kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Teuku Dharul Bawadi, dari sopir menjadi produsen kopi ternama


Minggu, 25 Agustus 2019 / 07:00 WIB
Teuku Dharul Bawadi, dari sopir menjadi produsen kopi ternama
ILUSTRASI.

Reporter: Merlinda Riska | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - Menjadi sopir sebuah perusahaan kopi malah mengantarkan Teuku Dharul Bawadi ke tangga kesuksesan. Pria kelahiran Aceh Jaya ini sukses jadi produsen kopi yang produknya sudah menembus pasar ekspor.

Dengan mengibarkan merek Bawadi Coffee, kini dia bisa mengantongi omzet sebulan Rp 400 juta hingga Rp 500 juta. Di bawah bendera UD Bawadi Foods, ia memproduksi kopi dalam bentuk biji dan bubuk berbahan kopi asal Aceh: arabika dan robusta gayo.

Dan sejatinya, Bawadi menjadi sopir, selain untuk biaya hidup, juga guna menghilangkan depresi. Waktu itu, lelaki 30 tahun ini baru rugi ratusan juta rupiah. Uangnya yang dia investasikan di usaha properti yang baru berjalan enam bulan dibawa kabur teman yang jadi mitra bisnis.

Padahal, demi berbisnis properti, ia rela menutup usaha konter ponsel yang sebetulnya sudah banyak mendatangkan untung. "Saya masuk ke bisnis properti dengan modal kurang lebih Rp 200 jutaan. Itu saya dapatkan dari hasil usaha konter HP saya," ungkapnya.

Baca Juga: Kisah Andri Firmansyah, dari ekspor ikan hingga sukses berbisnis batik

Bawadi merintis usaha konter telepon seluler sejak 2004, tak lama setelah tsunami menerjang Aceh. Dia yang kala itu masih duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah atas (SMA) memulai bisnis itu tanpa keluar modal sepeser pun.

Semua ponsel yang jadi barang dagangan, Bawadi ambil dari temannya dan baru membayar setelah produk laku. Dari setiap penjualan HP, ia bisa mendekap untung Rp 200.000. Dalam sehari, dia bisa menjual 10 sampai 15 unit ponsel.

Dari keuntungan itu, Bawadi membeli sebuah komputer yang kemudian ia isi lagu dan gim untuk dijual kembali. Sisanya buat biaya sewa tempat untuk dia jadikan konter HP.

Dua tahun, menjalani usaha itu, Bawadi mendulang untung ratusan juta rupiah yang sebagian buat beli tanah dan mobil. "Setelah itu, saya main ke properti dan kalah," kata penggemar berat game online ini.

Dia tertarik masuk ke bisnis properti lantaran ada teman yang menawarkan. Sebagai anak muda yang baru berusia 19 tahun dan belum punya pengalaman, mendapat tawaran iming-iming untung besar, ia pun menjadi tertarik.




TERBARU

Close [X]
×