PELUANG USAHA
Berita
Sentra lukisan Jelekong: Semua bermula dari inisiatif pelukis otodidak (2)

SENTRA LUKISAN JELEKONG, BANDUNG

Sentra lukisan Jelekong: Semua bermula dari inisiatif pelukis otodidak (2)


Telah dibaca sebanyak 2652 kali
Sentra lukisan Jelekong: Semua bermula dari inisiatif pelukis otodidak (2)

Sentra lukisan di Desa Jelengkong, Baleendah, Bandung, berkembang sejak 1960-an. Banyak warga ikut dalam kegiatan melukis karena melihat potensi ekonominya yang tinggi. Kini, bekerja sebagai pelukis sudah menjadi tradisi yang sudah dilakoni secara turun temurun.

Bagi warga Desa Jelekong, melukis adalah napas hidup mereka sehari-hari. Bagaimana tidak, dengan lukisan itulah mereka bisa melanjutkan hidup ini dengan lebih baik.

Sebagian warga Jelekong memang mengandalkan lukisan sebagai penyangga ekonomi keluarga. Karena itu, mereka jelas begitu gembira kalau lukisan mereka dibeli dengan harga tinggi.

Kalau merunut ke belakang, sebenarnya, keahlian warga melukis di atas kanvas itu punya kisah yang panjang. Sebab, tradisi melukis di Desa Jelengkong sudah muncul sejak 1960-an.

Menurut Indira Sukmawati, pelukis sekaligus pemilik galeri lukisan Karya Siliwangi, adalah warga desa bernama Odin Rohidin yang merintis seni lukis di Desa Jelekong.

Odin adalah pelukis otodidak alias belajar sendiri. Karena gemar melukis, Odin mendirikan galeri sendiri untuk memajang karyanya. "Saban minggu Odin bisa menjual dua sampai tiga lukisan," kata Indira.

Karena lukisan Odin laku dijual, membuat sebagian warga lainnya tertarik membuat lukisan serupa dan ingin belajar pada Odin. Karena Odin bukanlah pria yang pelit berbagai ilmu, dengan senang hati dia mengajari warga melukis.

Menurut Indira, Odin sengaja membuat program atau kurikulum belajar melukis kepada warga. Cara mengajar Odin juga unik, yakni dengan mengajari satu demi satu warga, sampai si warga itu benar-benar bisa menuangkan seni lukis di atas selembar kanvas.

Lambat laun jumlah jumlah warga yang melukis makin banyak. Begitu juga dengan jumlah lukisannya. Agar tidak menumpuk, sebagian warga yang menjadi murid Odin mulai bikin galeri sendiri di rumah masing-masing. "Kini 40% dari pelukis itu adalah usia produktif," kata Indira.

Kini, di Desa Jelengkong terdapat beberapa RT yang menjadi pusat aktivitas melukis. Seperti RT 07, RT 04, dan di RT 08. "Juga ada sebagian di Desa tetangga," terang Indira.

Karena memiliki guru yang sama, karakter lukisan asal Desa Jelengkong juga hampir sama. Banyak lukisan karya warga yang mengadopsi karakter lukisan Odin yang beraliran naturalis yang menampilkan objek pemandangan alam, hewan, dan juga lukisan manusia.

"Tetapi ada juga pelukis yang berkarakter pewayangan," kata Chandra Heriawan, pelukis dari galeri The Message. Sayangnya, sejak krisis ekonomi melanda Indonesia pada 1998, lukisan hasil karya seniman Jelekong mulai kehilangan pasar.

Menurut Indira, para pelukis mulai kesulitan menjual setelah harga bahan baku lukisan, seperti minyak cat, kanvas, dan bingkai lukisan mulai naik tajam.

Kalau sebelum krisis, saban pelukis bisa menjual 10 sampai 20 lukisan per tahun. "Ketika itu, harga lukisan rata-rata hanya Rp 100.000 per lukisan," ujar Indira.

Kondisi pelukis Jelengkong makin berat setelah krisis. Ketika itu, dengan harga bahan baku yang melambung tinggi, jumlah lukisan yang mereka jual pun semakin menurun.

Memang, harga lukisan jadi mahal tetapi jumlah pembeli juga semakin sedikit. Setahun bisa menjual 10 lukisan itu sudah bagus," imbuhnya.

Dengan kondisi seperti sekarang, para pelukis berharap pemerintah mau memperhatikan. Gayung bersambut, Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf dalam waktu dekat ini akan mengadakan festival Jelekong. Nah, salah satu yang dijual dalam festival tersebut selain lukisan adalah wayang golek. Tradisi wayang golek di Jelekong juga sudah kondang di seantero Jawa Barat.

(Selesai)

Editor: Tri Adi
Telah dibaca sebanyak 2652 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Siap-siap, mobil murah tak lagi terjangkau

    +

    Harga mobil LCGC kemungkinan naik akibat inflasi dan pengurangan insentif.

    Baca lebih detail..

  • Adu gengsi produsen otomotif

    +

    Tren mobil baru di ajang Indonesia International Motor Show 2014.

    Baca lebih detail..