kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45774,91   4,24   0.55%
  • EMAS887.000 -1,88%
  • RD.SAHAM 0.90%
  • RD.CAMPURAN 0.65%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.47%

Inilah strategi berjuang pebisnis kuliner yang andalkan penjualan online


Sabtu, 09 Mei 2020 / 10:00 WIB
Inilah strategi berjuang pebisnis kuliner yang andalkan penjualan online

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pandemi virus korona membuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ikut kena imbas. Berbagai upaya para pebisnis lakukan biar roda usaha bisa terus bergerak, meski putarannya tidak lagi sama.

Inovasi pun langsung mereka lakukan. Apalagi, penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah daerah membuat aktivitas sosial dan bisnis menjadi terbatas. Salah satunya adalah, dengan memanfaatkan jasa pengantaran makanan seperti Go-Food dari Gojek. 

Hal inilah yang Muhammad Rifky Saleh, pemilik Selawaktu Coffee, lakoni. Maklum, selama pandemi virus korona, omzet usahanya anjlok hingga 30%. Biasanya omzet kedai kopi yang ada di bilangan Jakarta Selatan bisa mencapai Rp 100 juta sampai Rp 130 juta per bulan.

Baca Juga: Tren Usaha Kuliner, Mengandalkan Aplikasi Pesan Antar

Sebagian pendapatan Rifky sebelum pandemi berasal dari layanan dine in. Sedangkan sekitar 30%-40% dari penjualan online.

Baca Juga: Menjadikan warung makan melek digital lewat Wahyoo

Setelah kedai kopinya tak lagi melayani dine in, praktis Rifky hanya mengandalkan penjualan online dan take away. Ini juga berimbas ke giliran masuk kerja karyawan yang berkurang, dari enam sif menjadi empat sif dalam seminggu. "Sekarang, 90% penjualan dari online dan 10% take away," katanya kepada KONTAN.

Baca Juga: Buka bisnis kuliner lewat GrabFood, simak panduannya di sini

Kondisi tidak mengenakkan juga terjadi pada Citra Ajeng, pemilik Takoyaki Ichi. Ia terpaksa menutup tiga gerai camilan ala Jepang ini di pusat perbelanjaan yang berlokasi di Jakarta. Soalnya, ada larangan membuka bisnis tak penting selama penerapan PSBB.

Padahal, saat kondisi normal, gerainya rata-rata bisa menghasilkan omzet Rp 1 juta per hari, dan di akhir pekan  melonjak sampai Rp 3 juta sehari.

Alhasil, Citra terpaksa merumahkan empat pegawainya dan tersisa dua karyawan. "Sekarang, saya membuka dapur darurat Takoyaki Ichi di garasi rumah. Saya harus survive karena yang kena bukan cuma saya saja," ucapnya kepada KONTAN.

Saat ini, situasinya jadi terbalik. Penjualan Takoyaki Ichi langsung menukik tajam sampai 70%-75% dari kondisi normal. Lantaran untuk saat ini, Citra hanya mengandalkan penjualan secara online dengan memanfaatkan layanan Go-Food.

Situasi serupa juga terjadi pada Restoran Asoka Corner yang berlokasi di Medan.  Sang pemilik, Kania Ginting menceritakan, penurunan omzet sangat dia rasakan karena usaha kulinernya mengandalkan penjualan makan di tempat.

Kini, ia hanya mengandalkan layanan pesan antar makanan. Kontribusi dari penjualan online tersebut sekarang mencapai 80%. Padahal sebelumnya, layanan pesan antar makanan cuma berkontribusi 20%-30% dari total pendapatan.

Kania merasa bersyukur, di saat pandemi virus korona masih bisa meraup pendapatan rata-rata sebesar Rp 2 juta per hari. Tapi, "Omzet saat ini sudah turun 50%-60% dari biasanya Rp 5 juta per hari," katanya ke KONTAN.

Kania tak merumahkan 12 karyawannya, cuma mengurangi jam operasional dari biasanya buka hingga 23.00 WIB, kini menjadi 21.00 WIB harus tutup.



TERBARU

[X]
×