PELUANG USAHA
Berita
Peluang usaha martabak masih manis

TAWARAN KEMITRAAN KULINER: MARTABAK

Peluang usaha martabak masih manis


Telah dibaca sebanyak 8222 kali
Peluang usaha martabak masih manis

Sejak lama martabak sudah menjadi camilan yang memasyarakat. Penjual martabak pun bisa dengan mudah ditemui karena memang teramat banyak. Kebanyakan mereka berjualan ala kaki lima, meski tak sedikit pula yang menjual makanan ini di tempat mentereng seperti mal.

Kendati pemain berjibun dan persaingan sudah ketat, bagi peluang bisnis martabak masih menjanjikan laba manis bagi pelakunya. Buktinya, beberapa pemain yang menawarkan kemitraan martabak mengalami pertumbuhan bisnis yang baik. Mereka adalah Martabak Mini Afria, Martabak San Fransisco, dan Martabak Spektakuler.

KONTAN pernah mengulas usaha mereka sekitar setahun yang lalu. Nah, bagaimanakah perkembangan usaha mereka saat ini? Anda bisa menyimak dari review masing-masing waralaba martabak tersebut berikut ini.


Martabak Mini Africa

Usaha yang berdiri sejak 2008 ini mulai menawarkan kemitraan Juni tahun 2011. Saat diulas KONTAN pada Agustus 2011, jumlah mitra Martabak Mini Afrika baru ada 14 mitra. Tapi, saat ini sudah mencapai 126 mitra. "Mitra kami tersebar mulai dari Aceh hingga Papua," kata Poma Indrajaya Poma, pemilik Martabak Mini Africa.

Pada Agustus 2011, Mini Africa hanya menawarkan satu paket kemitraan. Yakni, paket jenderal bintang 1 dengan harga Rp 9,7 juta. Namun, usaha yang berbasis di Jakarta itu kini menawarkan empat paket investasi.

Selain paket jenderal bintang I, kini ada tawaran paket jenderal bintang II senilai Rp 10,1 juta. Lalu ada juga tawaran paket jenderal bintang III seharga Rp 10,5 juta, dan paket kopral senilai seharga Rp 3 juta.

Fasilitas yang didapat seluruh paket sama, hanya berbeda kualitas dan tampilan booth. Fasilitasnya seperti booth, peralatan membuat martabak, dan bahan baku awal.

Khusus paket kopral, mitra akan mendapat booth yang bisa dilipat dan dibawa. "Untuk bisa membeli paket kopral, mitra harus sudah membeli paket jenderal bintang berapa saja," jelas Poma.

Lantaran booth-nya bisa dilipat, paket kopral bersifat mobile. Bisa buka di mana pun, termasuk di lokasi acara pameran. Untuk peralatannya diambil dari paket jenderal yang telah dimiliki mitra.

Estimasi omzet untuk seluruh paket rata-rata Rp 400.000-Rp 500.000 per hari, atau Rp 15 juta per bulan Adapun laba bersihnya sekitar Rp 8 juta per bulan. Mitra ditargetkan bisa balik modal dalam waktu 1,5 bulan.

Dalam kerja sama kemitraan ini, tidak dipungut royalty fee maupun franchise fee. Ia hanya mengambil keuntungan dari penjualan bahan baku kepada seluruh mitranya. Selain paket investasi, Mini Africa juga menyediakan beberapa menu baru. "Kalau ditotal, menu yang ada sudah lebih dari 100," ujar Poma.

Mitra juga dibolehkan membuat variasi menu sendiri. Ia mencontohkan, mitranya di Padang mencampurkan buah stroberi utuh dalam martabak. "Ada pula yang dicampur pisang," katanya.

Terkait dengan variasi menu ini, ia menggabungkan para mitranya dalam group blackberry messenger (BBM) supaya bisa saling berbagi resep. "Antar mitra bisa sharing sampai tukar-tukaran resep," ujar Poma.

Untuk harga martabak tidak mengalami kenaikan. Jadi, masih dibanderol Rp 10.000 per kotak. Setiap kotak berisi empat martabak mini.



Martabak San Fransisco

Berdiri sejak tahun 1967, Martabak San Fransisco mulai menawarkan kemitraan pertengahan 2010. KONTAN mengulas tawaran kemitraan ini pada 18 November 2010. Saat itu, usaha milik Laurensius Buyung yang berbasis di Bandung itu belum memiliki mitra usaha.

Tak lama menawarkan kemitraan, di akhir tahun 2011, Martabak San Fransisco mengubah tawaran kemitraan itu menjadi waralaba. Hingga saat ini, Martabak San Fransisco sudah memiliki empat mitra yang tersebar di Jabodetabek. Sementara gerai milik sendiri ada delapan, dan semuanya berada di Bandung.

