kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.315.000 0,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Banting setir Halistya berbuntut hoki


Senin, 02 September 2013 / 12:45 WIB
Banting setir Halistya berbuntut hoki
ILUSTRASI. Suhu Planet Neptunus Fluktuatif, Para Ilmuwan Kebingungan Mengapa Demikian


Reporter: J. Ani Kristanti | Editor: Tri Adi

Tak banyak pengusaha yang mendapat peluang saat krisis moneter 15 tahun silam. Halistya Pramana adalah salah satunya. Ia tergerak membuat furnitur berkualitas, mengisi kekosongan produk kelas atas.  Kini, 30 gerai Vinoti Living tersebar di berbagai kota besar.

Setia pada cintanya di dunia desain mengantarkan Halistya Pramana sukses berkiprah di dunia bisnis. Setelah puluhan tahun menekuni bisnis furnitur, kini Halistya memiliki sejumlah brand yang membidik pasar kelas atas. Puluhan gerainya tersebar di berbagai pusat belanja kota-kota besar di Indonesia.

Sedari kecil, Halistya tertarik pada dunia arsitektur. Tak heran, perempuan yang lahir di Jakarta, 22 Maret 1959, ini pun menjatuhkan pilihan studi arsitektur di Universitas Parahyangan, selepas menamatkan pendidikan menengah atas.

Sesuai dengan latar belakang pendidikannya, Halistya bergabung di sebuah konsultan desain interior. Tak hanya merancang, di situ, Halistya ikut menangani pembuatan berbagai perabot sesuai dengan desainnya. Dari situlah ia mencium peluang untuk menggeluti bisnis furnitur perkantoran. Sebab, “Saat itu, masih jarang office furniture yang dijual dalam produk standar,” ujar Halistya.

Bersama seorang teman, Halistya pun mendirikan Vinoti Office Furniture pada Januari 1988. “Modalnya pinjam uang orang tua,” tutur Halistya. Sembari menawarkan beragam perabot kantor, Vinoti juga menjadi agen dari produk furnitur asal luar negeri. Selain furnitur kantor, Vinoti juga menjadi agen untuk furnitur impor untuk rumah tinggal.

Bisnis berjalan sampai 1998, badai krisis ekonomi ikut mengguncang Vinoti. Nilai tukar rupiah yang melemah melambungkan harga furnitur impor. Di lain pihak, Halistya melihat, banyak perusahaan yang melakukan efisiensi sehingga proyek kantoran susah didapat.

Tak mau ikut terpuruk, Halistya segera memutar otak. Ia cepat-cepat mengubah strategi. “Furnitur itu harus dibuat lokal,” kata ibu dua putra ini. Vinoti pun mulai merambah produk furnitur untuk rumah tinggal, untuk mengisi kekosongan pasokan dari produk impor.

Dari situasi macam itu, lahir Vinoti Living. Tepatnya pada Januari  1999, “Gerai pertama Vinoti Living dibuka di Plaza Senayan,” kenang dia.

Awalnya, Halistya mempunyai orientasi ekspor untuk furnitur rumah tangga. Selain itu, ia ingin mengisi kekosongan pasar furnitur berkualitas tinggi. Maklum, saat rupiah melemah, furnitur impor tak lagi terjangkau oleh konsumen.

Beruntung, selama menjadi agen merek impor, Halistya bisa belajar banyak soal furnitur berkualitas, termasuk soal konsep desain. “Kita harus buka mata, apa yang bagus di luar. Kalau memang bisa diterapkan, kenapa tidak?” ujar dia. Alhasil, ia pun tak mengalami kesulitan berarti untuk mengembangkan Vinoti Living.


Pertajam segmen

Namun, tak selamanya, bisnis Halistya berjalan mulus. Di tengah perjalanan mengembangkan perusahaan, ujian kembali datang. Setelah mengurus usaha bersama hingga belasan tahun, ia dan  teman yang menjadi partnernya tak lagi memiliki visi yang sama. Mereka pun berpisah, meski tetap ada perusahaan yang hingga kini tetap menjadi milik berdua.

Halistya pun harus berjalan sendiri, bersama tim Vinoti Living. Tantangan terberatnya adalah bagaimana membuat produk dengan kualitas yang sama, seperti produk sebelumnya. Maklum, selama berkongsi, ia berbagi peran. Halistya lebih banyak mengelola pemasaran dan desain, sementara sang rekan bertanggung jawab di bagian produksi. “Jadi, saya seperti memulai usaha lagi,” jelas wanita yang menyelesaikan gelar master di Arizona State University, Amerika Serikat.

Sang suami, Freddy Susilo, akhirnya ikut terjun, membantu Halistya dalam urusan produksi. Pelan-pelan, produksi furnitur kembali bangkit. Lantas, mereka membuka pabrik baru di Jonggol, Bogor.

Tak berhenti di Vinoti Living, Halistya terus mengembangkan produk dan tetap  fokus  menggarap pasar kelas atas. Ia juga membagi-bagi pasar premium berdasarkan segmennya masing-masing.

Misalnya, brand VL Brio yang meluncur pada 2007 silam. Berbeda dengan Vinoti Living menawarkan produk furnitur dengan titik berat konsep minimalis, VL Brio lebih bersifat muda dan pretty.  “Saya ingin VL Brio untuk kalangan muda atau keluarga baru,” jelas Halistya.

Kemudian, dia juga membuat produk untuk segmen yang lebih premium melalui brand Livvi Casa yang berkonsep industrial klasik. Di produk ini, Halistya mulai mengajak buah hatinya, Vinny Vania, yang akhirnya terjun sebagai desainer interior, untuk berperan sebagai desainer Livvi Casa.

Februari lalu, Halistya juga meluncurkan produk baru, Kayu Ayu, yang berkonsep chinese. “Saya take over sebagian saham sebuah perusahaan yang berdiri 1999,” ujar dia. Kemudian, Halistya melengkapi bisnisnya dengan produk perlengkapan ruang tidur dan kamar mandi, dengan merek Essential Bed & Bath. “Di usaha ini, saya menggandeng kerja sama dengan teman asal Australia yang benar-benar paham beragam produk ini,” ujarnya.

Setelah produknya dipasarkan melalui 30 gerai, Halistya mampu membukukan omzet hingga miliaran rupiah per bulan. Di kantor baru yang ia tempati sejak tahun lalu, di kawasan Cipinang Besar, Jakarta, ia mengelola lebih dari 500 karyawan yang membantunya, baik di gerai maupun produksi.     

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×