kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.819.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Sentra Mebel Jepara: Krisis pasokan kayu (2)


Senin, 15 Oktober 2012 / 18:35 WIB
ILUSTRASI. BP Jamsostek menjamin verifikasi data penerima bantuan subsidi upah (BSU) dilakukan dengan hati-hati.


Reporter: Marantina | Editor: Havid Vebri

Sejak tahun 1970, Desa Senenan menjadi sentra mebel ukir di Kabupaten Jepara. Hampir semua warga desa ini, khususnya laki-laki memiliki keterampilan mengukir.
Keahlian itu mereka dapat secara turun-temurun dari para orangtua. Selain diperoleh secara turun-temurun, ada juga yang mendapatkan keahlian mengukir secara otodidak.

Contohnya, Purwanto, pemilik toko Oval Jati di Senenan. Ia sudah bisa mengukir sejak masih sekolah dasar (SD) dan belajar secara otodidak. Bahkan, karena sibuk dengan pekerjaan mengukir mebel, ia sampai tidak bisa menamatkan SD. "Saat itu, saya bekerja menjadi tukang ukir di sebuah toko mebel," katanya.

Kartono, pemilik Toko Ega Jati, juga sudah mulai belajar mengukir mebel sejak masih duduk di bangku SD. Beda dengan Purwanto, ia belajar mengukir langsung dari sang orangtuan. Kebetulan orangtuanya merupakan seorang perajin mebel di Senenan.

Lantaran ingin membantu orangtuanya membesarkan usaha, ia juga memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya sejak masih SMP. "Sejak keluar sekolah itu saya fokus menjadi perajin mebel," ujarnya.

Selain pemilik, hampir semua karyawan toko di Senenan juga memiliki keterampilan mengukir. Salah satunya, Agung yang menjadi karyawan di toko Mulyo Indah Putra. Ia sudah mulai belajar mengukir sejak masih kecil. Sama dengan Kartono, orangtua Agung juga berprofesi sebagai perajin mebel ukir. "Awalnya, saya biasa melihat orangtua saya mengukir, lalu saya ikut belajar sampai bisa," ujarnya.

Sampai saat ini, sentra mebel di Senenan berkembang cukup pesat. Sayangnya, sejak beberapa tahun terakhir, daerah ini mulai kesulitan bahan baku.  

Menurut Purwanto, Jepara kini tidak lagi memiliki pasokan kayu. Tanaman pohon jati dan mahoni di Jepara sudah habis, karena pada 1990-an marak terjadi penebangan liar.

Saat ini, para perajin mebel ukir mendapatkan pasokan dari sejumlah tempat penimbunan kayu (TPK) yang ada di daerah Jepara. Pasokan kayu di TPK didatangkan dari daerah Blora, Jawa Tengah.

(Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Berita Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×