kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS1.004.000 1,31%

Karyawan Startup Bayak di-PHK: Citra Perusahaan Jadi Tolok Ukur Investor Suntik Dana


Rabu, 01 Juni 2022 / 19:36 WIB
Karyawan Startup Bayak di-PHK: Citra Perusahaan Jadi Tolok Ukur Investor Suntik Dana
ILUSTRASI. Terkait PHK di Start Up, Investor Diingatkan untuk Menjaga Citra Perusahaan

Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fenomena start up memberhentikan ratusan karyawan yang terjadi belakangan ini, tampaknya mulai mengkhawatirkan. Ini karena investor tidak mau lagi mendanai beberapa start up dan membuat mereka terpaksa PHK karyawan. Ini terjadi di Zenius, JD.id dan beberapa start up lain melakukan PHK massal. Sekitar 15.000 karyawan start up di PHK selama satu bulan terakhir. 

Pengamat dan Praktisi Publikasi dan Perhumasan Gemal A.N. Panggabean mengatakan, investor tidak melulu menilai tentang ‘untung rugi’ saja. Tetapi, investor juga memiliki tolak ukur dari sisi citra perusahaan dan bagaimana start up melakukan edukasi dan publikasi. Start up sering kali mengabaikan citra perusahaan mereka di publik. Seharusnya, saat start up masih punya uang tidak mengabaikan edukasi dan publikasi.

“Saya kira, ini bukan semata-mata soal uang. Investor juga menilai bagaimana citra perusahaan di mata publik, pemerintah dan stakeholder. Citra start up yang PHK karyawan itu tidak berkembang, artinya tidak banyak dikenal orang. Bagaimana mereka bisa meyakinkan investornya dengan nama yang tidak begitu dikenal?” kata Gemal Panggabean dalam keterangannya, Rabu (1/6). 

Dia membeberkan, salah satu penyebabnya karena edukasi dan publikasi seperti pemberitaan positif di media, iklan, medsos dan media sosial yang tidak efektif dan tidak tepat sasaran. 

Baca Juga: PHK di Perusahaan Startup, Ini Kata Modal Ventura

Dia menjelaskan, umumnya, start up yang tidak berkembang dan juga start up baru sulit untuk merebut perhatian publik dan stakeholder sehingga sulit memajukan citra positif perusahaan. Bahkan, lebih parahnya, mereka seakan-akan tidak perduli dan tidak invin mengerti sama sekali dengan edukasi dan publikasi. 

“Saya melakukan riset dan hampir setiap hari bertemu dengan pelaku start up. Mulai dari CEO, PR, Marketing dan lain-lain. Mereka sulit menguasai media berita, media sosial dan lain-lain. Bahkan, di antara mereka ada yang memang tidak mau menguasainya,” katanya yang juga Head of Research dari Duniafintech.com, sebuah situs riset dan berita tentang financial technology. 

Gemal Panggabean menyambung, masalah mereka di pencitraan juga terkendala anggaran yang mereka nilai besar. Padahal, mungkin saja mereka tidak memiliki sumber daya yang mumpuni dalam menaklukkan dunia publikasi dan komunikasi. 

Namun, dia tidak bisa membantah soal anggaran publikasi dan edukasi yang mahal. Banyak pelaku start up yang tidak setuju dengan hal ini. Padahal, jika dilakukan dengan tepat sasaran, maka edukasi dan publikasi akan berjalan efektif. 

Baca Juga: Banyak PHK di Start Up, Modal Ventura Lebih Selektif Beri Pendanaan Jangka Panjang

“Publikasi dan edukasi memang mahal dan membutuhkan effort yang luar biasa. Tapi, kalau ini tidak dikejar, citra perusahaan ‘gitu-gitu’ saja. Start up membutuhkan tim dan konsultan yang mumpuni untuk komunikasi dan publikasi yang efektif. Tidak apa-apa mahal dan memerlukan ekstra effort, karena hasilnya efektif,” katanya. 

Ini bisa dilakukan dengan menunjuk tim Public Relation dan Digital Marketing yang handal. Pelaku start up juga bisa berkolaborasi dengan konsultan yang memahami bagaimana dampak publikasi dan edukasi dan juga mumpuni dalam menyusun perencanaannya.

Baca Juga: Startup Banyak Lakukan PHK, Apakah Sulit Dapat Pendanaan dari Modal Ventura?

Di sisi lain, ini bukan waktunya bagi pelaku start up untuk pesimis. Gemal Panggabean meyakini bahwa masih banyak investor yang ingin mendanai startup.  “Di kasus ini, investor itu tidak yakin dan bahkan merasa percuma. Tetapi, jika investor melihat start up yang memiliki citra yang baik dan dari sisi keuangan yang ramping dan sehat, investor pasti berkata ‘why not?’. Ya, mereka pasti mau,” katanya. 

Gemal Panggabean juga menilai kurang tepat adanya pernyataan tentang era start up di Indonesia sudah berakhir. Masih banyak orang yang membutuhkan jasa e-commerce, fintech, dan lain-lain. Dia menyarankan, bagaimana perusahaan start up yang sehat perlu lebih fokus untuk meyakinkan dan mempertahankan investornya. Baik dari sisi citra perusahaan dalam melakukan edukasi dan publikasi serta juga hal penting lainnya. 

“Karena kasus PHK massal ini, jangan sampai semua orang memukul rata tentang start up. Masih banyak start up yang sehat dan memiliki citra yang baik. Masih banyak juga investor yang mau mendanai. Ini juga tantangan bagi start up yang sehat dan yang baru muncul untuk lebih meyakinkan investornya, supaya investornya juga terus percaya. Karena hadirnya mereka masih dibutuhkan masyarakat Indonesia,” kata Gemal. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

×