kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45941,11   -24,03   -2.49%
  • EMAS929.000 -0,11%
  • RD.SAHAM 0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.15%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.20%

Kangkung cabut: Hanya butuh pupuk dan siraman air setiap pagi (2)


Senin, 24 Oktober 2011 / 13:35 WIB
Kangkung cabut: Hanya butuh pupuk dan siraman air setiap pagi (2)
ILUSTRASI. Penyakit ginjal meningkatkan kebutuhan perawatan rumah sakit bagi pasien terinfeksi Virus Corona.

Reporter: Dea Chadiza Syafina, Fahriyadi | Editor: Tri Adi

Membudidayakan kangkung cabut tidak membutuhkan perawatan intensif. Jika pemupukan sesuai takaran dan tepat waktu, maka kangkung cabut bisa dipanen saat usia 25 hari. Tapi hati-hati dari serangan belalang yang bisa merusak daun kangkung.

Selain menguntungkan, budidaya kangkung cabut ternyata juga tidak merepotkan. Dari benih hingga panen, kangkung cabut tak perlu ada perawatan yang intensif.

Untuk menanam kangkung cabut dimulai dengan menyediakan lahan bertanah gembur. Setelah itu lahan ditaburi pupuk kandang. Untuk satu hektare lahan butuh 200 kilogram (kg) pupuk kandang. "Pupuk kandang adalah asupan terbaik bagi kangkung cabut," kata Joko Patmono, Direktur PT Raja Pilar Agrotama, perusahaan penyedia bibit kangkung di Yogyakarta.

Setelah memberikan pupuk, pembudidaya bisa menaburkan benih berupa biji kangkung cabut. Untuk satu hektare lahan memerlukan sedkitnya 12 kilogram (kg) benih.

Biasanya, toko penyedia bibit kangkung menjual benih kangkung dalam kemasan 1 kg yang berisikan sekitar 15.000 butir benih kangkung cabut. "Benih itu ditabur saat lahan dalam kondisi lembap, karena kangkung adalah jenis tanaman yang suka air," terang Joko.

Setelah tiga hari, benih kangkung itu akan berubah menjadi kecambah. Sampai dengan usia satu minggu, kecambah akan tumbuh setinggi 4 centimeter (cm). Saat usia satu minggu itulah saat yang tepat bagi pembudidaya melakukan pemupukan kedua. "Pemberian pupuk kedua bisa berupa pupuk urea minimal 500 kg untuk satu hektare," jelas Joko.

Menurut Joko, pemberian pupuk tahap dua berguna untuk menunjang pertumbuhan kangkung cabut. Tahap selanjutnya tanaman kangkung cabut tak perlu mendapatkan perhatian khusus, kecuali penyiraman air di waktu pagi, terutama saat musim kemarau. "Kalau musim hujan pembudidaya tidak perlu menyiramnya," ulas Joko.

Senada dengan Joko, Hery Romadhon yang Ketua Taruna Tani Syifa Herbal di Samarinda, Kalimantan Timur, bilang bahwa kangkung cabut adalah tanaman yang tidak mengenal musim dan bisa tumbuh di semua jenis tanah asalkan tanah itu dalam kondisi gembur.

Selain perawatan yang mudah, keunggulan kangkung cabut lainnya adalah tahan terhadap terpaan angin alias tidak mudah roboh.

Selain itu, kangkung cabut juga tidak punya banyak musuh hama penyakit. Hery bilang, musuh utama kangkung hanyalah belalang yang menyerang tanaman kangkung pada bagian daun. "Hama itu bisa diatasi dengan menyemprotkan pestisida," jelas Hery.

Menurut Hery, tingkat kegagalan panen kangkung cabut sangatlah rendah ketimbang sayuran lain. Asalkan mengikuti prosedur tanam dan pemberian pupuk tepat waktu, maka kangkung cabut berkualitas bisa dipanen saat usia 25 hari. "Kangkung cabut termasuk tanaman yang kuat, tetapi harus diawasi agar tumbuh baik," katanya.

Karena waktu usia panen bisa diprediksi membuat pasokan kangkung cabut selalu tersedia di pasaran.

Itulah sebabnya, banyak pemilik restoran, rumah makan, suka menyajikan menu kangkung cabut. Selain itu, pembudidaya bisa memasok ke supermarket. "Wajar jika kangkung cabut mahal karena peminatnya banyak," ujar Joko.

(Selesai)




TERBARU

[X]
×