kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.798.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.819   62,00   0,35%
  • IDX 6.130   -76,16   -1,23%
  • KOMPAS100 809   -11,59   -1,41%
  • LQ45 620   -10,81   -1,71%
  • ISSI 215   -2,62   -1,20%
  • IDX30 354   -6,31   -1,75%
  • IDXHIDIV20 438   -8,62   -1,93%
  • IDX80 93   -1,35   -1,42%
  • IDXV30 121   -2,44   -1,98%
  • IDXQ30 115   -2,13   -1,83%

Sentra seprai Cipadu: Ramai-ramai membuka lapak di dunia maya (3)


Kamis, 20 Oktober 2011 / 13:39 WIB
Drama Korea terbaru Ji Chang Wook dan Kim Ji Won akan tampilkan Minho SHINee sebagai cameo.


Reporter: Fitri Nur Arifenie | Editor: Tri Adi

Perkembangan teknologi informasi menginspirasi sebagian pedagang seprai pasar Cipadu, Tangerang, Banten membuka toko online di dunia maya. Berkat toko online itulah omzet pedagang terdongkrak naik, bahkan omzet online bisa melebihi transaksi di kios.

Sebagian pedagang seprai di pasar Cipadu, Tangerang, Banten lambat laun mulai ikut perkembangan teknologi. Jika dulu pedagang hanya mengandalkan kios berjualan seprai, sejak tahun 2010 sebagian pedagang mulai berjualan di dunia maya.

Mereka memasarkan seprai dengan cara membuka situs web, blog hingga jejaring sosial. Seperti yang dilakukan Erni, pedagang seprai pasar Cipadu yang sudah berjualan seprai secara online sejak tahun 2010 lalu.

Dengan mengusung merek dagang Ratu Collection, Erni memajang foto seprai termasuk detail harganya di website. Selain itu Erni juga menjual seprai itu lewat akun jejaring sosial Facebook.

Berkat penjualan dunia maya itu Erni merasakan adanya kenaikan omzet. "Bahkan ada pelanggan yang mengetahui kami sebagai pedagang online saja," terang Erni yang beromzet Rp 200 juta per bulan dari kios dan juga dari transaksi online.

Dalam mengelola bisnis online, Erni menawarkan kemudahan transaksi. Pembeli cukup memesan seprai dengan cara memilih seprai di situs web atau di akun facebook, setelah itu dilanjutkan dengan mentransfer uang sesuai pesanan. "Pembeli tak harus datang ke toko," katanya.

Oleh Erni, pesanan itu dikirim ke alamat pemesan lewat jasa pengiriman barang. Biaya kirim dibebankan kepada pemesan.

Selain Erni, ada Ferina pemilik toko seprai Flower Bordier di Pasar Cipadu yang ikut berjualan online. Sedikit berbeda dari Erni, Ferina lebih berfokus menjual seprai lewat blog ketimbang lewat Facebook atau situs jejaring sosial lainnya.

Sejak membuka lapak seprai lewat blog tahun 2010, omzet Ferina naik. Kini omzetnya mencapai Rp 90 juta, sekitar Rp 50 juta berasal dari transaksi online. "Penjualan lewat internet justru lebih ramai ketimbang toko," jelas Ferina.

Namun untuk mendapatkan pembeli di dunia maya itu tidaklah mudah. Butuh kepercayaan dan kejujuran antara penjual dan pembeli.

Beruntunglah Ferina karena tak pernah menerima komplain dari pelanggan. Ia mengaku selalu jujur dan menepati janji dalam bertransaksi. "Kalau ada keterlambatan pengiriman barang, kami segera memberitahukan pelanggan," terang Ferina.


Upaya lain Ferina untuk menjaga kepercayaan berdagang secara online itu adalah dengan mencantumkan alamat lengkap toko, alamat e-mail dan nomor telepon yang bisa dihubungi. "Jika semua informasi jelas, konsumen akan percaya," ungkap Ferina.

Berbeda dengan Erni dan Ferina, Azhari salah seorang pemilik kios seprai di pasar Cipadu mengaku enggan buka lapak di dunia maya. Alasan dia, toko yang ia kelola sekarang sudah teramat ramai.

Ia khawatir tak mampu memenuhi pesanan konsumen jika turut membuka lapak di dunia maya. Saat ini saja dia sudah kesulitan memenuhi pesanan. "Jumlah karyawan saya terbatas," terang Azhari.

Ia menambahkan, penjualan seprai di pasar Cipadu saat ini dalam pemulihan setelah terpukul tahun 2010. "Tahun lalu harga bahan baku naik, sehingga laba kami tipis," terang Azhari.


(Selesai)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×