kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45784,56   -4,98   -0.63%
  • EMAS937.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.36%
  • RD.CAMPURAN -0.47%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Dengan baby buncis, kelompok tani di Lembang bisa tembus pasar ekspor mancanegara


Sabtu, 13 Juni 2020 / 09:30 WIB
Dengan baby buncis, kelompok tani di Lembang bisa tembus pasar ekspor mancanegara

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produk sayur mayur segar kini tengah naik daun. Apalagi, seiring dengan masa pandemi Covid-19 yang mengharuskan banyak orang lebih banyak berada di rumah dan melakukan ragam aktivitas seperti masak.

Ada satu jenis sayur yang tengah menjadi buruan banyak kalangan. Tak cuma di dalam negeri saja, tapi juga sampai luar negeri. Jenis sayuran tersebut adalah buncis, khususnya baby buncis atau french bean.

Lonjakan permintaan sayur hijau itu tentu membawa berkah tersendiri bagi para petani baby buncis. Salah satunya adalah Macakal. Ini merupakan kelompok petani di Desa Cibodas, Lembang, Bandung Barat.

Baca Juga: Bulog bersiap menyerap 650.000 ton beras

Kelompok tani ini sudah berjalan delapan tahun dan sudah menanam puluhan jenis sayur. Tapi belakangan, fokus perhatian Kelompok Tani Macakal adalah ke tanaman baby buncis.

Baca Juga: Bertandang ke Kampung Jahe di Bugel, Tangerang (2)

Kelompok tersebut punya anggota 40 petani dan 210 mitra. Total luas lahan yang Kelompok Tani Macakal mencapai 22 hektare. 

Triana Andri, Ketua Kelompok Tani Macakal, mengatakan, untuk saat ini fokus perhatian Macakal yang berarti mandiri memang tanaman baby buncis. Apalagi, kelompok tani ini sudah menerapkan pola tanam yang berbeda terhadap baby buncis ketimbang produk sayur lainnya,   seperti cabai, tomat, dan jenis sayur lokal lainnya. 

Maklum, bibit baby buncis masih harus Kelompok Tani Macakal impor. Dengan metode tanam yang menerapkan teknologi tanam kekinian, mereka bisa meyakinkan pasar soal kualitas dari produk tersebut. Hingga akhirnya, produk baby buncis dari Kelompok Tani Macakal bisa masuk ke supermarket di kota-kota besar di Indonesia. 

Tak hanya itu, baby buncis dari Lembang tersebut sudah menembus pasar luar negeri. "Belum lama ini kami mengekspor ke Singapura sebanyak 1,2 ton," kata Andri kepada KONTAN.

Produk buncis yang mereka ekspor ke negeri Merlion itu dalam bentuk kemasan, dengan ukuran 150 gram. Sayang, Andri tidak memerinci nilai ekspornya. Yang jelas, untuk pasar domestik, Macakal membanderol harga baby buncis Rp 22.000 per kilogram.

Yang membuat kelompok tani ini ketagihan menanam baby buncis adalah masa tanam hingga panen dari komoditas ini relatif singkat. Yakni, antara 45 hari sampai 50 hari saja. Karena punya anggota yang banyak, maka saban hari Kelompok Tani Macakal bisa memanen baby buncis antara 500 kilogram sampai  700 kilogram. 

Sudah begitu, pasar ekspor ternyata masih menganga lebar. Sejatinya, tahun ini mereka berencana mengekspor 2 ton sampai 3 ton baby buncis ke Jeddah, Arab Saudi per minggu. Tapi, tertunda gara-gara pandemi Covid-19. Bulan depan juga ada rencana ekspor ke China sebanyak 1 ton seminggu.

Dengan potensi yang besar tersebut, Kelompok Tani Macakal berupaya memperbanyak produksi. Caranya, dengan memperluas lahan hingga keluar Lembang.



TERBARU

[X]
×