Reporter: Fahriyadi, Dea Chadiza Syafina, Hafid Fuad | Editor: Tri Adi
Cara Anda berbusana, mulai dari baju, celana, hingga sepatu, adalah identitas Anda, begitu bunyi tamsil. Bahkan, bagian cara berbusana yang paling bawah, yakni sepatu, merupakan simbol dari status sosial yang mengenakannya.
Kebutuhan untuk menunjukkan "posisi kelas" ini pula ditawarkan oleh industri sepatu. Dengan menciptakan desain eksklusif, para pemilik butik sepatu lokal mencoba menyasar konsumen premium dengan segmentasi yang lebih sempit.
Sepatu pria premium nan eksklusif, menurut Farazandy, Manajer Pemasaran Havehad, akan menjadi tren tahun 2012 nanti. Dengan tren tersebut, maka tidak hanya pabrikan sepatu papan atau sepatu impor saja yang bakal kebanjiran rezeki. Produsen sepatu buatan tangan atau handmade dan home industry juga bakal kebanjiran order.
Havehad adalah salah satu produsen sepatu di Jakarta. Perusahaan ini berdiri pada 2010 lalu. Dengan memproduksi dalam jumlah terbatas, Havehad menawarkan produk sepatu eksklusif bagi pemakainya. "Ini menjadi daya tarik sendiri, karena bisa menjauhkan kesan pasaran," katanya.
Melihat tren sepatu mahal atau premium yang terus berkembang, Havehad pada tahun mendatang akan membuat desain sepatu pria yang lebih mewah dengan harga lebih mahal. Jika saat ini harga sepatu buatan Havehad berkisar antara
Rp 400.000 sampai Rp 600.000 per pasang, produk sepatu premium Havehad akan dijual dengan harga di atas Rp 900.000 per pasang.
Harga tersebut menurut Farazandy sangat pantas. Sebab, selain memiliki desain berkelas dan eksklusif, bahan baku yang digunakan juga kualitas nomor satu. "Biaya produksi tentunya lebih mahal tapi pelanggan pasti puas," klaimnya.
Saat ini Havehad fokus pada produksi sepatu sneakers yang menggabungkan desain kasual dan formal. Dalam pemasarannya, Havehad banyak menggunakan media internet untuk menggaet pelanggan.
Menurut Faranzandy, membuat desain sepatu eksklusif namun tetap laku tidaklah mudah. Sebab, selain harus gaya, sisi kenyamanan dan keamanan si pemakai tetap harus diperhatikan.
Oleh karena itu, agar produk sepatu mahal ini tetap bisa diterima pasar, Havehad meriset pasar sebelum membuat desain. Ini untuk mengetahui desain dan model terbaru yang disukai konsumen. "Kreativitas dalam desain harus dibarengi dengan kreativitas mengolah pasar," katanya.
Faranzandy mengklaim, tak hanya eksekutif muda yang senang dengan desain sepatu Havehad, namun juga mahasiswa. Dari hasil penjualan sepatu pria ini, Havehad mengaku bisa menjual sekitar 60 pasang sepatu dengan omzet lebih dari Rp 30 juta per bulan.
Selain Havehad, produsen sepatu lokal yang menawarkan desain eksklusif adalah Seba Shoes milik Sebastianus Reza. Mulai menjadi desainer sepatu pada 2004, Seba membuka gerai sepatu sendiri pada 2008. Kini, gerai sepatu Seba sudah tersebar di Jakarta, Bandung, Pekanbaru, Semarang, Yogyakarta, Lampung, hingga Makassar.
Seperti juga Havehad, Seba juga fokus pada produksi sepatu pria, apalagi saat usaha ini berdiri, masih jarang produk sepatu pria dengan desain yang bagus. Saat ini konsumen Seba Shoes mulai dari usia 13 tahun hingga eksekutif muda.
Ricky Budiono, Store Manager Seba Shoes mengatakan, sepatu yang fashionable baik dari model, desain, dan kualitas bahan baku, banyak dicari pelanggan. Walau cara pembuatannya tak serumit sepatu wanita, namun keunikan model dan kenyamanan saat dipakai tetap yang utama. "Kami menyebutnya urban shoes," ujar Ricky.
Untuk bisa menghasilkan sepatu berkualitas tinggi, pemilihan bahan, pembuatan pola, perakitan hingga pemasangan sol harus benar-benar diperhatikan. Selain tahapan itu, kontrol kualitas menjadi proses tersulit karena diperlukan kecermatan setiap detail.
Konsumen biasanya tidak akan menolerir kesalahan sedikit saja dari sepatu mahal ini, apakah itu salah jahit atau lem yang tidak rapi. Yang pasti, konsumen tak boleh kecewa. "Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah sol sepatu yang tidak bisa melekat dengan sempurna," jelas Ricky.
M Rezki, General Manager Seba Shoes menambahkan, tokonya banyak mengadopsi desain luar negeri untuk bisa bersaing. Dengan segmen menengah ke atas, Seba menjual produknya seharga antara Rp 450.000 sampai Rp 950.000 per pasang. Dengan permintaan terbanyak di harga Rp 550.000 per pasang, Seba mampu memperoleh omzet hingga sebesar Rp 200 juta per bulan.
Agar konsumen tidak jenuh, Seba dalam sebulan setidaknya mampu merilis 20 desain sepatu baru. Namun dalam perkembangannya, hanya akan ada 10 hingga 15 desain yang diproduksi.
Selain itu, Seba juga melayani permintaan khusus sesuai desain konsumen. Tentu saja, akan ada tambahan biaya. Rezki mengaku, ada sekitar 10 permintaan sepatu khusus tiap bulan.
Tidak hanya produsen sepatu rumahan saja yang terus berekspansi ke bisnis sepatu premium. Yongki Komaladi, maestro sepatu Indonesia dengan merek sepatu sesuai namanya, juga terus merambah bisnis sepatu premium baik untuk pria maupun wanita.
Untuk kelas sepatu premium, Yongki membanderol dengan harga mulai dari Rp 300.000 sampai dengan Rp 600.000 per pasang. "Dengan harga relatif terjangkau, saya ingin menghadirkan sepatu kelas premium dengan tampilan atraktif," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)