kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Upaya Muhammad Hanif melestarikan tanaman buah khas Kalimantan (2)


Sabtu, 07 Desember 2019 / 12:20 WIB
Upaya Muhammad Hanif melestarikan tanaman buah khas Kalimantan (2)

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. melalang buana di hutan Kalimantan Selatan tentu menciptakan banyak pengalaman bagi Muhammad Hanif Wicaksono. Pria asal Blitar, Jawa Timur ini mulai melakukan budidaya buah endemik langka di Kalimantan sejak 2012. 

Saat berkelana keluar masuk hutan, tentu banyak cerita yang ia alami. Pernah suatu saat ketika ia mencicipi buah-buahan di hutan, lidahnya menjadi mati rasa selama tiga hari. "Awalnya gatal dan kebas selama tiga hari. Saya suka icip buah yang ditemui di hutan," katanya kepada KONTAN.

Sayang, sampai sekarang, dirinya tidak mengetahui jenis buah yang membuat lidahnya mati rasa itu. Yang jelas, dirinya tidak kapok untuk terus bergerilya mencari buah-buah langkah dan khas Kalimantan. 

Saat menemui sebuah tanaman pohon buah di hutan, ia langsung mengobservasinya lebih lanjut. Caranya dengan memotret dari berbagai sudut. Mulai dari daunnya, batang, pohon secara utuh, bunga, hingga buah. Termasuk juga lokasi tempat si pohon buah tersebut ditemukan. 

Tujuannya agar bisa datang  lagi lagi di lokasi tersebut untuk bisa melakukan upaya budidaya. Mulai dari pencangkokkan dan cara lainnya.

Namun, kerap kali, dirinya langsung patah hati tatkala kembali ke hutan untuk melakukan budidaya terhadap satu tanaman buah, ternyata pohon bersangkutan sudah tidak ada lagi. Entah itu ditebang, tumbang atau habis karena terbakar. 

Terkadang dirinya tidak bisa langsung melakukan pembibitan saat menemukan pohon buah langka karena harus menunggu waktu yang pas. "Melihat hal ini membuat saya sedih. Apalagi jika si pohon buah itu sudah sulit ditemukan," lirihnya.

Supaya kesedihannya tidak belarut-larut, ia pun mendokumentasikan seluruh hasil penelitian dan budidaya tanaman buahnya dalam dua buah buku hasil rangkumannya. Pertama berjudul Potret Buah Nusantara Masa Kini dan kedua buku tujuh seri berjudul Buah Hutan Kalimantan Selatan. 

Ia berharap buku karyanya bisa bermanfaat bagi generasi penerus. "Buku ini banyak gambar. Anak SD pun bisa paham," terangnya.

Efeknya, makin banyak orang yang mulai peduli terhadap tanaman buah endemik khas Borneo, termasuk pemerintah setempat. Tak hanya itu, permintaan dari mancanegara untuk bisa mendapatkan bibit tanaman buah khas Kalimantan kerap datang. 

Namun ia menolak menjual bibit buah khas Kalimantan ke pihak luar. Justru ia berharap potensi tanaman endemik khas Kalimantan ini dijaga dan dilindungi. Salah satunya dengan membuat aturan khusus untuk melindunginya.  "Tingkat kepedulian orang lokal kurang," keluhnya yang mewanti-wanti buah lokal diambil pihak lain.                 n

(Bersambung)




TERBARU

Close [X]
×