kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45985,36   -4,57   -0.46%
  • EMAS1.142.000 0,35%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Gagal berbisnis rajutan, Dasep sukses mengelola koperasi


Jumat, 15 Juli 2011 / 16:54 WIB
Gagal berbisnis rajutan, Dasep sukses mengelola koperasi
ILUSTRASI. Promo Hypermart 6-8 Oktober 2020. Aktivitas di gerai ritel modern Hypermart, Jakarta, Senin (01/06). KONTAN/Fransiskus Simbolon


Reporter: Feri Kristianto | Editor: Tri Adi

Gurita jaringan minimarket dan ritel modern besar yang sampai ke pelosok tidak lantas menyapu para pemain lokal. Buktinya, masih ada yang bertahan, terus berkembang, bahkan bersaing dengan perusahaan besar. Contohnya SB Mart, Furnimart, dan Mer Furniture yang dimiliki Koperasi Sejahtera Bersama (KSB) Bogor.

Lihat saja, jaringan minimarket SB Mart bertebaran di Jawa Barat. Total, saat ini ada 45 gerai yang tersebar di Bandung, Bogor, hingga kawasan Puncak. Ada juga toko mebel Mer Furniture dan Furnimart yang punya sembilan toko di Depok, Kuningan, dan Bandung.

Omzet usaha ini juga cukup besar. Dalam sehari, satu gerai SB Mart bisa menghasilkan Rp 8 juta. Sebulan, keseluruhan minimarket tersebut menghasilkan Rp 9,6 miliar. Begitu juga dengan sembilan toko mebel yang omzetnya bisa mencapai Rp 1,3 miliar per bulan.

Keberhasilan bisnis KSB Bogor tidak bisa dilepaskan dari sosok Dasep Surahman, salah satu pendiri KSB sekaligus perintis SB Mart dan Furnimart. Di tangan pria kelahiran Sukabumi, 6 Desember 1972 ini, bisnis KSB semakin menggurita.

Darah pengusaha memang mengalir pada bapak dua orang putri ini. Meski lahir sebagai anak ketujuh dari sembilan bersaudara dari pasangan Pak Mamad Akhmad, seorang pengusaha restoran di Sukabumi, dan Bu Atikah, Dasep tidak lantas mengandalkan kekayaan orangtua. “Saya sudah berusaha sejak muda,” ujarnya.

Setelah lulus dari jurusan teknik industri di Universitas Islam Bandung (Unisba) pada 1996, ia memutuskan menikah dan tidak bekerja kantoran. Ia tidak ingin pulang ke Sukabumi, tapi tinggal di Bandung.

Berbekal uang pinjaman dari orangtua sebesar Rp 10 juta, pada 1997, Dasep merintis bisnis rajutan dan pakaian bersama istrinya, Reny Hermawati, di Kota Kembang. Ia menggunakan uang itu untuk membeli satu unit mesin jahit seharga Rp 3 juta, dan sisanya untuk belanja bahan baku kain.

Bisnis pertama ini terbilang lancar. Dalam tempo tiga tahun, pelanggan sudah banyak. Tahun 2000, Dasep bisa membeli hingga 40 unit mesin rajutan. Karyawannya terus bertambah hingga mencapai 60 orang.

Sayangnya, pada tahun 2001, Dasep salah memenuhi pesanan pakaian dari pelanggan. Sudah bisa ditebak, pelanggannya menolak pengiriman barang. Alhasil, ribuan pakaian menumpuk di gudang dan ia menanggung kerugian puluhan juta rupiah.


Diajak bekas mentor

Tak cuma itu, berhubung modal usaha banyak didapat dari pinjaman, Dasep harus memenuhi kewajiban. Saat itu merupakan masa habis-habisan. Untuk menanggung semua kerugian, ia harus melepas semua harta benda yang telah dikumpulkan selama beberapa tahun. Ia terpaksa menjual rumah dan mobil semua untuk membayar bayar utang.

Saat simpanannya terkuras habis, Dasep masih harus menanggung istri dan dua anak berusia di bawah lima tahun. Ia bahkan pernah hanya memiliki uang Rp 3.000. Terdesak keadaan, ia memilih pulang ke rumah orangtuanya di Sukabumi.

Namun, bersama orangtuanya, Dasep hanya bertahan sebulan. Prinsip ingin mandiri dan lepas dari bantuan orangtua mendorongnya bekerja lagi di Bandung. Pada tahun 2002, ia menjadi agen sebuah perusahaan asuransi. Pekerjaan ini hanya dijalani selama beberapa bulan lantaran tidak betah.

Jiwa usahanya kembali muncul. Dasep berbisnis segala macam, mulai dari jual beli mobil sampai barang kebutuhan umum. Meski memiliki anak buah, ia tidak malu terjun ke lapangan. “Bagi saya, yang penting bisa menghasilkan makan dari usaha,” tandas dia.

Rupanya, semangat pantang menyerah itu membuahkan hasil. Tahun 2004, mantan mentornya di asuransi, Iwan Setiawan, mengajak mendirikan sebuah koperasi. Bak gayung bersambut, Dasep menerima tawaran itu. Ia merasa tidak ada motivasi khusus selain butuh pekerjaan tetap.

Di usaha bernama Koperasi Sejahtera Bersama, Iwan menduduki posisi sebagai ketua, dan Dasep sebagai sekretaris. Di awal pendirian koperasi, ia ikut terjun ke lapangan mencari anggota. Tahun 2005, setelah anggotanya banyak, ia membesarkan unit usaha ritel dan perdagangan KSB.

Tidak mau mengulang kegagalan di bisnis rajutan, Dasep merancang serius bisnis ritel. Melihat potensi besar bisnis minimarket, tahun 2005, ia bermitra dengan PT Indomarco Prismatama mendirikan 30 Indomaret. Pada tahun 2007, ia juga mendirikan jaringan minimarket mebel bernama Furnimart dan Mer Furniture. Lambat laun, usaha ini sukses dan berhasil memikat warga di Bandung, Kuningan, dan Depok.

Namun, Dasep belum puas. Melihat pertumbuhan minimarket yang semakin besar, tahun 2010, Dasep mendorong KSB harus memiliki minimarket sendiri bernama SB Mart. Agar tidak kalah dari pesaingnya, SB Mart menerapkan harga khusus bagi anggota koperasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×