kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45936,49   -8,95   -0.95%
  • EMAS1.027.000 -0,19%
  • RD.SAHAM -0.04%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Startup Banyak Melakukan PHK, Ini Sebabnya


Sabtu, 10 Desember 2022 / 17:18 WIB
Startup Banyak Melakukan PHK, Ini Sebabnya
ILUSTRASI. Faktor pertama PHK di bisnis startup berasal dari sisi eksternal, seperti kenaikan suku bunga, inflasi dan perang. . KONTAN/Muradi/2016/07/12


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pemutusan hubungan kerja (PHK) mewarnai perusahaan rintisan atau startup akhir-akhir ini. Hal itu tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di global. 

Melihat fenomena ini, Founding Partner AC Ventures Pandu Sjahrir menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan startup melakukan PHK dalam beberapa bulan terakhir. 

Faktor pertama  berasal dari sisi eksternal, seperti kenaikan suku bunga, inflasi dan perang. 

"Ada faktor perang di awal 2022 dan terjadi kenaikan suku bunga untuk penanganan inflasi. Kenaikan suku bunga ini mempengaruhi cost of capital yang terjadi di pasar," kata Pandu dalam keterangan resminya, Selasa (6/12).

Baca Juga: Kitabisa Rayakan Dampak Kebaikan Jutaan Donatur lewat Festival Warga Bantu Warga

Kedua, ekspektasi yang tinggi dari investor setelah melihat siklus bisnis atau business cycle yang terjadi dengan sangat cepat bagi perusahaan, khususnya sektor teknologi ketika momentum pandemi Covid-19.

Ia bilang, bisnis cycle yang amat cepat. Saat tahun 2020 terjadi pandemi, suku bunga menurun, pemerintah membantu dan banyak tumbuh perusahaan teknologi karena banyak shifting dari offline to online.  

Banyak perusahaan teknologi berkembang lebih cepat dari yang diharapkan selama 2020 sampai 2021.

Pandu membantah kalau besarnya gaji talenta digital startup sebagai biang kerok terjadinya badai PHK, karena SDM bukan menjadi pengeluaran terbesar perusahaan startup. 

Besarnya gaji yang diberikan itu adalah sebuah tren untuk mendapat talenta terbaik di beberapa tahun lalu dan tahun ini sudah semakin menurun.

Baca Juga: Asyiknya, 100 Perusahaan Inggris Terapkan 4 Hari Kerja Tanpa Potong Gaji

Menurut Pandu, yang menjadi faktor ketiga terjadinya badai PHK adalah karena beberapa tahun lalu perusahaan banyak melakukan bakar uang sebagai strategi mendapatkan pasar yang besar.

"Anggaran perusahaan terbesar bukan di sumber daya manusia. Banyak perusahaan kini refocus pada bisnis mereka dan mengurangi burning cost; entah itu di marketing cost, business processing cost, semuanya itu dikurangi secara signifikan," lanjutnya.

Tahun depan, ia memperkirakan bentuk startup akan banyak berubah setelah badai PHK yang terjadi saat ini. PHK telah mengajarkan perusahaan untuk kembali pada fokus bisnis mereka dan mengutamakan mengejar profit alih-alih mengejar pasar yang luas (market share).

Baca Juga: Startup Teknologi Disebut Harus Serius Terapkan GCG Biar Tak Bangkrut

"Saya optimis pada 2023 karena banyak reshaping dari sisi industri. Mungkin akan ada yang merger, konsolidasi, dan pemenang dari ini akan jadi ultimate winner dalam 5-10 tahun. Perusahaan startup baru kemungkinan kualitas di 2023 bisa sangat bagus karena kualitas founder sudah berpikir bukan market share tapi cari solusi yang pas dengan capital yang tidak terlalu besar," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×