PELUANG USAHA
Berita
Merakit laba dari merakit mesin produksi

PELUANG BISNIS: PEMUATAN MESIN PRODUKSI

Merakit laba dari merakit mesin produksi


Telah dibaca sebanyak 8932 kali
Merakit laba dari merakit mesin produksi

Mesin produksi untuk mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah buatan lokal tak bisa dipandang sebelah mata. Dalam lima tahun terakhir, peminat mesin produksi buatan dalam negeri menunjukkan adanya peningkatan.

Kisah PT Mesin Maksindo Group bisa menjadi contoh. Al Arif, pemilik Mesin Maksindo, menuturkan, dalam setahun, permintaan mesin-mesin buatannya naik 20%. Dalam sebulan, Maksindo bisa menjual sekitar 200 hingga 300 unit mesin.

Maksindo yang mulai memproduksi mesin pada tahun 2009, saat ini, sudah memiliki delapan toko di beberapa kota besar yaitu Malang, Surabaya, Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang, dan Blitar. Karena permintaan yang terus meningkat, tahun ini, Maksindo bersiap membuka toko di Serang, Semarang, Yogyakarta, Denpasar, dan Bandar Lampung. “Terakhir kami buka di Jakarta Selatan, sebelumnya sudah membuka di Jakarta Timur,” jelas Arif.

Pemilik PT Buatan Guna Indonesia (BGI), Vitex Grandis, menuturkan kisah setali tiga uang. Dalam sebulan, Vitex bisa menjual antara tiga hingga sepuluh unit mesin. Mesin yang diproduksinya beragam, mulai dari mesin pengolahan bahan kelapa, karet, sawit, plastik, hingga mesin pembuatan pakan ternak, dan lain-lain. “Pada awal menjalankan usaha dalam setahun hanya bisa menjual 22 mesin. Permintaan mulai meningkat sekitar tahun 2005,” ujar Vitex yang sudah memulai usaha ini sejak tahun 1998 ini.

Harga yang ditawarkan Vitex untuk mesin buatannya mulai Rp 6,5 juta hingga Rp 1,5 miliar per unit. “Yang sedang laris mesin olahan kelapa, yaitu mesin pembuatan minyak kelapa,” jelas Vitex. Oh, iya, produksi BGI  berbasis di Bandung.

Sementara, Radiawan Saputra, produsen mesin pencetak lilin yang membanderol mesin buatannya Rp 8,5 juta, bisa menjual 5 unit–8 unit mesin dalam sebulan. “Keuntungan yang didapat sekitar 30%,” kata Randiawan, yang menjalankan usahanya di Bandung.

Randiawan menuturkan, mesin pencetak lilin buatannya justru diminati pengusaha di luar Jawa, khususnya Indonesia Timur. “Itu karena di sana permintaan lilin cukup tinggi sementara produsen lilinnya tidak banyak,” tutur pemilik CV Anugrah Jaya ini. Randiawan mengingatkan, lilin bukan hanya menjadi penerang di mati lampu, tapi juga alat pelengkap berdoa bagi umat Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha.

Permintaan mesin produksi buatan lokal yang semakin tinggi ini antara lain dipengaruhi oleh tumbuhnya semangat berwirausaha di kalangan masyarakat. “Usaha-usaha yang sudah berjalan juga semakin berkembang sehingga membutuhkan mesin baru untuk pengembangan usaha,” kata Arif.

Dukungan pemerintah terhadap pemberdayaan masyarakat lewat bantuan mesin-mesin usaha kepada kelompok-kelompok masyarakat juga memicu permintaan.

“Mahalnya mesin impor juga menjadi faktor pendorong peningkatan permintaan mesin buatan lokal,” ujar Vitex. Ia mencontohkan, harga mesin pengolahan karet impor mencapai Rp 240 juta, sedang buatan BGI hanya Rp 150 juta. Jadi tak heran bila mesin pengolahan karet buatan BGI dilirik para pengusaha karet.


