kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45936,49   -8,95   -0.95%
  • EMAS1.027.000 -0,19%
  • RD.SAHAM -0.04%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Budidaya bawang dayak mudah dan murah (2)


Selasa, 14 Juli 2015 / 10:00 WIB
Budidaya bawang dayak mudah dan murah (2)


Reporter: Rani Nossar | Editor: Tri Adi

Sebagai tanaman liar, bawang dayak sejatinya tetap tumbuh kendati tidak dirawat. Namun, dengan dibudidayakan secara intensif, hasilnya bisa lebih maksimal. Perawatannya juga tergolong mudah dan murah. Hanya perlu air dan pupuk secukupnya. Tanaman ini tahan hama jadi tak perlu pestisida.

Bawang dayak (Eleutherine americana) bisa dikembangkan di daerah dataran tinggi maupun rendah. Sama seperti bawang pada umumnya, bawang dayak juga dikembangkan dari umbi.

Hery Setiono, petani bawang dayak asal Balikpapan, Kalimantan Timur bilang, budidaya tanaman ini dengan cara membenamkan umbi ke dalam tanah dengan kedalaman kurang lebih 3 cm di bawah permukaan tanah yang telah digemburkan, kemudian diberi pupuk secukupnya.

Hery menyarankan, untuk daerah yang datar dan berair perlu dibuatkan bedengan terlebih dahulu supaya akar dan umbi bawang tidak tergenang air dan menjadi busuk. "Kalau kebanyakan air nanti akar sama umbinya bisa rusak dan busuk," katanya kepada KONTAN.

Supaya pertumbuhannya lebih cepat, perlu juga diberikan pupuk kandang. Pupuk kandang ini membantu menggemburkan tanah sehingga umbi lebih cepat besar dan lebih mudah saat panen. Apabila menggunakan pupuk kimia, setelahnya tanah perlu disiram dengan effective microorganisme (EM4) agar tidak menjadi keras.

Dalam waktu 6 bulan, umbi bawang dayak sudah bisa diambil dengan tinggi sekitar 20 cm. Bawang dayak ini dapat dipanen dengan tanda tanaman sudah mengeluarkan bunga.

Pembudidaya lainnya, Chevi Irawan bilang, sebagai tanaman liar, bawang dayak sejatinya tetap tumbuh kendati tidak dirawat. Namun, dengan dibudidayakan secara intensif, hasilnya tentu akan lebih baik lagi.  

Untuk mendapat hasil maksimal, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Antara lain, tanahnya harus gembur dan subur dengan campuran bahan organik. "Jarak tanam antar pohon berkisar 10 cm-20 cm," jelasnya. Menurut Chevi, kendati butuh perawatan, biayanya tidak mahal. Paling hanya berkisar Rp 200.00 per bulan. "Itu pun buat membeli pupuk saja," kata Chevi.

Menurutnya, bawang dayak tahan terhadap hama sehingga tidak perlu memakai pestisida. Hanya, di musim hujan, petani harus mewaspadai jamur yang menyerang umbi. Saat itu, buku bawang banyak lembab hingga berjamur. "Dari ratusan kilogram panen yang bisa dijual hanya puluhan kilogram saja," ujarnya.

Sementara saat musim kemarau, tidak ada risiko jamuran. Chevi menyarankan, bawang dayak ditanam di lahan terbuka dan tidak ditaruh dalam pot.

Dengan ditanam di lahan terbuka, bawang dayak bisa tumbuh maksimal. "Habitat aslinya kan di hutan, jadi cocok ditanam di lahan terbuka," katanya.  

Menariknya, kata Chevi, dengan biaya perawatan yang murah, hasil yang didapat bisa maksimal. "Permintaannya sangat tinggi,  apalagi di pasar ekspor," katanya.      
(Selesai)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×