PELUANG USAHA
Berita
Lele piton tidak memakan investasi besar (2)

BUDIDAYA LELE PITON

Lele piton tidak memakan investasi besar (2)


Telah dibaca sebanyak 10011 kali
Lele piton tidak memakan investasi besar (2)

Hanya butuh waktu dua bulan budidaya untuk memanen lele piton siap konsumsi. Sekali panen, keuntungan bersih yang masuk kantong bisa sampai
Rp 50 juta. Daging ikan berkumis ini juga dapat diolah menjadi kerupuk dan abon.

Lele piton tidak hanya gampang dipelihara. Modal membudidayakan ikan berkumis dengan badan bongsor terebut juga tak besar-besar amat, kok. "Tidak banyak dana yang diperlukan untuk memulai bisnis lele piton," ungkap Ludvi Dwipayono, pembudidaya lele piton di daerah Bekasi, Jawa Barat.

Empat tahun lalu, Ludvi memulai usaha budidaya ikan hasil persilangan lele dumbo dan lele thailand ini dengan modal sebesar Rp 1 juta. Uang itu untuk ongkos pembuatan kolam budidaya dan pembelian sekitar 500 bibit lele piton.

Harga bibit lele piton sangat terjangkau. Ashari Ramadhan, pembudidaya lele piton di Cirebon, Jawa Barat, mengatakan, harga bibit ikan bernama latin Clarias batrachus ukuran 3-5 cm Rp 125 per ekor. Sedang, untuk ukuran 7-8 cm harganya Rp 150 seekor dan ukuran 9-10 cm seharga Rp 175 per ekor. Dengan catatan, minimal pembelian sebanyak Rp 500.000.

Adapun harga induk lele piton, yang terdiri dari dua pejantan dan tiga ekor betina seberat masing-masing seberat 1 kg, sekitar Rp 800.000. Kelebihan membeli induk lele piton, mereka mampu menghasilkan telur dalam jumlah yang banyak.

Ashari bahkan menjamin telur yang dihasilkan bisa mencapai 100.000 sekali bertelur. Itu sebabnya, "Permintaan masyarakat selama ini masih didominasi oleh induk ketimbang bibit untuk dibesarkan hingga siap konsumsi," katanya.

Biasanya, Ashari mengungkapkan, bibit lele piton dipanen ketika panjangnya sudah mencapai 7 cm hingga 10 cm. Waktu budidaya dari telur hingga bibit tersebut antara dua sampai tiga minggu.

Adapun panen lele piton hingga siap konsumsi, menurut Ashari, butuh waktu budidaya selama dua bulan. Satu kolam milik Ashari bisa menampung sekitar 60.000 bibit lele piton.

Dari budidaya lele piton, Ashari bisa meraih omzet hingga Rp 80 juta setiap kali panen dalam tempo dua hingga tiga bulan. "Laba bersihnya bisa sampai Rp 50 juta tiap kali panen," ujarnya sumringah.

Untuk mendapatkan panen lele piton siap konsumsi yang maksimal, menurut Ludvi, saat menabur bibit, kebersihan air dan kolam harus terjaga dengan kadar keasaman air (pH) yang tinggi. "Habitat yang paling bagus untuk lele piton adalah kolam tanah," saran dia.

Untuk urusan pakan, lele piton cukup diberi pelet tiga kali sehari dengan waktu pemberian: pagi, sore, dan malam. Kalau ingin lele bertubuh makin bongsor, pelet bisa diberi campuran ampas tahu atau ikan yang telah ditumbuk halus. "Ini untuk menambah protein dalam tubuh ikan," kata Ludvi.

Dengan hanya menggunakan bahan-bahan alami, Ludvi bilang, lele piton memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan yang diberi asupan bahan kimia. Rasanya juga berbeda, karena memiliki tekstur daging yang lebih empuk.

Selain ke pasar, Ludvi juga menjual lele piton hasil budidayanya ke warung-warung makan yang menyajikan menu pecel lele. Lele piton banyak dipilih, lantaran ukurannya yang lebih besar serta dagingnya yang lebih gurih.

Setiap harinya, Ludvi memasok 10 kg ke warung pecel lele. Tapi, ia berencana juga mengolah daging lele piton menjadi kerupuk dan abon.

(Selesai)

Editor: Tri Adi
Telah dibaca sebanyak 10011 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Simak sektor mana saja yang prospektif!

    +

    Sejak awal tahun hingga 22 September 2014, saham-saham sektor perbankan memberikan return terbesar.

    Baca lebih detail..

  • Meramal gerak IHSG setelah rekor

    +

    Analis berbeda pendapat soal prospek kinerja IHSG ke depannya.

    Baca lebih detail..