kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.784.000   -30.000   -1,07%
  • USD/IDR 17.344   78,00   0,45%
  • IDX 7.101   28,83   0,41%
  • KOMPAS100 958   2,89   0,30%
  • LQ45 684   1,82   0,27%
  • ISSI 255   0,38   0,15%
  • IDX30 380   1,10   0,29%
  • IDXHIDIV20 465   2,14   0,46%
  • IDX80 107   0,37   0,34%
  • IDXV30 136   1,19   0,88%
  • IDXQ30 121   0,39   0,32%

Sentra mebel: Biar dari kayu bekas tetap berkualitas (1)


Selasa, 23 November 2010 / 11:34 WIB
Sentra mebel: Biar dari kayu bekas tetap berkualitas (1)
ILUSTRASI. Produk PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk


Reporter: Rizki Caturini | Editor: Tri Adi

Jika melewati Jalan Oto Ringroad Cengkareng, Jakarta Barat, di sisi kiri, kita dengan mudah menemukan aktivitas para pekerja membuat aneka mebel. Ada yang sedang memotong atau menghaluskan kayu. Ada juga yang lagi mengecat kayu.

Jika ingin berburu mebel, seperti lemari, kursi, dan meja, dengan harga miring, silakan datang ke sentra mebel berbahan kayu bekas Cengkareng, Jakarta Barat. Anda juga bisa memesan bentuk dan ukuran sesuai selera, termasuk menentukan jenis kayu yang dipakai sebagai bahan dasar mebel. Oh ya, Sentra ini buka 24 jam.

Ya, di pinggir jalan menuju Bandara Soekarno Hatta itu menjadi sentra pembuatan mebel berbahan kayu bekas. Pelbagai jenis mebel, seperti lemari, meja, kursi, atau kitchen set bisa dipesan di sini sesuai selera yang dinginkan konsumen.

Katanya, sentra ini sudah berdiri sejak 15 tahun silam. Kios sekaligus bengkel kerja alias workshop di pusat penjualan mebel berbahan kayu bekas berjumlah sekitar 30 unit. Letak satu kios dengan yang lainnya tidak melulu bersebelahan. Beberapa di antaranya berjarak 20 meter hingga 50 meter.

Musli, pemilik UD Maju Lancar, misalnya, sudah menjalankan usaha pembuatan mebel di sentra tersebut sejak lima tahun lalu. "Saya meneruskan usaha ini dari ayah saya," katanya.

Luas masing-masing kios tidak semua sama. Umumnya, berkisar 5 x 20 meter. Tiap kios membutuhkan lahan yang cukup besar. Sebab, selain berfungsi sebagai workshop dan etalase, kios juga berfungsi sebagai tempat tinggal pemilik dan pekerja.

Biasanya, para pekerja melakukan proses pembuatan mebel, mulai dari bagian tengah hingga depan kios. Bagian belakang digunakan sebagai tempat tinggal. Mebel-mebel yang sudah selesai dikerjakan, lantas ditumpuk di depan dan pinggir-pingir kios yang menyisakan sedikit ruang.

Perabotan rumah tangga hasil produksi sentra mebel Cengkareng terbuat dari kayu-kayu bekas yang berasal dari pabrik atau bongkaran rumah.

Lantaran berbahan dasar kayu bekas, tentu saja harga mebel di sentra tersebut lebih miring ketimbang mebel yang dipajang di toko-toko. Pedagang juga tidak mematok harga mati. Jadi, calon pembeli masih bisa menawar untuk mendapatkan mebel sesuai pesanan mereka.

Lantaran banyak pilihan, kalau harganya masih tidak cocok, konsumen bisa menjajal ke kios lainnya.Munit, pemilik UD Harapan Jaya bilang, dengan banyaknya kios di sentra mebel Cengkareng, harga jual mebel antara kios yang satu dengan lainnya sangat bersaing.

Walaupun begitu, pemilik kios tidak lantas mengorbankan kualitas mebel yang mereka bikin demi menyedot pembeli. "Malah, kualitas bahan baku yang kami miliki lebih baik daripada beberapa merek mebel yang cukup dikenal di masyarakat," ujar Munit setengah berpromosi.

Sentra mebel berbahan kayu bekas Cengkareng tidak mengenal hari libur. Pedagang di sini membuka kiosnya selama 24 jam penuh. Para pekerjanya diupah dengan sistem borongan yang terkadang bekerja hingga larut malam. "Ada beberapa pekerja yang melakukan tugas mengampelas kayu mendapatkan gaji sebesar Rp 500.000 per bulan," kata Munit.

Demi menjaga keamanan di sentra tersebut, para pedagang membayar iuran sebesar Rp 20.000 kepada pengurus rukun tetangga (RT) setempat. "Tapi, tidak rutin tiap bulan," ujar Munit, yang baru membuka usaha di sentra mebel Cengkareng selama setahun.

(Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×