kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Kampung Kembang Goyang, tempat produksi camilan tradisional (Bagian 3)


Sabtu, 13 April 2019 / 12:30 WIB
Kampung Kembang Goyang, tempat produksi camilan tradisional (Bagian 3)

Reporter: Elisabeth Adventa | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Moment Idul Fitri biasanya menjadi angin segar bagi para pelaku usaha. Biasanya, sebulan menjelang Idul Fitri, daya beli masyarakat meningkat dan lebih tinggi dari pekan biasa.

Berkah menjelang Lebaran ini ternyata juga dirasakan oleh para perajin kembang goyang di Kampung Kembang Goyang, blok proposal, Jalan Raya Lenteng Agung, RT 13/ RW 7, Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan.


Dua minggu menjelang Idul Fitri, pesanan mulai banyak berdatangan. Pelopor Kampung Kembang Goyang Lenteng Agung, Ahmad Junaedi mengatakan kapasitas produksinya bisa meningkat sampai 60% menjelang Idul Fitri. Pesanan mulai banyak berdatangan sejak awal puasa. "Lebaran pasti ramai, saya sering kewalahan," katanya ke KONTAN .

Saat hari biasa, Juanedi biasanya menghabiskan 5 kg bahan baku kembang goyang. Tapi saat awal puasa, melonjak menjadi 8 kg sampai 10 kg bahan baku kembang goyang. Ia pun akan mencicil pembuatan kembang goyang. Maklum, untuk merayakan Lebaran, banyak orang yang memesan hingga 30 bungkus kembang goyang. "Setiap hari pasti ada saja yang pesan," jelas pria yang disapa Jun ini.

Tak hanya Junaedi,  Nurhayati, perajin kembang goyang lain di kampung ini juga melontarkan hal serupa. Ia bisa mengolah dua sampai tiga kali lipat bahan baku kembang goyang menjelang Lebaran.

Di pekan biasa, ibu dua anak ini bisa mengolah dua kilogram bahan baku, menjelang Lebaran naik menjadi 5 - 6 kg bahan baku. "Sudah pasti banyak pesenan waktu Lebaran. Stok pasti habis, malah kadang masih kurang karena ada pelanggan yang enggak kebagian," tuturnya.

Selain momen Idul Fitri, Junaedi dan Nurhayati sama-sama mengatakan jika saat hari biasa, pesanan juga berdatangan dari berbagai daerah. Tak hanya pelanggan dari sekitar Jakarta, tapi juga dari Depok, Bogor dan Bekasi.

Bahkan menurut Junaedi, untuk memenuhi permintaan pelanggan sehari-hari dirinya mengaku masih kewalahan. "Sehari-hari saya sering nolak pembeli karena stok kosong. Sudah lumayan kewalahan untuk saat ini. Alhamdulilah pasarnya makin luas," ungkapnya.

Pelanggan Junaedi sendiri kebanyakan datang dari kalangan pemerintahan dan perusahaan, seperti Lurah, Camat dan Kepala Dinas.

Ia mengaku jika Kampung Kembang Goyang kerap dikunjungi oleh para petugas pemerintahan setempat. Bahkan beberapa perusahaan juga sering berkunjung untuk memberikan pelatihan seputar bisnis. "Kami sering diberi pelatihan, seperti gimana cara bikin kemasan. Ada juga pencatatan keuangan bagaimana cara mengelola keuangan," kata Junaedi.

Meski mengaku sering kewalahan, baik Junaedi maupun Nurhayati sama-sama belum berniat menambah pegawai untuk membantu proses produksi. Selama ini mereka dan para perajin lain hanya dibantu oleh keluarganya, seperti anak dan suami atau istri.

Rupanya, kedua orang itu masih kerepotan untuk memberi pelatihan kepada orang baru. "Membuat kembang goyang itu harus sabar," tandas Junaedi.         n

(Selesai)




TERBARU

Close [X]
×