Reporter: Marantina | Editor: Dupla Kartini
Belajar memang tidak mengenal batasan umur. Begitulah prinsip yang selama ini dipegang Bayu Reksa Nugraha, pemilik lembaga pendidikan Ganesha Group.
Sejatinya, bisnis lembaga pendidikan ini dirintis oleh ayahnya sejak sekitar 20 tahun silam di Samarinda, Kalimantan Timur. Baru sejak 2008, Bayu dipercaya mengelola Ganesha Group dengan jabatan direktur utama.
Di tangan Bayu, Ganesha Group kian terkenal sebagai lembaga pendidikan yang kredible. Dalam mengelola Ganesha, Bayu juga tidak lagi menjadikan lembaga pendidikan ini hanya sebagai bisnis keluarga. “Ketika ayah saya mempercayakan kepemimpinan pada saya, dia tahu bahwa saya bisa mengelola Ganesha meski tanpa embel-embel kepemilikan keluarga,” tandasnya.
Berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya, Ganesha mengajarkan berbagai keterampilan. Selain bimbingan belajar, Ganesha juga membuka kelas keterampilan mengemudi, komputer, dan internet. Makanya, murid Ganesha bukan saja anak usia sekolahan, tapi juga orang dewasa yang mau mengembangkan diri.
Sejak 2009 lalu, Bayu mengembangkan jaringan bisnis Ganesha dengan menawarkan peluang kemitraan. Hingga kini Ganesha sudah memiliki total lima gerai di Samarinda, Tasikmalaya, dan Bandung. "Tiga cabang merupakan milik mitra,” ungkapnya.
Tidak puas membesarkan bisnis keluarga, Bayu memulai bisnis baru yang diberi nama Reksa Group. Ini merupakan usaha pribadi yang dijadikan wadah bereksperimen bagi Bayu. “Jadi, kalau saya tertarik bikin bisnis baru, Reksa Group inilah tempatnya,” tuturnya.
Reksa Group dimulai dengan bisnis makanan Banana Crispy pada 2006. Dengan modal hanya Rp 81.000, Bayu sukses mengembangkan Banana Crispy dalam waktu setahun.
Tidak heran jika ia terpilih menjadi salah satu Wirausahan Muda Mandiri pada 2007. Padahal, saat itu kompetitornya kebanyakan pengusaha dengan skala nasional. “Saya juga kaget waktu terpilih karena usaha saya baru skala Samarinda,” kata pria 26 tahun ini.
Penghargaan itu terus memacunya untuk mengembangkan Reksa Group dalam skala lebih besar lagi. Terbukti, selain di bisnis kuliner, Reksa Group juga merambah berbagai bidang usaha, seperti kontraktor, supplier, distributor dan baby shop.
Dalam sebulan, rata-rata omzet yang didapat Bayu mencapai Rp 300 juta. Meski Reksa Group memiliki banyak lini usaha, Bayu mengaku 80% waktunya didedikasikan untuk memajukan Ganesha Group. “Ini bisnis formal yang harus terus dikaji secara mendalam,” ucap dia.
Menurut Bayu, bisnis pendidikan mengandung tanggung jawab moral pada masyarakat. Maka itu, ia sellau berusaha terjun langsung untuk memastikan murid-murid mendapatkan pelayanan prima. Sementara, Reksa Group bisa didelegasikan pada orang-orang kepercayaannya. (Bersambung)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













