Namun, biasanya bisa sekitar Rp 15 juta hingga Rp 40 juta per bulan.

Pembuat gitar lain di Mancasan adalah Joko. Ia telah 15 tahun menjadi perajin gitar. Ia memperoleh keahliannya secara otodidak. Dibantu tiga orang karyawan, Joko mampu memproduksi sekitar sembilan lusin gitar per bulan. "Di sini jualnya biasanya per lusin," jelas Joko. Namun, ia tak menutup kemungkinan jika ada yang mau membeli satuan.

Joko menjual gitar mulai dari harga Rp 100.000 untuk gitar kecil atau sering disebut gitar sayur, hingga Rp 850.000 per gitar untuk gitar berkualitas bagus. Omzet Joko berkisar Rp 30 juta hingga Rp 50 juta per bulan.

Para pelanggan Joko kebanyakan toko alat musik di Jawa, Sumatra, hingga Kalimantan. "Pelanggan saya paling banyak dari Medan," ujar Joko.

Menurutnya, toko alat musik yang membeli gitar buatannya bisa menjual 50% lebih tinggi dari harga awal. Ia mengaku, artis lokal juga ada yang memesan di desa tersebut. "Salah satunya Didi Kempot," sebut Joko.

Di sentra ini, para perajin gitar juga banyak macamnya. Tidak perajin ini membuat gitar secara utuh. Ada juga perajin yang khusus membuat bahan dasar gitar yang biasa disebut mutihan. Ada pula perajin yang khusus membentuk badan gitar dan setang sehingga bermodel.

Joko termasuk perajin yang membeli mutihan dari perajin lain, lalu mengubah produk setengah jadi tersebut menjadi gitar yang siap jual.

Setelah mendapat gitar mutihan, Joko biasanya mengamplas, mengecat, memasang senar dan menyetel agar suara yang terdengar bisa merdu. Setelah itu, diberi pelitur melamin agar mengkilap.
(Bersambung)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×