kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.135.000   50.000   1,62%
  • USD/IDR 16.853   44,00   0,26%
  • IDX 8.082   -153,04   -1,86%
  • KOMPAS100 1.137   -19,45   -1,68%
  • LQ45 820   -14,48   -1,74%
  • ISSI 288   -4,82   -1,65%
  • IDX30 432   -7,93   -1,80%
  • IDXHIDIV20 519   -7,80   -1,48%
  • IDX80 127   -1,81   -1,40%
  • IDXV30 142   -1,12   -0,78%
  • IDXQ30 138   -2,83   -2,00%

Wayan berbisnis topeng bermodal raturan ribu (2)


Rabu, 09 September 2015 / 13:17 WIB
Wayan berbisnis topeng bermodal raturan ribu (2)


Reporter: Rani Nossar | Editor: Tri Adi

Lahir di keluarga perajin topeng membuat I Wayan Muka sudah akrab dengan seni ini sejak kecil. Bermodal uang ratusan ribu rupiah, dia mulai membuka usaha sendiri di tahun 1980. Produknya lambat laun diterima khususnya oleh turis asing.

Lahir dan tumbuh di Bali membuat I Wayan Muka terbiasa dengan ritual keagamaan yang sarat dengan penggunaan topeng-topeng. Sang ayah yang juga perajin topeng serta darah seni yang mengalir di tubuhnya membuatnya mulai tertarik belajar membuat topeng sejak kecil.

Dia dan sang ayah awalnya hanya membuat topeng khusus untuk ritual keagamaan saja, seperti acara tari di Pura, acara Ngaben dan perayaan ogoh-ogoh sebelum Hari Raya Nyepi. Karena kata Wayan, zaman dulu topeng bali masih tidak lazim untuk dijual atau dikomersilkan.

Nah, seiring berjalannya waktu, tradisi ini mulai berubah di tahun 1970-an. Banyak topeng Bali yang diminati wisatawan dan akhirnya banyak seniman yang beralih membuat topeng untuk tujuan komersil, untuk kepentingan pariwisata, dan promosi budaya Bali.

Maka sejak itu, Wayan mulai berinisiatif memproduksi massal topeng buatannya secara mandiri. Berdirilah usaha Wayan Mask Product di tahun 1980. Saat itu modalnya tidak besar, hanya beberapa ratus ribu rupiah saja untuk membeli cat. "Sedangkan bahan baku kayu pule dulu saya tinggal ambil saja, di Ubud, kayu pule banyak ditemukan di area kuburan di sekitar rumah, " kata dia.

Saat merintis usaha, Wayan menawarkan topeng buatannya kepada para wisatawan di sekitaran Ubud dan Gianyar. Dulu, Wayan juga memiliki art shop kecil di pinggir jalan agar mudah dilirik wisatawan. Dari dulu hingga sekarang memang pembelinya adalah orang asing. Sebab wisatawan domestik tidak terlalu suka topeng karena dianggap mengandung unsur mistik.

Lalu, semakin meningkatnya kunjungan wisatawan ke Ubud tentu membuat penghasilan Wayan bertambah. Ia mulai memiliki kenalan-kenalan pembeli dari mancanegara yang membeli topengnya untuk dijual lagi di negaranya. Wayan bercerita, di tahun 2000, dia pernah berhasil mendapat pesanan dari Amerika Serikat untuk membuat 1.000 topeng.

Wayan mengatakan, produk buatannya menyasar kelas menengah atas karena kualitasnya yang terjaga. Untuk topeng leak dan rangda saja misalnya, topeng itu cukup besar dibuat dengan rambut kambing dan kuda dan menghabiskan waktu hingga 25 hari untuk menyelesaikan sebuah topeng. Tidak heran, harganya bisa lebih dari Rp 20 juta per unit.

Untuk bahan baku pembuatan topeng, Wayan menghabiskan sekitar 3 log kayu pule per tahun. Biasanya dia memesan bahan baku setahun sekali dari area Gunung Batur. "Pembuatan topeng tidak terlalu memakan banyak kayu seperti patung," kata dia.

Selain itu, Wayan juga menggunakan kayu waru untuk bahan baku. Namun kayu waru tidak bagus ketika saat diaplikasikan dengan cat warna, makanya topeng dari kayu waru harganya lebih murah. Sedangkan untuk rambut topeng yang panjang dibuat dari rambut kuda dan kambing yang didatangkan dari Lombok.

Bisnisnya pernah diuji saat musibah bom Bali II di 2005. Omzetnya sempat turun 60%. Namun itu tidak berlangsung lama karena pengiriman ke luar negeri kembali ramai.     

(Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Berita Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Procurement Strategies for Competitive Advantage (PSCA) AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×