Pelajari peluang

Apabila Anda tertarik menjadi seorang produsen mesin, ada baiknya melakukan survei pasar terlebih dahulu. Artinya Anda harus memperhatikan mesin-mesin produksi yang diminati dan mesin yang potensial untuk dikembangkan.

Berdasarkan pengamatan Arif, yang laris adalah mesin untuk mengolah hasil pertanian. Ambil contoh mesin pengolah buah, pengolah kopi, dan pengolah kelapa. Mesin lain yang juga diminati adalah mesin pengolah kompos dan dan pengolah limbah plastik serta  mesin makanan, seperti mikser dan pasteurisasi.

Vitex menambahkan, Anda juga harus mampu menangkap peluang bisnis yang memungkinkan Anda untuk memproduksi mesin tersebut. Misal, di daerah A, produksi hasil kebun kelapa tinggi. Anda bisa mengajak masyarakat di daerah tersebut untuk membuat usaha pengolahan kelapa. “Bukan hanya pengolahan minyak kelapa, dari kelapa Anda bisa mengolah menjadi berbagai produk turunan,” jelasnya.

Misalnya dari batok kelapa diolah menjadi briket, sabutnya menjadi cocofiber (bahan jok mobil) dan coco peat (sebagai media tanam). “Untuk olahan turunan kelapa ini, masing-masing membutuhkan mesin produksi yang berbeda. Jadi, dari kelapa saja, Anda bisa membuat sekurangnya empat jenis mesin,” jelas Vitex.

Dia menganjurkan supaya para produsen mesin pemula juga melakukan riset pasar untuk memasarkan produk-produk olahan kelapa itu. Upaya ini untuk melanggengkan relasi dengan pengusaha yang memesan mesin produksi ke kita. “Kita tidak hanya menyampaikan cocofiber itu untuk pembuatan jok mobil, tetapi juga harus tahu pasar cocofiber saat ini, seperti permintaan terbesar ada di Korea,” jelas Vitex.

Berbeda dengan pengalaman Randiawan. Tahun 2009, dia mencoba menjalankan usaha pembuatan lilin. Dia pun membeli mesin pencetak lilin dari Surabaya dengan harga Rp 40 juta. “Ketika permintaan lilin semakin banyak, kami kewalahan. Karena harga  mesin cetaknya sangat mahal, kami pun berusaha membuat mesin cetak sendiri,” kenangnya.

Ternyata mesin cetak lilin buatan Randiawan diminati pembeli lilinnya, sehingga mereka pun mulai memesan pencetak lilin buatan Randiawan. Harga mesin buatan Randiawan juga jauh lebih murah, yakni hanya Rp 8,5 juta. “Toh, hasilnya sama dengan mesin yang harganya Rp 40 juta. Karena pada prinsipnya mesin ini hanya untuk mencetak, jadi cara kerjanya hampir sama,” kata dia.

Nah, jika saat ini Anda tengah menjalankan suatu usaha atau mencoba mengembangkan usaha, tidak ada salahnya, Anda menjajal membuat mesin sendiri. Pelajari cara kerja mesin yang Anda gunakan saat ini dan cobalah merakit mesin sendiri. Lewat strategi itu, biaya investasi bisa ditekan.


Ahli dan autodidak

Untuk menjadi seorang produsen mesin produksi mesin sederhana, Anda tidak perlu memiliki latar pendidikan khusus. Randiawan yang memproduksi mesin pencetak lilin merupakan lulusan desain grafis. “Kita bisa mempelajari dari mesin produksi yang sudah ada,” kata Randiawan.

Vitex bilang, menjadi produsen mesin memang bisa dipelajari dari buku atau media lain alias tidak harus lulusan sekolah teknik mesin. “Dalam membuat mesin sederhana, yang penting tahu bagaimana proses pengolahan suatu produk. Prinsip mesin itu, bagaimana kerja manusia dialihkan ke mesin,” tandasnya. Misalnya mesin pengolah beras menjadi tepung. Yang dibutuhkan adalah mesin oven yang dimanfaatkan sebagai pengering sebelum masuk ke mesin penggiling beras.

