kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Kisah Feny Mustafa membangun label muslim Shafira (bagian 2)


Sabtu, 07 September 2019 / 10:10 WIB
Kisah Feny Mustafa membangun label muslim Shafira (bagian 2)

Reporter: Elisabeth Adventa | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tiga puluh tahun konsisten dalam menjalankan bisnis busana Muslim di bawah bendera Shafira Corporation bukan perkara mudah bagi Feny Mustafa. Feny melakukan berbagai upaya mengembangkan bisnis busana muslimnya, mulai menggunakan beberapa artis sebagai brand ambassador, menggelar fashion show, hingga mencari inspirasi desain fesyen ke luar negeri.

"Buat mendukung pemasaran, ada beberapa artis sebagai endorser atau brand ambassador. Ada Inneke Koesherawati, Sandrina Malakiano, juga Marissa Haque juga," kata Feny. Ia merasakan cara ini efektif mendongkrak pemasaran dan brand awareness.

Baca Juga: Kisah Andri Firmansyah, dari ekspor ikan hingga sukses berbisnis batik

Pada mulanya Feny ingin produknya menyasar pasar kelas menengah ke atas. Karena itu ia membanderol harga  produk Shafira mulai Rp 500.000 hingga Rp 3 juta per potong. Ada pula produk-produk eksklusif dengan tambahan batu swarovski harganya mencapai Rp 5 juta sampai Rp 15 juta per potong.

Namun setelah beberapa tahun menjalankan bisnis ini, beberapa orang memberikan masukkan Feny agar ia membuat busana Muslim dengan harga yang lebih terjangkau. Atas masukkan ini dan permintaan pasar, perempuan asal Bandung ini mewujudkannya lewat brand Zoya sejak 2010.

Ternyata respon masyarakat terhadap Zoya sangat baik dan sangat banyak penggemarnya. Zoya ini untuk kalangan menengah. Lalu sekitar dua tahun kemudian Feny kembali mengeluarkan brand ketiga, Mezora. "Ini untuk pasar middle low," terang Feny.

Baca Juga: Konsentrasi menggarap pasar syar'i, Ranti tetap eksis

Soal jenis busana yang dirilis tiga brand tersebut cukup beragam, seperti tunik, long dress, scarf, mukena, kerudung, baju koko dan lain-lain.

Mendirikan tiga brand busana Muslim dengan segmentasi pasar yang berbeda merupakan salah satu strategi Feny untuk mengembangkan sayap bisnisnya. Ia menyebut bahwa pasar busana Muslim di Indonesia masih sangat luas. Apalagi saat ini, pengguna busana Muslim juga terus bertambah, baik di Indonesia maupun dunia.
"Jadi kalau bicara soal peluang, masih cukup besar. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga luar negeri. Sekarang kalau kita ke Eropa, rasanya semakin banyak orang yang berbusana Muslim," ungkapnya.

Menurut Feny, bisnis fesyen merupakan bisnis yang entry border-nya rendah. Maksudnya, siapa saja yang mau masuk ke dalam bisnis ini masih bisa. Ia menyarankan apabila para pemula ingin masuk ke usaha di bidang ini harus memiliki kekuatan dan keunggulan masing-masing.

"Kalau kita tidak punya keunggulan, kemungkinan besar tidak akan bisa survive karena memang para pemain di industri ini sangat banyak," tandasnya.           n

(Bersambung)




TERBARU

Close [X]
×