Reporter: Cindy Silviana Sukma | Editor: Havid Vebri
Heri Susanto telah melewati proses perjalanan yang cukup panjang sebelum akhirnya sukses menjadi distributor gula merah skala besar di Lampung. Banyak hambatan dan rintangan yang berhasil dilewatinya.
Salah satu kendala utamanya dalam menjalani usaha ini adalah keterbatasan modal. Soalnya, untuk menjadi distributor gula merah skala besar juga butuh modal yang besar. Modal besar ini diperlukan untuk merangkul sebanyak mungkin agen dan penderes gula merah yang mau bekerja sama dengannya.
Persoalannya, mencari modal tambah-an ini tidak gampang. Mencari pinjaman dari bank juga sangat sulit. "Bisnis saya saat itu tidak terlihat menarik di mata perbankan," katanya.
Di tengah kesulitan modal itu, untungnya ada seorang teman mengajaknya untuk mengajukan pinjaman modal ke salah satu perusahaan ventura, yakni PT Sarana Ventura Lampung (SLV).
Heri pun menyambut baik ajak temannya itu. Dan, gayung bersambut, permohonan kreditnya dikabulkan. Pencairan pinjaman dilakukan secara bertahap. Mula-mula Heri mendapat dana Rp 300 juta pada 2007, hingga secara bertahap naik menjadi Rp 500 juta di tahun 2013. Adapun bunga pinjaman berkisar mulai 12% sampai 13% per tahun.
Suntikan modal itu memacu semangat Heri untuk membesarkan bisnis gula merahnya. Uang pinjaman itu langsung ia salurkan lagi sebagai modal bagi para agen dan penderes gula merah. "Modalnya digunakan untuk kebutuhan biaya hidup penderes, ada pula yang saya belikan mobil agar para agen dan penderes bisa loyal," ujarnya.
Kendati sudah memberikan bantuan modal, tapi ada saja beberapa agen yang tidak loyal dan menjual gula merah kepada pengepul yang lain. Menghadapi masalah itu, pria 43 tahun ini tetap mengedepankan pendekatan kekeluargaan.
Ia tetap merangkul mereka dan mengajaknya berkomunikasi untuk mencari tahu penyebab dan kendala yang dihadapi. "Jika masih sulit dan nakal, mau tidak mau saya putus hubungan kerja," ujarnya.
Hingga saat ini, Heri telah memiliki sekitar 25 agen gula merah, yang tersebar di Lampung Timur. Antara lain di daerah Taman Sari, Simpang Agung, Way Jepara, Wono Sari, Braja Sakti, Braja Selebah, dan Sidomulyo.
Setiap agen rata-rata memiliki 10 penderes gula merah. Dalam satu minggu, ia berhasil mengumpulkan 20 ton gula merah. Total omzet yang ia peroleh dalam sebulan mencapai Rp 500 juta hingga Rp 600 juta, dengan laba bersih 30%.
Hampir seluruh pasar induk di Lampung Timur dan sebagian wilayah di Palembang menampung gula merah dagangan Heri. Ia juga memasok gula merah untuk salah satu pabrik kecap nasional.
(Bersambung)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)