Dari pembelajaran autodidak tersebut, Anda harus memahami teknik las, teknik elektrikal, dan juga bisa menggambar desain mesin yang akan diproduksi. Dengan tuntutan seperti itu, memang, sebaiknya Anda memiliki keahlian teknik atau memiliki tenaga ahli.

Tenaga ahli yang dianjurkan misalnya lulusan teknik kimia, teknik industri, dan teknik mesin. “Anda tidak perlu mengangkat mereka sebagai karyawan, cukup dengan sistem freelance seperti yang saya lakukan,” kata Vitex. Untuk itu, Anda harus memiliki jaringan para lulusan teknik. Sementara untuk tenaga lapangan, Anda bisa memanfaatkan tenaga kerja lulusan STM, terutama lulusan teknik mesin.

Sebagai awal usaha, Anda cukup mempekerjakan lima orang tenaga administrasi kantor dan 10 orang karyawan di bengkel. “Biasanya untuk menggaji para tenaga kerja dan administrasi kantor memakan biaya sekitar 10% dari penjualan mesin,” jelas Vitex.

Arif bilang, sebelum memulai usaha produksi mesin, tidak ada salahnya Anda  mengawalinya dengan menjadi distributor. Dari pengalaman menjadi distributor, secara tidak langsung,  Anda bisa mempelajari cara kerja berbagai mesin. Kelebihan lain jalur ini adalah membuka jaringan calon pembeli.


Modal usaha

Untuk memulai usaha ini, menurut Vitex, modal yang dibutuhkan tidak terlalu besar. “Untuk belanja material biasanya pakai uang muka yang diserahkan klien,” katanya.

Vitex menyarankan pebisnis pemula untuk tidak terlalu banyak berinvestasi di peralatan bengkel. Menurut dia, Anda hanya perlu mengalokasikan dana sebesar Rp 10 juta untuk membeli mesin las, mesin potong, mesin bor, dan mesin tekuk. Sedang untuk membeli peralatan pengecatan dan peralatan perbengkelan, dana yang dibutuhkan Rp 15 juta.

Anda juga bisa mengalokasikan dana sebesar Rp 10 juta untuk membuat mesin sebagai produk contoh. Vitex bilang, biaya material untuk satu buah mesin biasanya memakan dana 70% dari harga jual. Bila belum memiliki lahan usaha sendiri, Anda bisa menyewa. “Lahan itu bisa dijadikan bengkel sekaligus kantor. Ruang berukuran 5 m x 5 m sudah cukup,” katanya. Lahan itu sebaiknya tidak terlalu dekat dengan perumahan penduduk, sebab proses pembuatan mesin bisa menimbulkan kebisingan.

Lokasi bengkel juga tidak harus di pusat kota. Yang penting, harus dekat dengan jalan raya untuk memudahkan proses pengiriman. Renovasi bengkel dan kantor bisa menghabiskan dana sebesar Rp 20 juta. Sementara untuk membeli perlengkapan kantor dana yang harus disiapkan sekitar Rp 7 juta. Usaha ini sebaiknya juga berbentuk CV atau PT. Tujuannya agar klien lebih percaya dan memudahkan mengikuti tender pengadaan barang.                                        


Editor: Tri Adi
Telah dibaca sebanyak 8932 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Risiko berbeda, premi tiap daerah seharusnya berbeda juga

    +

    Dalam uji coba pertama, Jasindo mengkover 600 hektare (ha) lahan dengan biaya premi Rp 100 juta.

    Baca lebih detail..

  • Agar sukses, perlu insentif bagi penyuluh lapangan

    +

    Program asuransi pertanian menjadi salah satu upaya pemerintah untuk melindungi petani dari efek perubahan iklim. Hanya saja masih banyak kekurangan yang ditemui, seperti kurangnya sosialisasi dan tidak adanya insentif bagi penyuluh pertanian lapa

    Baca lebih detail..