Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Sanny Cicilia
Rappo mengubah persoalan sampah plastik di Makassar menjadi peluang bisnis sekaligus melakukan pemberdayaan ekonomi bagi perempuan pesisir. Di usia keenam, pelanggannya bukan hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari mancanegara. Omzet tak tanggung-tanggung, bisa mencapai miliaran rupiah per tahun.
JAKARTA. Permasalahan sampah plastik masih menjadi tantangan besar di berbagai daerah, tidak terkecuali di Kota Makassar. Di sisi lain, isu kesenjangan gender serta terbatasnya kesempatan kerja bagi perempuan dan masyarakat di wilayah pesisir juga menambah kompleksitas persoalan sosial-ekonomi di tingkat lokal.
Adriani Putri, Chief Business Officer (CBO) Rappo bilang, pihaknya berusaha mencari solusi atas masalah sampah dan kesenjangan gender yang kian terasa saat pandemi Covid-19. Kala itu, keterbatasan aktivitas ekonomi memukul kelompok masyarakat rentan, khususnya perempuan yang berdomisili di pesisir.
Berangkat dari kegelisahan itulah Rappo lahir. Akmal Idrus yang tercatat sebagai Founder Rappo, merupakan jurnalis dan pembawa acara yang sering kali melihat langsung masalah lingkungan dan ketimpangan sosial saat sedang bertugas.
Meski tak punya latar belakang lingkungan, pendiri Rappo mempelajari tata kelola usaha sosial. Menurut Adriani, keterbatasan pengetahuan sebenarnya dapat diatasi dengan belajar dan kolaborasi.
Usai mengembangkan prototipe dan memperoleh pendanaan hibah, Rappo menjalankan usaha mereka. Fokus bisnis diarahkan pada pengolahan sampah plastik menjadi produk fesyen dan suvenir korporat, seperti tas, dompet, dan buku.
Untuk memperkuat kapasitas, tim Rappo mengikuti berbagai pameran, kompetisi, serta program pelatihan di dalam dan luar negeri. Tahun lalu, tim Rappo mengikuti program selama tiga bulan di Selandia Baru untuk mempelajari pengelolaan sampah. Pada 2026, Akmal kembali melakukan pendalaman isu pengelolaan sampah di Australia.
Memasuki tahun keenam operasional, Rappo mulai menunjukkan kinerja sebagai bisnis yang mandiri secara finansial. Rappo telah membukukan omzet tahunan di kisaran miliaran rupiah, seiring meningkatnya permintaan terhadap produk berbasis daur ulang.
Adriani bilang, Rappo mencatat rata-rata penjualan sekitar 1.300 pieces per bulan. Permintaan meningkat pada kuartal III dan kuartal IV, karena pesanan dari corporate gift dan instansi pemerintah. Ini sejalan dengan model pemasaran Rappo di business-to-business (B2B) dan business-to-government (B2G). Penjualan dilakukan melalui WhatsApp, email, konsinyasi, pameran, serta e-commerce untuk menjangkau konsumen di daerah lain.
Produk Rappo yang dibuat oleh perempuan pesisir Makassar itu, kini telah menembus pasar Jepang, Italia, dan Belanda. Mereka juga tengah berdiskusi dengan calon mitra dari Korea Selatan.
"Menjaga bisnis tetap menguntungkan sama pentingnya dengan menciptakan dampak itu sendiri. Profitabilitas adalah kunci agar usaha bisa mandiri dan terus memberi manfaat jangka panjang," ujar Adriani.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














