kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45784,56   -4,98   -0.63%
  • EMAS937.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.36%
  • RD.CAMPURAN -0.47%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Start up pengantaran hasil laut kini mulai andalkan segmen ritel


Sabtu, 06 Juni 2020 / 10:10 WIB
Start up pengantaran hasil laut kini mulai andalkan segmen ritel

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pandemi Covid-19 membuat hampir semua bisnis sangat bergantung kepada layanan digital. Termasuk juga startup yang melayani bisnis pengantaran hasil laut.

Salah satu pemain yang terlibat di bisnis tersebut adalah Indofishery. Selama masa pandemi, startup layanan hasil laut ini mengalami lonjakan permintaan tiga sampai lima kali lipat dari periode biasa. Malah, usaha rintisan itu sempat menutup layanan pemesanan selama lima hari karena lonjakan permintaan di luar kemampuan mereka.

Abdul Khamid, Chief Executive Officer (CEO) Indofishery, mengatakan, ia memajukan operasional Indofishery lebih cepat, menjadi Maret 2020 karena lonjakan permintaan yang datang. Bahkan, untuk tetap bisa melayani permintaan, startup yang baru melayani area Kota Semarang ini untuk sementara menunda terlebih dahulu rencana ekspansi mereka ke kota lain. 

"Sebenarnya, kami akan ekspansi ke pasar ritel di Tegal, Purwokerto, Magelang, dan Yogyakarta, tapi tertunda karena pandemi. Meski begitu, kami terus riset kota yang bakal jadi tujuan ekspansi bisnis," kata Abdul kepada KONTAN.

Maklum, saban minggu rata-rata Indofishery mampu mengirim antara dua hingga ton produk hasil laut. Catatan saja, Indofishery sudah menggaet sekitar 1.300 pengguna di level ritel.

Memasuki era kenormalan baru, Indofishery juga mulai berbenah. Menurut Abdul, di masa kenormalan baru tentu bakal muncul banyak pesaing di layanan yang sejenis. Untuk itu, Indofishery akan memperbaiki proses pengiriman tujuannya supaya produk hasil laut bisa tiba ke tangan konsumen dengan kondisi masih segar. Di samping, juga gencar melakukan pemasaran.

Sayang, klien segmen korporat tidak sebagus ritel. Abdul menyebutkan, selama penerapan PSBB yang memaksa banyak bisnis hotel, tempat wisata, dan restoran tutup, membuat permintaan hasil laut dari Indofishery ke sektor tersebut turun tajam. Padahal biasanya, startup ini bisa mengirim lima hingga tujuh ton hasil laut per bulan. Kini, mereka cuma memasok empat ton sebulan.

Kalau Indofishery masih bisa merasakan kenaikan permintaan dari segmen ritel, pemain lainnya, Nalayan.id justru mengalami hal  yang sebaliknya.

Maulida Ranintyari, Co-Founder dan CEO Nalayan.id, menyatakan, selama pandemi Covid-19 pihaknya mengalami penurunan penjualan hingga 60% dari periode biasa. Soalnya, kebanyakan klien berasal dari perusahaan bidang hotel, restoran, dan kafe (horeka). "Dengan bermitra dengan horeka, memang mengkhawatirkan, tapi kami melihat sisi positifnya," ujar Maulida kepada KONTAN.

Untuk mengakalinya, Nalayan.id mulai membidik pasar ritel dan membuat keagenan untuk wilayah Bandung dan Jabodetabek. Hasilnya, ada sebanyak 200 transaksi yang terjadi selama Mei lalu dari 500 konsumen yang mereka catat.



TERBARU

[X]
×