kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS991.000 1,02%
  • RD.SAHAM -0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.07%

Diana Rikasari, sarjana teknik nan lihai berbisnis


Jumat, 17 Februari 2017 / 17:33 WIB
Diana Rikasari, sarjana teknik nan lihai berbisnis


Reporter: Nisa Dwiresya Putri | Editor: Yudho Winarto

MEMASUKI usia 33 tahun, Diana Rikasari berhasil bangun tiga usaha di bidang fesyen. Dikenal sebagai businesswoman lewat brand sepatu Up, kini ia mulai menjajal usaha clothing line dan tas dengan segmen yang beragam.

Tampil nyentrik dan keren, Diana Rikasari identik dengan model rambut bob, bermacam model kacamata, stocking, serta tone warna yang colorful. Sekali lirik, orang akan langsung tertarik dengan gaya berpakaiannya. Karakter fesyen yang ditampilkannya sangat kuat. Tak ayal, bidang inilah yang dipilihnya sebagai ladang usaha.

Penggila fesyen ini lulus dari Teknik Industri Universitas Indonesia pada tahun 2006. Menyukai dunia wirausaha sejak kecil, ia pun melanjutkan studi pada program master of science. Internasional Business Course di University of Nottingham. “Dari SMP, SMA, kuliah aku sudah suka dagang,” tutur Diana.

Diana remaja sering iseng menjajakan bermacam produk hasil desain dan bikinan sendiri. Ia menyebut beberapa hasil karyanya yang sempat dipasarkan, seperti stiker, bingkai foto, tali handphone, boxer, hingga tas. Tanpa disadari, keisengannya itulah yang menjadi cikal bakal wirausaha di dirinya.

Selain suka fesyen, Diana memang tertarik pada dunia desain. Meski kedua orang tuanya senang dengan kreativitas Diana semasa kecil hingga remaja, ia tetap tak leluasa untuk pilih sekolah desain. Akhirnya, Diana mengikuti saran orang tuanya untuk masuk Prodi Teknik Industri begitu lulus SMA.

Punya latar pendidikan yang bagus, jalan Diana menuju karir yang cemerlang sudah mulai terbuka. Benar saja, Ibu satu anak ini sempat jadi pegawai kantoran selama 2,5 tahun. Ikuti panggilan jiwa, pada tahun 2010 akhirnya Diana memberanikan diri banting setir ke dunia usaha.

Produk pertama dari usahanya adalah sepatu dengan merek Up yang diluncurkan pada tahun 2011. Passion diakui Diana menjadi alasan utama keputusannya berwirausaha. “Sebenarnya pada akhirnya kadang-kadang jurusan yang kita tekuni pas kuliah itu gak ada hubungannya sama passion,” ujar Diana.

Usaha sepatu Up pun dibangunnya dengan kerja keras. Modal pertamanya didapat dari tabungan pribadi yang dikumpulkan selama bekerja. Miliki kemampuan desain, produk sepatu Up di desain dan diproduksi oleh Diana sendiri. “Awalnya ada sekitar enam sepatu, bengkelnya di bandung, dan produksi nya masih berjalan sampai sekarang,” tutur Diana.

Menyasar kaum muda dari keluarga dengan ekonomi menengah ke atas, sepatu Up dijual dengan rentang harga Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu. Produk sepatu yang khusus dipasarkan secara online ini ternyata dapat sambutan positif dari konsumen. Tak hanya di Indonesia, pembelinya bertebaran di beberapa negara lainnya, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Filipina, Meksiko, Rusia, hingga Amerika.

Sudah yakin Up bisa berjalan dengan stabil, kini Diana mulai bangun brand baru dengan produk dan pasar yang berbeda. “Sekarang bisnisnya ada tiga. Sepatunya Up, kalau baju Schmileymo, kalau tas-nya Sun of a Fun,” jelas Diana.

Bekerja dari rumah

Membangun usaha, bukanlah hal yang mudah bagi Diana Rikasari. Kelola tiga bisnis sekaligus, sudah pasti menyita waktu dan perhatiannya. Belum lagi ia harus atur strategi agar semua target tercapai dan usahanya sustainable. Melakoni hal tersebut, Diana punya trik bagi waktu dengan keluarga.

Pastikan bisnis sepatu lokal dengan merek Up bisa berjalan stabil, Diana perlahan buka clothing line dengan merek Schmiley Mo. Belum puas, ia juga kerjakan proyek Sun of a Fun dengan produk andalan tas kulit.

Mulai serius tekuni usaha di tahun 2011, perkembangan bisnis Diana terbilang pesat. Meski demikian, tidak berarti usahanya berjalan dengan mulus. “Kendala yang pernah dihadapi pasti banyak ya. Karena bisnis pasti banyak masalah,” tutur pemilik suara renyah ini.

Salah satu tantangan bisnis yang ia ceritakan kepada KONTAN adalah soal sumber daya manusia. Ia menyebut karyawan yang kurang loyal sebagai salah satu contohnya. Imbasnya, kualitas produk jadi kurang stabil.

“Kalau Schmiley Mo beberapa kali, aku selalu telat untuk launching-nya karena produksinya selalu molor,” tambah Diana. Belajar dari kendala-kendala tersebut, Diana perkuat perencanaan, serta terus memperbaiki manajemen SDM di setiap unit usaha yang dikelolanya.

Bicara soal perencanaan, Diana saat ini targetkan pasar yang luas untuk produknya. Terutama Schmiley Mo sebagai brand baru. Pasang langkah pelan tapi pasti, Diana jajaki satu negara ke negara lainnya untuk pasarkan produk.

Sementara itu, untuk merek Up yang eksklusif dipasarkan online, fokusnya ada di pengembangan website. Diana memastikan website Up selalu up to date baik dari segi konten maupun visual. Tujuannya, agar konsumen mendapat pengalaman belanja online yang menyenangkan dan gampang.

