kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Ungkit pamor minuman fermentasi khas lokal (bagian 2)


Jumat, 28 Juni 2019 / 10:55 WIB
Ungkit pamor minuman fermentasi khas lokal (bagian 2)

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Minuman beralkohol tidak cuma menjadi ranah negara Eropa atau Asia Timur saja.  Justru di negeri ini terdapat beberapa jenis minuman khas daerah yang mengandung alkohol.

Sebut saja minuman Cap Tikus asal Minahasa atau arak Bali. Kebetulan, bahan baku kedua minuman itu dari air nira yang berasal dari pohon lontar.

Saat ini, beberapa pembuat minuman fermentasi lokal tersebut tengah berupaya mengenalkan lebih jauh produk yang mereka buat. Misalnya, minuman Cap Tikus 1978 asal Minahasa, Sulawesi Utara.

Setelah mendapat izin edar dari pemerintah daerah setempat, Cap Tikus 1978 tengah memperluas jangkauan pemasaran minuman khas tersebut. Terutama ke wilayah Indonesia bagian Barat. "Orang pasti bertanya,  apa itu Cap Tikus, maka kami memberikan product knowledge kepada publik," kata Mario Baraputra, Kepala Pemasaran Cap Tikus 1978 kepada KONTAN di sela-sela acara Pesona Minuman Fermentasi Nusantara, Selasa (25/6) di Jakarta.

Langkah ini penting bagai Cap Tikus 1978. Apalagi minuman yang mengandung alkohol 45% sudah dipasarkan ke Papua. Sudah begitu, produsen minuman tersebut juga tengah berinovasi membuat rasa baru dari minuman tersebut.

Kalau tidak ada halangan, bulan depan, Cap Tikus 1978 siap melansir Cap Tikus Coffee.  Kemudian akan ada lagi produk minuman dalam saset. Khusus untuk produk saset ini rencananya Cap Tikus 1978 akan memproduksi hingga delapan varian rasa rempah-rempah. Seperti jahe,  temulawak atau aren. "Untuk tahap awal, akan ada lima varian rasa minuman dalam bentuk saset," tuturnya.

Saat semua varian produk tersebut sudah bisa diproduksi dan dipasarkan, tentu ini menjadi nilai tambah bagi Cap Tikus 1978. Sebab saat ini manajemen produsen minuman khas tersebut tengah menjajaki pasar ekspor ke China.

Sedangkan pemain lain, Dapur Bali Mula juga tidak mau kalah. Dapur Bali Mula memproduksi minuman khas arak Bali, di Desa Les Buleleng. Tempat ini yang menjadi sentra pembuat arak Bali. Perusahaan ini tengah membuat arak Bali rasa baru yaitu rasa buah nangka memanfaatkan berlimpahnya tanaman nangka di Desa Les.

Selain tambahan rasa, Dapur Bali Mula juga membuat jenis arak manis yang disebut juruk. "Kalau di luar negeri seperti sirup maple," kata Nyoman Nadiana, pegawai Dapur Bali Mula kepada KONTAN.

Saat ini, dari total bahan air nira yang masuk, sekitar 60% dibuat arak bali dan sisanya menjadi juruk. Sayang, Nyoman tidak memerinci kapasitas produksi dari Dapur Bali Mula.

Yang pasti,  pihaknya tengah mengejar perizinan dari pemerintah setempat untuk bisa menjangkau pasar luar Bali. Sebab dengan adanya izin, pamor minuman beralkohol khas daerah bisa eksis dan membuat stigma negatif minuman ini sirna.      

(Selesai)



Video Pilihan

TERBARU

×