kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45866,25   0,74   0.09%
  • EMAS918.000 0,11%
  • RD.SAHAM -0.32%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Adit mendesain pakaian sesuai dengan keinginan pelanggan (2)


Rabu, 19 Oktober 2011 / 13:18 WIB
Adit mendesain pakaian sesuai dengan keinginan pelanggan (2)
ILUSTRASI. Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu, Askolani

Reporter: Fitri Nur Arifenie | Editor: Tri Adi

Kepuasan dan kepercayaan pelanggan adalah kunci utama Adit Yakobus untuk menjadi desainer sukses. Ia selalu menyesuaikan konsep desain sesuai dengan keinginan dan bentuk tubuh pelanggan. Untuk menjaga kualitas, Adit pun ogah menerima order mendadak dan namun dia memberi garansi seluruh rancangannya.

Kepuasan adalah kunci utama kesuksesan dalam desain fesyen. Adit Yakobus pun sangat menyadari hal ini.

Untuk itulah, Adit selalu berusaha merancang busana sesuai dengan permintaan pelanggan. Apalagi Adit acap membuat busana sesuai dengan kemampuan kantong pelanggannya yang kebanyakan berasal dari kalangan pebisnis.

Sebagai desainer, Adit tak ingin egois memaksakan rancangannya untuk pelanggan. "Saya memang memiliki konsep, tapi saya selalu mengombinasikan konsep ini dengan keinginan pelanggan," kata Adit.

Selama menggeluti dunia fesyen, Adit juga telah merasakan jatuh bangun saat mengembangkan usahanya. Pada saat awal menjalani profesi ini, pelanggan hanya menawarkan Adit kesempatan kedua. Artinya, pelanggan baru datang kepadanya ketika mereka tak puas dengan gaun malam rancangan desainer lainnya.

Tapi, Adit tak pernah patah arang. Dia tetap berusaha memberikan layanan terbaik untuk pelanggan. Itulah sebabnya, demi kepuasan pelanggan, Adit berusaha menyesuaikan desain baju dengan bentuk tubuh pemesan baju. "Kalau model tentu akan terlihat bagus memakai baju dengan model apa pun, tapi pelanggan saya juga ada yang memiliki berat badan lebih," kata Adit.

Kalau pelanggan memiliki ide rancangan baju sendiri, maka Adit akan memberikan banyak masukan. Seperti, bagian mana yang harus disamarkan atau ditonjolkan. "Saya memberikan berbagai saran supaya mereka terlihat bagus saat memakai busana rancangan saya," terang Adit.

Karena itu, seorang perancang harus memiliki tingkat kesabaran yang tinggi. "Mereka memiliki berbagai macam karakter. Ada pelanggan dengan banyak permintaan, ada pula karakter pelanggan yang ingin serbasimpel dan tak banyak menuntut," tuturnya.

Untuk menghadapi konsumen dengan banyak permintaan ini, tentu Adit harus bersikap sabar. "Karena mereka pelanggan saya, sehingga saya harus memberikan yang terbaik untuk mereka," kata Adit.

Sampai saat ini, Adit tak pernah berpromosi. Ia masih mengandalkan jaringan promosi dari mulut ke mulut. Nah, agar promosi dari mulut ke mulut tetap jalan, Adit benar-benar menjaga kualitas dan pelayanannya.

Bagi Adit, selain kepuasan pelanggan, ia juga harus menjaga kepercayaan. "Sehingga mereka akan balik lagi dan balik lagi. Paling tidak mereka akan mempromosikan saya kepada teman dan kolega mereka," katanya.

Saat menerima order, Adit pun tak mau menerima semua order yang datang. Ia hanya akan menerima pembuatan sebuah busana, minimal tiga bulan sebelum hari H atau kapan baju itu akan dipakai.

Pasalnya, Adit membutuhkan waktu sekitar sebulan untuk membuat gaun. Kemudian, satu bulan lagi untuk fitting atau mengepas baju itu. "Satu bulan terakhir adalah waktu jika ada perbaikan atau perubahan," kata pria asal Maluku itu.

Untuk menjamin kepuasan pelanggan, Adit juga memberikan garansi kepada semua pelanggannya. Garansi ini diberikan, jika pelanggan merasa kurang puas dengan busana hasil buatannya.

Ia pun akan mempermak ulang busana tersebut, tanpa mengutip biaya tambahan. "Namun, saya juga membatasi, garansi gaun yang sudah dibawa pulang, hanya boleh dipermak dua kali. Kalau lebih dari dua kali, saya kenakan charge," kata Adit.

Biasanya, pelanggan yang sering melakukan permak ulang adalah kaum wanita. Karena, kaum wanita tersebut sulit untuk menjaga tubuhnya, terutama wanita yang sudah berumur. "Kebanyakan setelah bajunya jadi selalu enggak cukup, kekecilan sehingga harus dibongkar lagi," kata Adit.

Padahal, pekerjaan mempermak inilah yang paling sulit. Kalau boleh memilih, Adit lebih senang membuat baju baru, ketimbang menjahit ulang. "Saya selalu tekankan kepada pelanggan untuk menjaga badan," terang Adit.

Anak muda yang beromzet hingga ratusan juta rupiah ini pun mengaku selalu bersyukur kepada Tuhan. Apalagi bila mengingat saat-saat awal mencari pelanggan di dunia fesyen ini. "Puji syukur kepada Tuhan yang baik kepada saya, sehingga saya bisa seperti ini," kata Adit penuh syukur.
(Bersambung)




TERBARU

[X]
×