kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Sentra batik Krebet: Tempat berburu batik kayu (1)


Selasa, 11 September 2012 / 13:25 WIB
Sentra batik Krebet: Tempat berburu batik kayu (1)

Reporter: Fahriyadi | Editor: Tri Adi

Bila Anda tengah berwisata ke Yogyakarta, tak ada salahnya berkunjung ke Desa Krebet, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul. Di sana, ada 50 sanggar yang menjual aneka produk kerajinan batik kayu. Selain dari dalam negeri, pelanggan batik kayu Krebet juga banyak datang dari luar negeri.

Selama ini, Yogyakarta terkenal sebagai salah satu daerah penghasil kerajinan batik di Indonesia. Selain kain atau busana batik, Yogyakarta juga merupakan daerah penghasil kerajinan batik kayu.

Di Kota Pelajar ini, sentra kerajinan batik kayu bisa Anda temukan di Desa Krebet, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul. Lokasinya berada 20 kilometer (km) sebelah barat daya Kota Yogyakarta yang dekat kawasan wisata Goa Selarong.

Untuk mengakses Desa Krebet ini tidak terlalu sulit. Hanya saja, tidak ada angkutan umum yang menjangkau desa ini. Pilihannya, bila tidak menggunakan kendaraan pribadi, Anda bisa menyewa jasa ojek sepeda motor yang banyak terdapat di Yogyakarta.

Di desa ini terdapat 50 sanggar yang menjual aneka produk kerajinan batik kayu. Beberapa diantaranya adalah topeng kayu, tempat perhiasan, sandal, wayang orang, miniatur binatang, dan pernak-pernik lainnya.

Semua kerajinan itu terbuat dari kayu dan diberi motif batik. Sebagai desa wisata, di Krebet sendiri sudah disediakan fasilitas home stay bagi yang ingin menginap dan merasakan atmosfer pedesaan yang jauh dari hiruk pikuk kota.

Selain itu, Anda juga bisa belajar membatik wayang di atas media kayu. Saat KONTAN menyambangi desa ini akhir April lalu, suasana desa tampak hening dan sepi pengunjung. Hanya tampak aktivitas para perajin di sanggar-sanggar yang berada persis di pinggir jalan desa.

Agus Jati Kumara, pengelola Sanggar Punokawan di desa ini bilang, sepinya sanggar dari pembeli tidak merefleksikan keadaan sesungguhnya. Ia bilang, justru tren penjualan batik kayu kini mulai meningkat.

Mereka memang tidak begitu mengandalkan penjualan retail di sanggar. Selama ini, penjualan lebih mengandalkan pesanan yang di dominasi konsumen dari luar kota, seperti Jakarta dan Sumatera.

Dengan harga produk mulai Rp 2.500-Rp 3 juta per pieces, setiap bulan sanggar ini bisa meraup omzet sekitar Rp 40 juta. Omzet tersebut diakuinya cukup stabil. "Untuk laba usaha, kami mengutip sekitar 25% dari omzet," kata Agus.

Hal serupa diungkapkan Tatik Nur Hayati, Manajer Operasional Sanggar Peni. Menurutnya, kerajinan batik kayu produksi Krebet masih cukup bergairah. Dalam sebulan, sanggarnya bisa mendistrubsikan hingga ribuan produk, baik di pasar lokal maupun ekspor.

Harga jual produk di sanggar ini bervariasi mulai dari Rp 3.000-Rp 8 juta. Dengan harga tersebut, ia mengaku omzet sanggarnya bisa mencapai Rp 80 juta per bulan. Sayang, Tatik tak menyebut laba bersihnya. "Yang jelas potensi usaha ini sangat luar biasa," katanya.

Berkat kerajinan batik kayu, kata dia, Desa Krebet terkenal hingga ke luar negeri. Berkat kerajinan itu pula, warga desa kini memiliki pekerjaaan sebagai perajin batik kayu. "Dulunya banyak warga desa yang menganggur," katanya.

(Bersambung)




TERBARU

×