kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45987,90   -2,03   -0.21%
  • EMAS1.142.000 0,35%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Startup DayaTani Dapatkan Pendanaan Putaran Awal US$ 2,3 Juta


Selasa, 16 Januari 2024 / 20:36 WIB
Startup DayaTani Dapatkan Pendanaan Putaran Awal US$ 2,3 Juta
ILUSTRASI. Seorang operator mengoperasikan mesin panen padi kombinasi atau combine harvester di area persawahan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Senin (26/4/2021). Petani di wilayah itu mulai memanfaatkan teknologi pertanian dalam bidang mesin panen untuk menghemat waktu dan biaya. ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin/hp.


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -   JAKARTA. Startup agritech DayaTani mengumumkan pendanaan sebesar Rp 35,7 miliar (US$ 2,3 juta) dalam putaran awal (seed round financing), menandai langkah signifikan dalam transformasi teknologi pertanian di Indonesia. 

Partisipasi dalam putaran ini melibatkan modal ventura terkemuka seperti KBI Investment dan MDI Ventures, didukung oleh Ascent Venture Group sebagai pemimpin putaran, bersama dengan Northstar Ventures, BRI Ventures, dan Gentree Fund. 

Pendanaan ini mencerminkan optimisme yang kembali muncul dalam industri agritech di Indonesia, serta keyakinan investor terhadap DayaTani dalam mengubah pertanian Indonesia melalui teknologi dan dampak sosial yang signifikan.

"DayaTani didirikan dengan visi untuk meningkatkan hasil petani Indonesia melalui teknologi dan menciptakan dampak sosial yang signifikan," kata Deryl Lu, Co-founder DayaTani dalam siaran pers, Selasa (16/1). 

Baca Juga: Semaai AgriTech Indonesia Raih Pendaanaan Pra-Seri A USD 4,7 Juta

"Investasi ini menunjukkan kepercayaan terhadap model bisnis dan teknologi kami. Kami berkomitmen untuk meningkatkan petani Indonesia melalui teknologi inovatif dan kemitraan," sambungnya.

Sektor pertanian Indonesia, yang menyumbang sekitar 13% terhadap PDB dan menyerap hampir 29% dari angkatan kerja, mengalami perubahan signifikan dengan pengenalan teknologi digital. 

Keamanan pangan tetap menjadi tujuan penting bagi Indonesia, dan meskipun telah ada kemajuan dalam produksi pangan pokok sejak UU Pangan 2012, tantangan masih ada terutama dalam keterjangkauan dan kualitas gizi pangan. Krisis COVID-19 telah mengekspos kerentanan dalam sistem agri-pangan, namun juga menyajikan peluang untuk transformasi.

Baca Juga: Dana Seret, Startup Kian Tidak Leluasa Bakar Duit

Saat ini, DayaTani mengoperasikan beberapa situs penelitian dan pengembangan pertanian di pulau Jawa untuk tanaman hortikultura dan tanaman pangan seperti padi, jagung, cabai, tomat, kentang, kol, dan bawang merah. 

Penelitian dan pengembangan ini membantu membangun SOP praktik terbaik yang berfungsi untuk wilayah tersebut, yang kemudian dibagikan kepada petani dalam model bisnis bagi hasil yang didukung oleh dukungan agronomi intensif, pembiayaan input berkualitas tinggi, dan alat digital untuk mengukur dan mengendalikan tindakan di ladang.

Dalam hal transformasi digital, pertanian di Indonesia masih tergolong sebagai salah satu sektor yang paling sedikit terdigitalisasi, meninggalkan banyak ruang untuk peningkatan produktivitas dan peluang pengembangan. 

Ankit Gupta, Co-founder DayaTani, menjelaskan bahwa DayaTani sedang membangun agen agronom semi-bionik yang memiliki akses ke semua alat dan teknologi relevan untuk menyelesaikan masalah pertanian seorang petani. 

Baca Juga: Kurangi Saham Alibaba, Jack Ma Resmikan Investasi Baru Perusahaan Makanan Siap Saji

Versi pertama chatbot LLM agri mereka sudah aktif di aplikasi agen lapangan dan WhatsApp untuk para petani. 

"Sekarang, agronom dan petani dapat bertanya tentang pertanyaan spesifik pertanian kepada bot dalam bahasa daerah mereka melalui teks atau ucapan. Ini juga mendukung kemampuan multimodal seperti pengunggahan gambar untuk mendiagnosis masalah tanaman dengan presisi tinggi dan menghasilkan rekomendasi kustom," tambahnya.

DayaTani berencana untuk menginstal lebih dari 100 perangkat IoT (Internet of Things) di seluruh Jawa dalam waktu satu tahun, menciptakan jaringan stasiun cuaca. Jaringan ini akan memberikan informasi cuaca yang tepat dan spesifik lokasi serta peringatan cuaca yang lebih relevan bagi para petani. 

Perusahaan sedang bekerja untuk membangun perangkat keras dan perangkat lunak yang diperlukan untuk jaringan ini, termasuk mengembangkan aplikasi Agronomi mereka. 

Mereka juga fokus pada menciptakan model ilmu data yang dapat memberikan rekomendasi praktis bagi petani, seperti saran pupuk yang lebih akurat berdasarkan kondisi dunia nyata daripada aturan dasar. 

Baca Juga: Dana Seret, Startup Kian Tidak Leluasa Bakar Duit

Pendekatan ini, dengan menggunakan data dunia nyata, bertujuan untuk terus meningkatkan teknologi ini dan pada akhirnya meningkatkan produktivitas petani kecil di Asia Tenggara.

DayaTani telah menjalin kemitraan dengan pemain industri utama untuk mendukung petani Indonesia. Dengan bantuan dari Microsoft Singapura, mereka mengembangkan chatbot LLM yang disesuaikan untuk kebutuhan pertanian. 

Perusahaan juga bekerja sama dengan perusahaan agritech terkemuka dalam penjualan input, menawarkan sumber daya berkualitas tinggi dengan harga yang kompetitif kepada petani DayaTani. Selain itu, perusahaan-perusahaan terkemuka dalam perdagangan output terlibat dalam pembelian hasil hortikultura dari jaringan petani DayaTani, memastikan pasar yang dapat diandalkan untuk produk-produk mereka.
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×