kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45811,59   9,89   1.23%
  • EMAS1.054.000 0,57%
  • RD.SAHAM 0.85%
  • RD.CAMPURAN 0.40%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.10%

Start up berkebun justru semakin subur di masa pandemi


Sabtu, 25 Juli 2020 / 09:45 WIB
Start up berkebun justru semakin subur di masa pandemi

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Berkebun menjadi salah satu kegiatan yang banyak orang gemari, selain bersepeda, selama pandemi. Ini terlihat dari lonjakan permintaan produk untuk berkebun dari beberapa startup layanan itu.

Misalnya, Ayo Nandur.  Startup yang beroperasi mulai Maret 2017 ini melayani penjualan paket berkebun. Isinya, selain sejumlah tanaman dan perangkat untuk menanam, juga cara-cara berkebun.

Menurut M. Arif  Rohman  Hakim, pendiri Ayo Nandur, selama pandemi virus corona baru, startup-nya mengalami kenaikan penjualan 30% hingga 50% dari bulan biasanya. "Mulai pertengahan April sampai saat ini, permintaan naik. Biasanya sebulan kami ada 300 permintaan, kini bisa sampai 500 pesanan," katanya kepada KONTAN.

Baca Juga: Mari mulai berkebun di areal rumah selama pandemi

Kegiatan berkebun

Ayo Nandur menyediakan paket menanam bernama Kebun Cilik. Isinya, bibit, media tanam, serta panduannya, dengan harga mulai Rp 15.000 saja. Mereka memasarkan produknya via online di marketplace serta 15 agen yang menjadi reseller. Jangkauan pasarnya tersebar di Jakarta, Bandung, Semarang, Tegal, dan Jepara.

Baca Juga: Kemenperin kampanyekan IKM masuk platform e-commerce

Sejatinya, Ayo Nandur punya program kelas menanam. Tapi, di masa pandemi layanan tersebut mereka hentikan. Sebagai gantinya, mulai Agustus nanti, Ayo Nandur akan menggelar kelas berkebun secara online. Tarifnya sekitar Rp 50.000 sampai Rp 100.000 untuk dua sampai tiga jenis bibit tanaman. 

Tak hanya itu, Ayo Nandur juga sedang mengembangkan paket pertanian hidroponik. Namun, Arif menyebutkan, paket hidroponik masih dalam tahap riset guna mengetahui, apa saja yang konsumen butuhkan termasuk dari sisi biayanya.

Startup lain yang bermain di sektor pertanian ialah Neurafarm. Mereka memiliki aplikasi pertanian dengan nama Dr Tania. Ini aplikasi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mengidentifikasi kondisi tanaman. 

Chief Executive Officer Neurafarm Febi Agil Ifdillah berharap, aplikasi yang baru berjalan sebulan terakhir tersebut bisa mendapat respons positif di tengah maraknya hobi berkebun.  Untuk itu, Neurafarm menyiapkan paket pemula untuk berkebun, dengan tarif mulai dari  Rp 40.0000 sampai Rp 120.000 per paket. 

Bibit tanaman yang Neurafarm jajakan adalah sayuran hingga tanaman herbal. "Paket kami isinya bibit, media tanaman, dan polibag. Khusus untuk paket Rp 75.000 sampai Rp 120.000 mendapat gratis akses aplikasi Dr. Tania selama sebulan," jelas Febi.

Melalui Dr. Tania, Febi menuturkan, pengguna akan memperoleh panduan menanam lengkap serta bisa berkonsultasi via chat dengan ahli pertanian yang bergabung dengan Dr. Tania. Mulai Juli sampai September, Neurafarm menggandeng  Lindungihutan.com untuk penghijauan galian bekas hutan. Hasilnya, sudah ada  30 pesanan yang masuk dan bisa terus bertambah. 



TERBARU

[X]
×