kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.709.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.936   -76,00   -0,42%
  • IDX 6.044   157,52   2,68%
  • KOMPAS100 803   27,79   3,58%
  • LQ45 606   18,82   3,21%
  • ISSI 207   6,38   3,17%
  • IDX30 344   10,01   2,99%
  • IDXHIDIV20 425   10,62   2,56%
  • IDX80 91   3,06   3,49%
  • IDXV30 114   3,78   3,43%
  • IDXQ30 111   2,85   2,64%

Surya mengebor laba dari bisnis pengeboran air (1)


Kamis, 02 Februari 2012 / 14:35 WIB
ILUSTRASI. Promo BreadTalk periode 15-19 Februari 2021 menawarkan slice cake mulai dari harga Rp 16.000. Dok: Instagram BreadTalk


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Tri Adi

Bermula dari usaha warisan orang tuanya, kini Surya Irawan sukses menekuni bisnis pengeboran air tanah. Omzetnya mencapai Rp 400 juta per bulan dari bisnis jasa pengeboran air tanah. Konsumennya tersebar di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Surya Irawan masih terbilang muda saat menerima warisan usaha pengeboran air tanah atau sumur bor dari orang tuanya. Saat itu usianya baru menginjak 27 tahun. Kendati usianya masih muda, ia bukan orang awam di bidang ini. "Sejak kecil saya sudah terbiasa membantu kedua orang tua saya menjalankan usaha ini," kata Surya.

Usaha pengeboran air jatuh ke tangannya selepas orang tuanya menghadap Sang Pencipta di tahun 2000. Sejak itu, ia mulai mengelola sendiri usaha ini di bawah bendera

PT Menara Asia Global (MAG). Surya mendirikan usaha tersebut bersama sang orang tua pada tahun 1999. Orang tuanya sendiri merintis usaha ini sejak 1973.

Ketika melanjutkan usaha ini, omzet usaha kala itu baru Rp 70 juta sebulan dengan aset sekitar Rp 100 juta. Untungnya, sejak muda, Surya sudah terlibat dalam bisnis ini, sehingga ia tahu seluk-beluk bisnis pengeboran air.

Kendati tinggal meneruskan bisnis warisan, tidak mudah bagi Surya untuk mengelola dan membesarkan bisnis pengeboran air tanah. Selain kompetitor banyak, risiko bisnis ini juga cukup besar. Misalnya, kalau bor terjepit di dalam tanah dan patah, ia harus menanggung kerugian hingga Rp 30 juta.

Sisi lain, ia juga dituntut bekerja cepat karena konsumen tidak menolerir keterlambatan. Soalnya, kebutuhan akan air bersih tidak bisa ditawar-tawar. "Tapi saya pantang menyerah, berbekal pengalaman dan pendidikan di bidang teknik saya terus berusaha mengembangkan perusahaan ini," ujar Surya.

Maka ketika mulai meneruskan usaha warisan ini, Surya pun berupaya keras mendidik anak buahnya untuk memperbaiki teknik pengeboran. Selain itu, ia juga fokus membangun jaringan untuk koneksi pemasaran.

Ia pun getol menawarkan jasanya kepada pengembang properti dan para pemilik pabrik yang membutuhkan air. Tidak hanya menawarkan solusi air bersih, Surya juga mematok tarif yang cukup kompetitif.

Ia membanderol tarif berkisar Rp 200.000 hingga Rp 400.000 per meter dengan diameter antara 4 inci - 6 inci. Tarif tersebut menyesuaikan dengan debit air yang diinginkan klien.

Selain itu, Surya juga rajin memasarkan jasanya dengan memanfaatkan media online. "Saya membuat website yang mencantumkan informasi soal perusahaan," ujarnya.

Semua upayanya itu tidak sia-sia. Sekarang dalam sepekan, Surya mengaku minimal bisa mendapat empat hingga lima order pengeboran. Rata-rata kedalaman sumur yang dibor antara 60 meter sampai 100 meter.

Menurut Surya, permintaan konsumen terhadap jasa pengeboran terus meningkat. Bahkan, sejak September 2011, permintaan pengeboran melonjak hingga 50%. Saking banyaknya permintaan, ia tak bisa melayani semuanya karena keterbatasan tenaga. "Saya akhirnya menyerahkan proyek itu ke beberapa kompetitor saya," jelasnya.

Kini setelah 11 tahun mengelola bisnis itu, Surya bisa mengerek omzet hingga menjadi Rp 300 juta hingga Rp 400 juta dalam sebulan, dengan laba bersih 25% dari omzet. Aset perusahaan juga naik menjadi Rp 1,2 miliar.

(Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×