kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45991,58   -19,63   -1.94%
  • EMAS957.000 -0,42%
  • RD.SAHAM -1.52%
  • RD.CAMPURAN -0.63%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Bonsai kelapa semakin tren di masa pandemi


Sabtu, 05 Desember 2020 / 10:45 WIB
Bonsai kelapa semakin tren di masa pandemi


Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Banyak kegiatan yang bisa orang lakukan saat pandemi virus korona baru. Misalnya, bercocok tanam tanaman hias. Yang masih tren sampai saat ini serta yang tidak lekang oleh waktu adalah membonsai tanaman.

Biasanya, orang melakukan kegiatan bonsai tanaman untuk beringin, asam jawa, cemara udang, adenium atau kamboja Jepang, hingga pohon jambu. Nah, selama pandemi berlangsung, mulai banyak yang membonsai kelapa alias bonkla, dengan memanfaatkan pohon kelapa jenis kelapa gading. Setelah jadi, bonsai kelapa bisa jadi pemanis ruangan.

Permintaan bonsai kelapa mulai menanjak pada April dan Mei lalu. Menurut salah satu pembudidaya bonsai, termasuk bonsai kelapa, Tommy Oktavian asal Bengkulu, puncak permintaan bonsai kelapa terjadi di periode tersebut. Dalam sebulan, ketika itu, ia sanggup menjual hingga 70 pot bonsai kelapa.

Namun, setelah periode di awal-awal pandemi itu, permintaan agak menurun seiring tren baru tanaman hias, yakni janda bolong. Meski begitu, Tommy menyebutkan, bonsai kelapa diklaim tidak gampang naik turun permintaannya. "Permintaan bonsai kelapa sebenarnya stabil karena peminatnya terus ada," katanya kepada KONTAN.

Baca Juga: Menjumput laba lumut moss, si hijau karpet akuarium

Saat ini, Tommy membanderol harga satu pot bonsai kelapa Rp 250.000 sampai Rp 300.000, tergantung dari bentuk dan besarnya. Hanya saat booming beberapa bulan lalu, harga bonsai kelapa sempat menyentuh harga di Rp 500.000 per pot.

Kini, Tommy sanggup meraup omzet hingga Rp 2,4 juta dari budidaya bonsai kelapa, dengan minimal penjualan 8 pot per bulan. Sistem penjualannya masih mengandalkan pemasaran melalui media sosial.

Hanya, budidaya bonsai kelapa masih merupakan usaha sampingan dari Tommy. Meski begitu, ia bakal mengembangkan usaha bonsai kelapa dengan memperluas penjualan di ranah marketplace. Selain itu, memasukkan bonsai kelapa hasil racikannya ke sentra kerajinan atau toko oleh-oleh di Bengkulu.

Pembudidaya bonsai kelapa lainnya, Suyatno yang berjualan di Jalan Lombok, Jakarta Pusat, memulai usaha ini sejak 2016 dan mengandalkan penjualan hanya di acara car free day saja. Sebelum pandemi korona, dia sanggup mendulang omzet sebesar Rp 4 juta hingga Rp 5 juta per bulan. Jumlah yang lumayan, mengingat bonsai kelapa cuma usaha sampingan. 

Sementara bulan lalu, ia bisa menjual hingga 9 pot bonsai ragam ukuran. Untuk ukuran tunas, dia memberi banderol harga Rp 100.000 per pot. Sedang ukuran tunas dengan usia lebih dari satu tahun, harganya bisa mencapai Rp 3 juta per pot.

Biasanya, bonsai kelapa mulai berharga tinggi setelah berusia sekitar tiga bulan sampai enam bulan. Melihat potensi yang ada, Suyatno ingin mendapat lokasi yang tetap untuk berjualan tanaman bonsai kelapa.

Selanjutnya: Menggoreng Janda Bolong Variegata

 




TERBARU

[X]
×