Kualitas produk tentunya juga tak luput dari perhatian. Resepnya adalah penuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Ciptakan brand dengan produk yang memang menyasar kaum hawa, Diana diam-diam rajin perhatikan wanita-wanita yang ditemuinya. “Biasanya aku suka memperhatikan wanita di mal, atau perempuan di kantor,” tutur Diana.

Kebiasaannya ini membuat ia mengerti item apa yang sedang disukai para wanita. Lebih dari itu, Diana juga memperhatikan, desain seperti apa yang membuat wanita-wanita nyaman.

Hal ini pula yang diakui Diana menjadi inspirasi dari desain produknya. Terutama untuk produk sepatu Up. Mendesain sendiri produk sepatunya, ia selalu berusaha menciptakan sepatu yang nyaman digunakan.

Tak hanya nyaman dipakai, produk Diana juga punya ciri khas. Dari tiga brand yang dikembangkannya, Diana tetap sisipkan karakter pribadinya dalam setiap produk. “Garis merahnya semuanya itu ada jiwa fun nya, ada playfull,” ucapnya.

Turun tangan mulai dari perencanaan bisnis, desain produk, hingga pemasaran, Diana lebih senang bekerja dari rumah. Langkah ini dinilainya paling efektif dan efisien untuk bagi waktu dengan keluarga. Untuk koordinasi dengan timnya, Diana andalkan berbagai media komunikasi yang ada.

Bagaimanapun, keluarga memang menjadi support system bagi Diana. Ia selalu menempatkan keluarga pada prioritas pertama. “Jadi aku kerja itu maksimal dalam sehari, maksimal banget 3 jam. Sisanya buat anak dan suami,” terangnya.

Populer lewat blog dan buku

Lahir di Colorado, Desember 1984, Diana Rikasari masih terbilang muda. Namun, sederet prestasi telah diraihnya. Tak hanya sukses jadi pengusaha, Diana juga beri inspirasi banyak orang lewat blog dan buku karyanya.

Disamping lihai menangkap peluang dan menyetir usaha, Diana Rikasari simpan banyak potensi lainnya. Aral melintang di industri fesyen Indonesia, Diana justru lebih dulu dikenal lewat blog fesyen miliknya. Kini, ia pun siap luncurkan buku ketiga.

Memang, menulis diakui Diana sebagai terapi baginya. Ia yang memang senang menulis diary sejak SD, mulai mengenal blog di tahun 2007. Media digital langsung memikat hatinya. Jadilah Diana gemar nge-blog. “Karena aku suka banget fesyen dan desain, jadinya pasti membahas hal itu,” ujarnya.

Tahun 2014, Diana mulai menulis buku. Maret mendatang, volume ketiga dari buku berjudul “88 Love Life” karya Diana akan segera terbit. “Inspirasinya pengalaman sehari-hari, dari cerita-cerita yang aku dengar, dari keluarga aku, teman aku, dari masalah pekerjaan, masalah apa aja lah ya yang aku alami hari itu aku tulis dan jadinya jadi quotes,” jelasnya.

Meski disibukkan dengan urusan bisnis dan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga, Diana masih punya waktu senggang untuk menulis. Kegiatan ini diyakininya sebagai bentuk ekspresi diri. Minimal, sebelum tidur Diana menyempatkan waktu untuk menulis refleksi diri di hari itu.

Semua kesibukan tersebut, dijalani Diana dengan penuh rasa syukur. Ia merasa beruntung diberi kesempatan oleh tuhan untuk menjalani rutinitasnya sebagai business woman sekaligus blogger seperti sekarang. Setidaknya dalam kurun waktu delapan tahun terakhir, Diana telah mengumpulkan 11 penghargaan baik dalam bidang wirausaha, maupun fesyen dan blog.

Buku “88 Love Life” karya Diana menjadi best seller dan dapat penghargaan dari Malaysia. Bisnis yang dirintisnya juga dianugerahi bermacam penghargaan, salah satunya sebagai Winner of International Young Creative Entrepreneur (IYCE) 2012 dari british council.

Bahkan, bisnis clothing line Schmiley Mo yang baru tiga bulan ini berjalan sudah dapat kesempatan showcast di Jakarta Fashion Week dan Kuala Lumpur Fashion Week. “Februari ini kita diundang untuk London Fashion week,” tutur Diana penuh syukur.

Punya setumpuk prestasi, Diana Rikasari ternyata tetap rendah hati. Alih-alih menjadi sombong, Diana justru mengambil banyak pelajaran di balik pencapaiannya saat ini. “Penghargaan ini dan itu membuat aku belajar bahwa tulus dan bekerja keras itu dua hal yang penting dalam melakukan hal apa pun,” ungkapnya.

Di balik sosoknya yang begitu inspiratif, Diana ternyata miliki sederet nama tokoh yang dikagumi. Mulai dari Oprah Winfrey dengan sisi philanthropist, Steve Jobs dengan inovasi dan nyali nekatnya, hingga Sophia Amoruso yang lihai kembangkan online shopping-nya. “Dari sisi bagaimana cara melipat-gandakan uang aku suka Warren Buffett,” terangnya.

Selain menulis, membaca, dan fesyen, Diana masih punya banyak kegemaran lainnya. Ia mengaku punya hobby Fotografi, musik, dan melukis. Tahun ini Diana sangat ingin mulai kembali melukis, menggambar dan menciptakan karya artwork. “Aku gak hanya ingin jadi business woman, tapi juga jadi artist dalam artian bikin karya art,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Terpopuler
Kontan Academy
Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM) Supply Chain Management Principles (SCMP)

[X]
×