kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Upaya Muhammad Hanif melestarikan tanaman buah khas Kalimantan (3)


Sabtu, 07 Desember 2019 / 12:35 WIB
Upaya Muhammad Hanif melestarikan tanaman buah khas Kalimantan (3)

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Mengenalkan buah langka asli Kalimantan ternyata tidak semudah membalikkan tangan. Inilah yang dirasakan Muhammad Hanif Wicaksono yang sudah tujuh tahun berjuang membudidayakan buah khas Borneo.

Semenjak mencari tahu keberadaan endemik pohon ini sejak 2012, Hanif menyadari masyarakat setempat kurang peduli terhadap tanaman tersebut, terlebih mau membudiyakan. Padahal dengan cara ini bisa melestarikan tanaman tersebut.
 
Akhirnya ia mulai membudidayakan tanaman buah khas Kalimantan di 2016 di Desa Marajai, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan. Selain bisa melestarikan si tanaman, ia juga berharap bisa membantu sebagian masyarakat desa ini yang masih pra sejahtera. Jika kita menelaah, buah khas Kalimantan ini punya nilai ekonomi yang cukup tinggi. "Jadi saya membuat pelatihan pembibitan dan memanfaatkan sumber daya genetik seperti ecoprint," tuturnya ke KONTAN.
 
Hasilnya memang sudah terlihat. Semakin banyak masyarakat setempat yang mengikuti program budidaya ini. "Peduli dulu, ekonomi akan beriringan," tuturnya.
Ia pun tertantang untuk terus menginformasikan tanaman buah langka Kalimantan ini ke pihak lain. Tidak sebatas di daerah tempat tinggalnya, beberapa pemangku kepentingan ia harapkan bisa terlibat dalam program budidaya tanaman tersebut. Tak cuma pemerintah daerah setempat tapi juga perusahaan swasta dan instansi lainnya. 
 
Sedangkan untuk pengembangan Desa Marajai sendiri, ia  bersama beberapa warga desa lainnya kini tengah mengembangkan ekowisata dengan memanfaatkan hutan beserta tanaman buah khas Kalimantan. "Adapun saat ini kalau mendengar nama Marajai pasti tertuju pada penghasil buah dan jadi ikon buah lokal Kalimantan Selatan," tuturnya.
 
Adapun konsep ekowisata yang ditawarkan adalah tur melihat dari dekat hutan desa dengan beragam tanaman endemik di sana, termasuk juga pohon buah khas daerah tersebut. "Jadi istilahnya adalah bio tour dan akan terus kami kembangkan," ucapnya.
 
Untuk menarik minat, mulai tahun lalu pihaknya mulai menggelar festival buah khas Kalimantan Selatan. Hasilnya langsung kentara, para turis yang datang tak cuma dari lokal saja tapi juga mancanegara, seperti Jepang dan China. Sayang, Hanif tidak merinci jumlah kunjungan pelancong di desa tersebut.
 
Uniknya, setiap tamu atau pelancong yang datang di desa terebut tidak dikenakan tarif khusus. Semua diserahkan ke masing-masing pelancong secara sukarela. Ke depan, pihaknya berencana membuat tarif standar bagi para pelancong.
 
Akhirnya, Desa Marajai makin dikenal. Program pembangunan pun mulai mengalir. Meski begitu, Hanif masih akan terus bergerilya mencari tanaman endemik khas lainnya.
 
(Selesai)




TERBARU

Close [X]
×