kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Kisah sukses tunarungu mendirikan gerai kopi dengan brand Kopi Tuli


Senin, 16 Desember 2019 / 20:49 WIB
Kisah sukses tunarungu mendirikan gerai kopi dengan brand Kopi Tuli
Pemilik Kopi Tuli, Mohammad Andhika P

Reporter: Venny Suryanto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Berbisnis di bidang kopi saat ini memang punya peluang yang besar untuk dijalani. Apalagi kini generasi milenial juga sudah mulai menyukai kopi-kopi kekinian sehingga pasarnya semakin meluas. 

Kali ini, ada yang unik dan berbeda dari pelaku bisnis kopi yang baru saja membuka gerai kopinya pada 2018 silam. Kopi ini dinamakan Kopi Tuli yang didirikan oleh ketiga pemiliknya yang tuli atau penyandang disabilitas. 

Baca Juga: Tokopedia gandeng Warung Pintar gelar Festival Gerakan Warung Nasional

Salah satu pemilik Kopi Tuli yakni Mohammad Andhika Prakoso bercerita bahwa dirinya saat kecil pernah jatuh sakit hingga menyebabkan dirinya mengalami gangguan dalam pendengarannya alias tuli. 

Ia juga mengaku begitu sulit untuk bersosialisasi dengan teman-teman lainnya semasa sekolah mulai dari SD,SMP, SMA hingga kuliah. Ia merasa dirinya sulit untuk mengikuti proses pemelajaran selama sekolah karena ternyata penjelasan dari gurunya yang begitu cepat sedangkan ia harus secara pelan-pelan untuk dapat mengikuti apa yang dibicarakan. 

Hingga saat itu, Andhika meminta kepada orang tuanya untuk dimasukkan ke dalam bimbel private agar lebih dapat mengerti apa yang diajarkan. Tak berhenti di masa sekolah saja, dirinya juga merasa kesulitan saat di bangku kuliah, ia bilang saat itu sulit sekali bersosialisasi dengan teman-teman sekelasnya bahkan tersulitnya kalau sudah dalam pembagian kelompok untuk mengerjakan tugas. 

“Ketika mereka tahu saya tuli, semakin sulit saya untuk diterima dikelompok tersebut,” Jelas Andhika. 

Baca Juga: Mencuil peluang manis dari kue kotakan

Ia juga mengatakan bahwa dirinya sempat sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan setelah melamar di berbagai tempat. Bahkan setelah dihubungi untuk di interview, perusahaan tersebut bisa langsung menolaknya karena dirinya memiliki keterbatasan. 

“Saya dulu pernah lamar ke lebih dari 200 perusahaan. Saat itu ada sekitar enam perusahaan yang memanggil lagi untuk di interview. Tapi begitu mereka tahu saya tuli mereka menolak saya,” tambahnya. 




TERBARU

Close [X]
×