Saat masih kemitraan, San Fransisco menawarkan dua paket investasi. Yakni, paket gold dan platinum masing-masing Rp 90 juta dan Rp 105 juta. Estimasi omzetnya Rp 30 juta per bulan. Dengan laba 40%, mitra bisa balik modal antara 7,5 bulan-8,5 bulan.

Kini, pihaknya hanya menawarkan satu paket. Yakni, paket gerai dengan total investasi Rp 190 juta. Investasi itu sudah meliputi biaya franchise fee selama 5 tahun senilai Rp 80 juta, peralatan Rp 75 juta, serta renovasi dan dekorasi tempat Rp 35 juta. "Nilai investasi belum termasuk sewa tempat," kata Buyung.

Karena sudah waralaba, ia juga mengenakan royalty fee sebesar 5%. Buyung memperkirakan, omzet mitra Rp 2 juta per hari. Dari omzet tersebut, mitra bisa balik modal dalam 16 bulan.

Soal harga jual martabak, ia mengaku, masih berkisar Rp 25.0000-Rp 59.000 per porsi untuk martabak manis. Sedangkan martabak telur dibanderol Rp 45.000-Rp 75.000 per porsi.

Ia optimistis, tawaran waralabanya ini masih akan berkembang pesat. Apalagi, kata dia, pasar martabak sekarang semakin berkembang. "Awalnya kami menargetkan penambahan lima mitra selama tahun 2012, tapi sejauh ini kami sudah menambah tiga mitra dan kemungkinan target akan terlampaui," jelasnya.

Ke depan, ia berencana merilis paket baru, yaitu paket kafe yang nominalnya masih dirahasiakan. "Kami belum menghitung detail nominal investasinya," ujarnya.

Buyung bilang, hal yang tak pernah ditinggalkannya dalam menjalankan usaha ini adalah senantiasa berinovasi. Kini, martabak manis buatannya telah memiliki banyak varian rasa, seperti durian, tiramisu, dan vanila oreo.



Martabak Spektakuler

Bisnis Martabak Spektakuler juga mengalami pertumbuhan mitra. Martabak Spektakuler sendiri berdiri tahun 1996 di Bandung, dan mulai menawarkan waralaba pada September 2009.

KONTAN pernah mengulas tawaran waralaba martabak ini pada Juni 2011. Saat itu, Martabak Spektakuler sudah punya 10 mitra. Saat ini, mitranya sudah bertambah hingga 15 yang tersebar di Bandung, Jabodetabek, Jambi, dan Balikpapan.

John Dean, pemilik Martabak Spektakuler bilang, penambahan jumlah mitra itu membuktikan kalau tawaran waralaba martabaknya diterima pasar. "Rata-rata pertumbuhan mitra satu sampai empat per bulan," jelas John.

Karena peminatnya kian banyak, Martabak Spektakuler kini menaikkan biaya paket investasi. Sebelumnya, Martabak Spektakuler menawarkan paket manis lengkap dengan nilai investasi Rp 30 juta, paket asin Rp 25 juta, paket manis dan asin lengkap Rp 45 juta, serta paket manis dan asin komplet Rp 75 juta.

Kini, paket-paket itu diganti yang baru dengan biaya lebih mahal. Di antaranya paket kemitraan manis dengan investasi Rp 40 juta, paket manis dan boleh buka resep Rp 60 juta, paket manis asin tapi tidak buka resep Rp 70 juta, dan paket manis asin buka resep Rp 90 juta.

Setiap mitra yang mengambil paket itu akan mendapat pelatihan membuat martabak. Pelatihan diberikan hingga mitra benar-benar menguasai teknik pembuatan martabak. Untuk itu, setiap mitra diberi kesempatan mengikuti training selama sebulan.

Soal harga di pasaran, martabak Spektakuler lebih fleksibel, tergantung pangsa pasar yang dibidik. Untuk daerah Bandung harganya Rp 18.000 per loyang, Jakarta Rp 22.000 - Rp 55.000 per loyang, dan luar jawa Rp 17.000 - Rp 25.000 per loyang.

Martabak Spektakuler memiliki tiga varian rasa, seperti martabak ekstra pandan, cokelat, serta martabak original rasa keju.

Editor: Tri Adi
Telah dibaca sebanyak 8222 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Simak sektor mana saja yang prospektif!

    +

    Sejak awal tahun hingga 22 September 2014, saham-saham sektor perbankan memberikan return terbesar.

    Baca lebih detail..

  • Meramal gerak IHSG setelah rekor

    +

    Analis berbeda pendapat soal prospek kinerja IHSG ke depannya.

    Baca lebih detail..