kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Bertandang ke Kampung Jahe di Bugel, Tangerang (1)


Sabtu, 08 Februari 2020 / 12:00 WIB
Bertandang ke Kampung Jahe di Bugel, Tangerang (1)

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tanaman jahe biasanya bisa kita dapatkan di daerah perkampungan. Tapi siapa sangka, di Kelurahan Bugel, Kecamatan Karawaci, Tangerang, persisnya di RW 07, terdapat Kampung Tematik Jahe. Di daerah pemukiman tersebut, sebagian besar warga disana sudah menanam jahe, terutama jahe merah.

Menurut Hanifah, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Kenangan RW 07 Bugel, Karawaci, keberadaan kampung tersebut terbentuk berkat adanya program pemerintah untuk membentuk kampung tematik. 
 
Kebetulan, di daerah tersebut sudah ada rumah produksi jahe yang ia miliki. "Sebelum ada kampung jahe ini, saya selalu mendapatkan pasokan jahe dari pasar terdekat. Kenapa tidak warga saja yang membudidayakan jahe sekaligus mengolahnya, jadi dari hulu ke hilir," katanya kepada  KONTAN, Selasa (4/2).
Akhirnya warga setempat mulai menanam jahe, terutama jahe merah pada 2018. Bibit berasal dari bantuan Pemerintah Kota Tangerang. Masing-masing RT mendapat 150 bibit jahe. Di RW 07, ada empat RT. Saat ini sekitar 60% warga menekuni budidaya jahe merah.
Hanifah sendiri merupakan kader Dinas Pertanian yang sudah sejak 2015 memiliki usaha rumah produksi olahan jahe. Saat ini ia mendapat pasokan bahan baku dari hasil budidaya warga. "Biasanya satu warga ada yang setor ke saya sekitar 2,5 kilogram. Ada yang mereka olah sendiri dan dipasarkan melalui saya," katanya.
 
Produk olahan jahe yang dibuat di Kampung Jahe Bugel beragam. Mulai dari serbuk jahe, sirup jahe dan permen jahe. Harga sirup jahe dibanderol Rp 30.000 per botol ukiran 250 ml, permen jahe Rp 15.000 satu pak dan serbuk jahe Rp 25.000 per kemasan.
 
Pemasaran produk olahan jahe masih memanfaatkan pameran yang digelar di sekitar Kota Tangerang . Selain itu ada juga warga yang memasarkan di tempat kerja masing-masing. 
 
Hasilnya pun tergolong lumayan. Dalam sebulan, kelompok ini bisa meraup omzet sekitar Rp 2,5 juta sampai Rp 3,5 juta per bulan. "Yang favorit adalah sirup jahe," imbuh Hanifah.
 
Malah, produk olahan jahe di rumah produksi di RW 07 sudah tembus pasar Jepang meski baru sebatas kecil-kecilan. Yakni sudah bisa dipasarkan di salah satu pasar halal di Kobe. "Kebetulan anak sekolah di Jepang dan coba memasarkan dan hasilnya bagus. Terakhir kirim 10 kilogram jahe serbuk," tuturnya.
 
Selain menanam di pekarangan masing-masing, budidaya jahe juga berlangsung di lahan kelolaan KWT di atas lahan seluas 150 m². Tak cuma jahe, beragam sayur mayur juga ditanam di areal tersebut untuk tambah penghasilan.   
 
(Bersambung)




TERBARU

Close [X]
×