kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45834,58   3,88   0.47%
  • EMAS945.000 0,53%
  • RD.SAHAM -0.46%
  • RD.CAMPURAN -0.09%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Ternyata ada juga sedotan ramah lingkungan dari bahan rumput (1)


Sabtu, 28 Maret 2020 / 10:00 WIB
Ternyata ada juga sedotan ramah lingkungan dari bahan rumput (1)

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID. JAKARTA. Salah satunya adalah inovasi sedotan dari bahan non plastik atau sedotan ramah lingkungan yang dikenal dengan eco straw. Salah satu inovasi sedotan ini diantaranya dibuat dari bahan kertas, stainless steel juga sedotan dari bambu. 

Kini ada inovasi baru yakni sedotan dari bahan rumput. Rumput yang digunakan pun tidak sembarangan, yaitu rumput yang kerap dikenal masyarakat Indonesia dengan nama purun atau biasa digunakan untuk membuat tas dan juga kerajinan tangan.

Pelaku usaha yang memproduksi sedotan dari bahan baku rumput ialah Gaby Faradisa. Gaby mengusung brand Purun Eco Straw. Purun Eco Straw berproduksi di Belitung sejak 2019. Ia melakukan riset sejak 2018.

Baca Juga: Kurangi plastik, Fast Food Indonesia (FAST) bundling paket sedotan stainless

Menurut Gaby ia mendapatkan inspirasi produk sedotan rumput dari Vietnam. Ia melihat ada potensi untuk memproduksi sedotan rumput di Bangka Belitung.

Baca Juga: Pebisnis waralaba mulai peduli kelestarian lingkungan

Prosesnya usai dipanen, rumput dicuci, lalu potong seukuran sedotan, dan dibersihkanpada lapisan halus di batang. Setelah itu direndam dengan air garam. "Kami enggak pakai bahan kimia, semuanya alami. Kami bilas lagi sama air biasa dijemur selama minimal 3 hari di bawah sinar matahari," jelas Gaby.

Karena mengandalkan terik matahari, saat musim panas  Purun Eco Straw mampu memproduksi 10.000 potong sedotan rumput. Namun saat musim hujan hanya sekitar 7.000 buah perhari.

Satu potong sedotan Purun Eco Straw dibandrol Rp 500. Gaby mengemas satu pack sedotan berisi 100 potong dengan harga Rp 50.000. Saat ini pemasaran Purun Eco Straw menjangkau Jakarta, Bali dan Bangka Belitung.

Sedotan rumput purun hanya digunakan sekali pakai, sebab sifat rumput purun menyerap air. "Jadi bisa berjamur kalau dipakai berulang," terangnya.

Saat ini penjualan Purun Eco Straw bisa mencapai 10.000 sampai 20.000 potong per bulan. Ia optimistis penjualan bisa terus meningkat, karena saat ini sudah ada beberapa permintaan yang datang dari luar negeri.

Sebagai gambaran, saat ini Purun Eco Straw Totap mempekerjakan 12 orang di tim produksi. Mayoritas ibu rumah tangga di Belitung. 
Pelaku usaha sedotan rumput yang lain adalah Christopher Alessandro Tansri, Founder Dots Straw. Beda dengan Gaby, Dots Straw jalan Oktober 2019.

Christopher menyebut produksi sedotan rumputDots Straw bekerjasama dengan petani di kawasan Asia Tenggara. Hanya ia tak memperinci dari mana saja.

Bahan baku yang dipakai Dots Straw purun danau atau Lepironia articulata. Sebulan Dots Straw memproduksi 60.000 potong sedotan.
Meski bekerja sama dengan petani mancanegara, produksi sedotan ada di Jakarta.

Dots Straw menjual sedotan rumput ke Bali, Lombok, Jakarta, dan Medan. Peminat terbanyak berasal dari Bali dan Lombok. Satu pack Dots Straw berisi 100 potong sedotan dibandrol Rp 75.000. Penjualan saban bulan sekitar 10 - 20 pak . 

(Bersambung)




TERBARU
Kontan Academy
Excel Master Class: Data Analysis & Visualisation Certified Supply Chain Analyst (CSCA) Batch 10

[X]
×