Penulis: Arif Budianto | Editor: Sanny Cicilia
Perjalanan 25 tahun bukan hal mudah bagi usaha kecil menengah di bidang kuliner. Ketulusan dan keberanian dalam mengambil peluang menjadi bekal Diyon bertahan mengelola usaha rumahmakan bertajuk Ikan Bakar Mas Diyon, yang dia rintis di kawasan Kukusan, Depok, Jawa Barat, sejak 2001 lalu.
PERJALANAN bisnis kuliner bermula ketika Diyon masih menjalani keseharian sebagai pedagang keliling di sekitar wilayah Jakarta. Berkat kebiasaannya nongkrong di Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Pasar Minggu, ia bertemu dengan seorang dosen asal Blitar.
Pertemuan tersebut jadi titik balik kehidupannya. Sang dosen mengajaknya mengubah nasib lewat dunia usaha kuliner dan membukakan sebuah tempat usaha di daerah Kukusan.
Meski awalnya berjualan bubur ayam, Diyon belajar mengelola budidaya perikanan. Di 2001, dengan keinginannya membangun relasi, ia pun aktif mengelola budidaya ikan didampingi tim Kementerian Perikanan.
Usaha yang dia rintis sempat berkembang pesat hingga memiliki delapan cabang warung makan di berbagai titik. Namun, ujian berat menghampiri ketika sang mitra sekaligus mentor berpulang ke rahmatullah, membuat jaringan usahanya terhenti seketika.
"Tapi, yang namanya umur enggak ada yang tahu, beliau wafat terus enggak berlanjut," ujarnya kepada KONTAN belum lama ini.
Di tengah kebingungan, Diyon sempat menemui istri mendiang dosen untuk meminta kejelasan arah langkah selanjutnya. Sang istri almarhum memberikan keleluasaan penuh baginya untuk melanjutkan perjuangan seorang diri.
Berbekal resep bumbu rahasia warisan sang dosen, Diyon mulai meracik sendiri menu andalannya setiap hari. Racikan dasar, seperti bawang putih, lada, kunyit, dan lengkuas, dia padukan dengan rahasia khusus.
"Tambahkan dengan mentega," ungkapnya.
Sejak itu, Diyon belajar lebih banyak mengenai ikan laut yang dibudidayakan, seperti kerapu, baronang, ekor kuning, hingga kue. Tapi, ketika stok ikan kosong, dia menyiasati dengan mengambil bahan baku terdekat di Pasar Parung, Bogor, atau kawasan Kahfi II, Jakarta Selatan.
Dari segi harga, penyesuaian terus ia lakukan mengikuti tren kenaikan harga bahan pokok di pasaran sejak awal merintis. Jika dulu harga ikan gurame berkisar di angka Rp 18.000 per kilogram, kini harganya telah melonjak hingga menembus Rp 70.000. Kendati demikian, dia tetap menetapkan harga jual yang terjangkau demi menjaga loyalitas para pelanggan biar tidak merasa kapok.
Ketangguhan mental Diyon juga diuji ketika badai pandemi Covid-19 melanda dan membuat omzet penjualan menurun drastis. Untunglah, pemilik kontrakan tidak mempersulit dengan menaikkan harga sewa.
Berbekal hidup sederhana dan konsistensi puluhan tahun, Diyon membuahkan hasil yang sedap bagi masa depan keluarganya. Anak pertamanya berhasil meniti karier sebagai seorang guru, sementara anak kedua tengah menempuh pendidikan di pesantren di Sidoarjo, Jawa Timur. Seluruh pencapaian berharga ini membuktikan bahwa ketekunan mampu mengantarkan pelaku usaha kecil meraih kesejahteraan hidup.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














