kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45830,70   -7,12   -0.85%
  • EMAS940.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.46%
  • RD.CAMPURAN -0.09%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Lewat penjualan online, perajin kain lurik bisa bangkit


Sabtu, 03 Oktober 2020 / 09:15 WIB
Lewat penjualan online, perajin kain lurik bisa bangkit

Reporter: Venny Suryanto | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Semakin banyak saja pelaku usaha mikro,  kecil dan menengah (UMKM) yang mengandalkan teknologi digital untuk memperluas pasar selama pandemi virus korona baru berlangsung. Termasuk, para perajin kain lurik. Salah satunya adalah  Suyatmi, pemilik usaha berbendera Aulya Lurik. 

Perempuan asal Desa Karangasem, Klaten, Jawa Tengah, ini memang harus memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar di masa pandemi Covid-19. Maklum, pada awal pandemi berlangsung, sekitar Maret hingga April, penjualannya merosot drastis. 

Padahal, di awal tahun, Suyatmi mengungkapkan, situasi bisnis kain luriknya masih terhitung normal, meski terkadang penjualan naik dan turun. "Kemudian, selama April sampai Juni, sama sekali tidak ada penjualan. Jadi, bisa dibilang omzet saya turun 100%," ungkap Suyatmi kepada KONTAN, Jumat (2/10).

Namun, dia tidak patah arang. Melihat banyak pengusaha lain yang memanfaatkan teknologi digital untuk pemasaran, dengan menjual produk lewat media sosial dan marketplace, ia melakoni hal yang sama.  

Baca Juga: Peluang fesyen kain daur ulang

Maklum, Suyatmi harus bisa menyelamatkan usaha kain luriknya yang sudah dia jalankan sejak tahun 2007. Bahkan, ia termasuk salah satu perajin kain lurik ternama dari Karangasem, Klaten, Jawa Tengah.

Akhirnya, Suyatmi mencoba peruntungan dengan memasarkan lain lurik buatannya di salah satu marketplace. Tak disangka, hasilnya ternyata langsung berbalik arah. Pelan namun pasti, pesanan mulai kembali mengalir ke Aulya Lurik, yang menjual beragam corak kain lurik. Informasi saja, Suyatmi memproduksi sendiri kain lurik.

Hingga kini, dari total pesanan yang masuk, dia mengungkapkan, sekitar 50%-nya berasal dari kanal penjualan online. Salah satu faktor yang membuat produknya masih dicari orang harga jualnya yang terbilang murah.

Lantaran buatan sendiri, Suyatmi tidak mematok harga mahal untuk kain lurik buatannya. Rata-rata ia menjual dengan banderol harga Rp 70.000 sampai 
Rp 80.000 per lembar.

Selama proses pembuatan kain lurik yang bermotif garis-garis, Suyatmi memakai benang katun dan pewarna alami yang terbuat dari daun yang mengandung getah serta kambium dari pohon mahoni.  Selain itu, ia juga menggunakan pewarna sintesis. 

Alhasil, dengan bantuan pemasaran digital, hingga saat ini dia bisa memenuhi pesanan yang mencapai 100 lembar per bulan. Sayang, Suyatmi tidak memerinci omzet yang ia peroleh sebelum pandemi virus korona berlangsung.

Yang jelas, dengan kondisi sekarang, dia optimistis bisa mendapatkan angka penjualan seperti sebelum masa pandemi dengan bantuan pemasaran online. Bahkan, ia berharap, omzetnya dapat meningkat hingga dua kali lipat bila pandemi virus korona kelak berakhir.

Selanjutnya: Meniti usaha fashion yang selalu mengikuti tren

 




TERBARU
Kontan Academy
Excel Master Class: Data Analysis & Visualisation Certified Supply Chain Analyst (CSCA) Batch 10

[X]
×