kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.022,99   -3,35   -0.33%
  • EMAS972.000 -0,21%
  • RD.SAHAM -0.27%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.09%

AC Ventures Lebih Selektif dalam Memberikan Pendanaan Perusahaan Rintisan (Startup)


Jumat, 15 Juli 2022 / 20:29 WIB
AC Ventures Lebih Selektif dalam Memberikan Pendanaan Perusahaan Rintisan (Startup)
ILUSTRASI. Teknologi pemesanan menu restoran ESB Kiosk. AC Ventures Lebih Selektif dalam Memberikan Pendanaan Perusahaan Rintisan (Startup)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Persaingan bisnis perusahaan rintisan (startup) kini semakin ketat. Akhir-akhir ini banyak startup khususnya di Indonesia yang tumbang, disinyalir berkurangnya pendanaan dari para investor. Tidak hanya itu, banyak juga startup di Indonesia yang harus melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan.

PHK yang terjadi pada startup ini bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di beberapa startup internasional yang juga melakukan PHK besar-besaran pada tahun ini, seperti Netflix dan Robinhood.

Founder & Managing Partner AC Ventures Michael Soerijadji mengatakan bahwa meski saat ini banyak startup di Indonesia yang bertumbangan, namun pihaknya masih memberikan pendanaan kepada beberapa startup di Indonesia. Sepanjang tahun 2022 ini, AC Ventures telah memberikan pendanaan kepada lima hingga 10 startup baru.

Sementara pada tahun 2021, AC Ventures tercatat telah memberikan pendanaan kepada kurang lebih 15 startup di Indonesia.

"Untuk Fund ke-III ACV, yang kami tutup di tahun 2021, kami sudah melakukan investasi senilai hampir Rp 2 triliun dengan gross IRR yang mendekati 100%," ujar Michael kepada Kontan.co.id, Jumat (15/7).

Baca Juga: Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Startup Diprediksi Terjadi Hingga 2 Tahun Lagi

Michael mengatakan, sebenarnya situasi Indonesia pada saat ini dapat dikatakan relatif baik jika dibandingkan dengan keadaan ekonomi dunia. Hal tersebut tercermin dari produk domestik bruto (PDB) yang mencatat pertumbuhan yang stabil di angka 5,01% pada kuartal I-2022. Sementara itu, private consumption juga meningkat sebesar 4,3% yoy.

"Kami memperkirakan, pertumbuhan ini akan berlanjut di kuartal II-2022 didukung oleh inflasi yang rendah, tren mobilitas yang optimis, dan pertumbuhan demand yang selanjutnya akan mendorong pertumbuhan di dalam negeri," katanya.

Namun demikian, Indonesia juga tidak sepenuhnya terinsulasi dari situasi global yang tidak kondisif, seperti tekanan inflasi yang tinggi, perlambatan ekonomi, dan pengetatan moneter yang agresif. 

Sehingga untuk ke depannya, Michael mengatakan bahwa AC Ventures dalam memberikan pendanaan akan menjadi lebih selektif. Selain itu para founder (startup) juga harus memikirkan capital efficiency dalam berkembang menuju profitabilitas.

"Tidak ada yang bisa memprediksi berapa lama kondisi ini akan berlangsung. Inflasi di AS saat ini mencapai level tertinggi dalam 40 tahun. Inflasi global juga sangat tinggi dengan adanya hambatan dari sisi supply. Namun, kami berpendapat perekonomian nasional akan lebih tangguh dan meningkat lebih dahulu," tutur Michael.

Baca Juga: Zenius Pastikan Beri Pesangon pada Karyawan yang di-PHK

Michael mengatakan, pihaknya tidak memiliki kriteria khusus dalam melakukan injeksi modal kepada startup, namun secara garis besar, AC Ventures memiliki tema investasi yang mengikuti besarnya perubahan perilaku yang mengadopsi teknologi.

"Selama ini kami melihat potensi yang besar dalam sektor e-commerce, fintech, pemberdayaan UMKM dan comsumer tech," ungkap Michael.

Meski begitu, pihaknya terus melakukan studi di sektor dan peluang-peluang yang baru seiring berkembangnya konsumen dan bisnis yang ada di Indonesia, terutama sektor-sektor yang telah melihat keberhasilan di pasar yang sebanding seperti Amerika dan India.

Michael mengungkapkan, di tengah situasi saat ini, pihaknya telah memberikan arahan kepada founder startup yang berada di bawah payung AC Ventures untuk meningkatkan efisiensi dan untuk menyiapkan runway minimal sepanjang 18 hingga 24 bulan.

Adapun arahan tersebut seperti fokus terhadap core business model, mengurangi pengeluaran yang tidak diperlukan, lebih efisien dalam mengelola biaya marketing, dan lebih bijaksana dalam melakukan organizational expansion.

Namun menurutnya, yang terpenting adalah kembali mengutamakan unit economics dan berkembang secara sustainable.

Baca Juga: Startup Berguguran, John Riady: Banyak Startup Alami Krisis Talenta

"Cara-cara ini mungkin dapat digunakan oleh para founder startup untuk menjaga perputaran roda bisnis mereka, sehingga dapat menarik modal ventura (VC) untuk memberikan pendanaan kepada mereka," kata Michael.

Sebagai penutup, Michael mengatakan, pihaknya tidak memiliki target pendanaan per tahun. Namun dirinya mengaku, AC Ventures menjadi salah satu investor paling aktif di Indonesia karena pihaknya telah menerima ribuan proposal investasi di setiap tahunnya.

"Selain Astro, Atma, dan PINA yang baru-baru ini kami umumkan telah mendapat pendanaan tambahan dari AC Ventures, sudah ada beberapa investasi lain yang akan kami umumkan dalam waktu dekat," tutup Michael.

 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Digital Marketing in New Normal Era Data Analysis with Excel Pivot Table

[X]
×