: WIB    —   
indikator  I  

Ini dia pioneer batik celaket khas Malang (3)

Ini dia pioneer batik celaket khas Malang (3)

Batik memang dikenal sebagai kain khas Indonesia. Hampir setiap daerah punya batik dengan ciri khasnya masing-masing. Bahkan, kini, batik berhasil menembus pasar luar negeri.  

Sayangnya, popularitas batik tak diiringi dengan  bertambahnya jumlah perajin. Oleh karena itu, ingin batik celaket tetap lestari, Hanan Jalil, pemilik usaha batik khas Malang ini aktif mengajak seluruh anak muda di sekitar tempat tinggalnya, Jalan Jaksa Agung Suprapto, Malang, Jawa Timur.

Kini, ada sekitar 12 orang anak muda yang bergabung dengannya. Sebelumnya, mereka bekerja sebagai office boy, buruh pabrik atau pengangguran. Sadar langkah ini tak mudah, Hanan pun menawarkan gaji standar  UMR serta tambahan makan dua kali sehari.

Namun, mengajari orang yang tak punya dasar membatik juga bukan perkara gampang. Butuh kesabaran dan keuletan supaya anak-anak muda ini mampu menampilkan jiwa seninya. Hanan berkeyakinan bila setiap orang mempunyai jiwa seni dan ciri khas masing-masing. "Jadi saya bebaskan mereka untuk berkreasi," katanya.  

Ke depan, Hanan berharap mereka dapat membuka usaha sendiri. Sekarang, baru ada satu mantan karyawannya yang bikin usaha sendiri dan punya toko di Celaket juga.

Hanan tak risau dengan kian banyaknya pemain akan memperuncing persaingan. Justru, kondisi ini memotivasi dirinya untuk terus berinovasi menghasilkan motif yang unik dan warna yang trendi.

Pria 50 tahun ini pun selalu punya koleksi batik sebagai peringatan  atau apresiasi adanya momen spesial. Contohnya, batik morat-marot sebagai gambaran kondisi politik negara yang sedang gaduh. "Saya pikir desain ini tidak laku. Ternyata, laku juga," katanya.

Suami Ira Hartanti ini juga tetap mempertahankan strategi promosinya dengan tetap mengikuti pergelaran seni yang rutin. Dia menilai langkah ini cukup efektif menjaring konsumen. Ajang pemeran pun juga tidak luput dari sensor promosinya.    

Namun, meski sudah lebih dari 17 tahun menggeluti bisnis ini, Hanan mengaku masih kesulitan mengikuti tender pengadaan seragam Pemerintah Kota (Pemkot). Masalahnya ada pada modal kerja. Karena satu tender bisa bernilai hingga ratusan juta. Dia berharap, Pemkot membagi tender pengadaan seragam dalam beberapa tahap sehingga pelaku usaha skala menengah bisa ikut serta.

(Selesai)


Reporter Tri Sulistiowati
Editor Johana K.

PROFIL PENGUSAHA

Feedback   ↑ x