PELUANG USAHA
Berita
Sentra ukiran Cipacing: Pusat ukiran kayu tertua di tanah Sunda (1)

SENTRA UKIRAN CIPACING, SUMEDANG

Sentra ukiran Cipacing: Pusat ukiran kayu tertua di tanah Sunda (1)


Telah dibaca sebanyak 3458 kali
Sentra ukiran Cipacing: Pusat ukiran kayu tertua di tanah Sunda (1)

Sumedang tidak hanya identik dengan produk tahu. Di sana juga ada pusat kerajinan ukiran kayu yang telah berumur puluhan tahun. Lokasi sentra itu ada di Cipacing, Desa Cikeruh, Kecamatan Jatinangor, Sumedang. Kerajinan kayu itu telah merambah pasar luar negeri.

Di Desa Cipacing yang terletak di perbatasan Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Bandung timur ternyata terdapat pusat kerajinan yang luput dari perhatian khalayak. Di sana ada puluhan warga yang menekuni pembuatan kerajinan ukiran kayu.

Bagi warga Desa Cipacing, kerajinan itu tak hanya bernilai ekonomis, namun juga bentuk perhatian mereka terhadap budaya Sunda. Produk kerajinan ukiran kayu Cipacing itu antara lain berupa patung kayu, alat musik, dan juga wayang golek.

Nah, jika Anda berniat datang ke sentra kerajinan kayu ini dari Jakarta, tinggal arahkan kendaraan menuju pintu keluar tol Cileunyi. Setelah itu arahkan kendaraan menuju Garut. Kurang lebih 1 kilometer dari pintu tol itu, Anda akan bertemu deretan kios yang menjual kerajinan ukiran kayu dari Cipacing itu.

Di sentra ini, setidaknya ada 12 pedagang yang membuka kios yang menjual kerajinan berupa alat musik rebana, gendang, angklung, topeng, patung, lukisan, dan juga jimbe serta aneka suvenir dari kayu.

Deden Nurrohman, salah satu pemilik kios bilang, pusat kerajinan ukiran kayu Cipacing itu sudah ada sejak puluhan tahun lalu. "Sentra ini ada sejak tahun 1970," kata pemilik kios Panyindangan Art Shop itu.

Bahkan Deden mengklaim, sentra itu merupakan sentra ukiran kayu tertua di Jawa Barat. Banyak perajin dan pedagang ukiran kayu mewarisi keahlian serta usaha perdagangan ukiran secara turun temurun.

Demikian juga dengan Deden. Dia mewarisi usaha kerajinan kayu dari orang tuanya yang membuka kios sejak 1982 lalu, saat itu jumlah kios masih terbatas. Tahun 2000 jumlah kios bertambah menjadi 10 kios. "Jumlah perajinnya ada sekitar 50 orang," terang Deden.

Setelah tahun 2000-an jumlah perajin ukiran kayu itu terus bertambah hingga berjumlah 80-an orang. Kebanyakan dari mereka adalah warga Cipacing.

Dalam memasarkan hasil kerajinan, pedagang menjual dengan harga beragam. Harga termurah adalah suvenir pena kayu yang dijual seharga Rp 25.000 per buah.

Untuk wayang golek harganya lumayan mahal, sekitar Rp 350.000 per buah. Adapun harga kerajinan termahal adalah satu set alat musik rebana yang dijual Rp 2,5 juta. "Harga kami lebih murah dibandingkan dengan harga di kota," klaim Deden.

Produk kerajinan kayu itu tidak hanya melayani pesanan domestik. Deden bilang sebagian pedagang juga mendapat pesanan dari luar negeri. "Pembeli dari luar kebanyakan dari Filipina, Jepang, Prancis, dan Amerika Serikat," kata Deden yang mengaku bisa meraih omzet Rp 100 juta per bulan.

Selain Deden, ada Suryadi. Pemilik toko Golden Wood ini juga berjualan kerajinan ukiran kayu. Namun, Suryadi terkenal sebagai pedagang yang khusus melayani permintaan wayang golek khas sunda.

Namun, ia juga menjual alat musik jimbe, khas Afrika. "Alat musik itu dari Afrika ini bisa diproduksi di sini," terang Suryadi.

Agar jimbe van Cipacing ini berbeda dengan jimbe asal Afrika, perajin memberikan ukiran khas Sunda pada alat musik itu. Soal harga, jimbe ukuran 80 centimeter (cm) dijual Rp 500.000 per buah.

(Bersambung)

Editor: Tri Adi
Telah dibaca sebanyak 3458 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Risiko berbeda, premi tiap daerah seharusnya berbeda juga

    +

    Dalam uji coba pertama, Jasindo mengkover 600 hektare (ha) lahan dengan biaya premi Rp 100 juta.

    Baca lebih detail..

  • Agar sukses, perlu insentif bagi penyuluh lapangan

    +

    Program asuransi pertanian menjadi salah satu upaya pemerintah untuk melindungi petani dari efek perubahan iklim. Hanya saja masih banyak kekurangan yang ditemui, seperti kurangnya sosialisasi dan tidak adanya insentif bagi penyuluh pertanian lapa

    Baca lebih detail..