kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45961,32   -9,47   -0.98%
  • EMAS929.000 0,11%
  • RD.SAHAM -0.21%
  • RD.CAMPURAN -0.01%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.05%

Ula raih pendanaan Seri B senilai US$ 87 juta yang dipimpin Prosus Ventures, Tencent


Senin, 04 Oktober 2021 / 10:33 WIB
Ula raih pendanaan Seri B senilai US$ 87 juta yang dipimpin Prosus Ventures, Tencent
ILUSTRASI. Dari kiri: Co-Founder dan COO Ula Riky Tenggara, Co-Founder dan CCO Ula Derry Sakti, Co-Founder dan CEO Ula Nipun Mehra, serta Co-Founder dan CTO Ula Alan Wong.

Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ula, sebuah perusahaan rintisan B2B e-commerce marketplace terkemuka di Indonesia, telah mengumpulkan pendanaan seri B sebesar US$ 87 juta setara dengan Rp 1,24 triliun yang dipimpin bersama oleh Prosus Ventures, Tencent, dan B-Capital.

Ula adalah marketplace e-commerce grosir multi-kategori horisontal yang berdiri pada 2020. Ula mengkombinasikan teknologi, alat, serta keahlian dari ritel modern dengan struktur biaya ramping yang dimiliki oleh warung tradisional - membawa yang terbaik dalam hal pilihan produk, harga, serta modal usaha kepada para pemilik warung untuk meningkatkan pendapatan mereka secara keseluruhan

Pendanaan tersebut juga diikuti oleh Bezos Expeditions, yang merupakan perusahaan venture capital milik pendiri dari Amazon, Jeff Bezos, beserta investor-investor terkemuka di Asia Tenggara lainnya yaitu Northstar Group, AC Ventures, dan Citius.

Para investor yang telah mendanai Ula pada seri sebelumnya seperti Lightspeed India, Sequoia Capital India, Quona Capital, dan Alter Global, juga turut berpartisipasi kembali pada pendanaan seri B kali ini. Ula juga turut mengajak Pandu Sjahrir, yang merupakan seorang investor berpengalaman serta pengusaha, sebagai penasehat perusahaan.

Riky Tenggara, Co-Founder dan Chief Operating Officer Ula mengatakan, di dunia yang telah didukung teknologi, warung tidak lagi hanya menjadi “sekedar sebuah toko saja”, melainkan merupakan sebuah pintu gerbang bagi warga sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga: Semester I 2021, lebih dari 100 startup raih pendanaan US$ 3,8 miliar

Warung pada umumnya memiliki keunggulan yang besar, seperti  biaya yang sangat kecil (karena dijalankan oleh anggota keluarga dan telah memiliki tempat sendiri) serta memiliki hubungan yang erat dengan pelanggannya.

Sementara e-commerce menghadapi masalah biaya pengiriman yang mahal dan toko ritel tradisional memiliki bangunan fisik terbatas di jalan utama, ada banyak pemilik warung tradisional yang mendapatkan keuntungan dengan melayani kebutuhan sehari-hari di lingkungan sekitar mereka.

Namun, keuntungan yang kecil, pilihan produk yang terbatas, serta modal usaha yang terbatas membuat mereka tidak mampu memenuhi seluruh kebutuhan pelanggan di sekitar mereka dan merealisasikan potensi pertumbuhan bisnis mereka.

“Memecahkan kompleksitas masalah rantai pasokan di Indonesia merupakan sebuah upaya yang sangat menantang dan berdampak. Sebagai perusahaan yang dibangun dari sebuah komunitas, kami tidak dapat meremehkan pentingnya memberikan layanan yang selalu dapat diandalkan oleh pelanggan kami, khususnya layanan yang dapat memberikan perbedaan yang nyata bagi kehidupan mereka. Tim kami akan senantiasa berjuang untuk dapat memberikan manfaat penggunaan teknologi bagi jutaan warung di Indonesia, khususnya di luar daerah metropolitan,” kata Riky dalam keterangan resmi yang diterima Kontan.co.id, Senin (4/10).




TERBARU

[X]
×