Reporter: Jane Aprilyani, Rizki Caturini | Editor: Rizki Caturini
Martabak manis alias terang bulan sudah menjadi salah satu kudapan populer di Indonesia. Peminatnya mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Pangsa pasar yang besar membuat banyak pelaku usaha yang mencecap peruntungan di bisnis martabak ini sehingga persaingan kian sengit. Agar bisa memenangkan persaingan, pelaku usaha harus pintar-pintar mencari inovasi produk. Salah satunya kini makin marak martabak aneka warna dengan pilihan berbagai topping yang ditawarkan sejumlah pengusaha martabak.
Seperti yang dijalankan oleh Lia Angeline Dinata dengan merek usaha Holland Martabak Terang Bulan. Usaha warisan orangtuanya yang sudah berdiri sejak tahun 1987 di Surabaya ini awalnya hanya menjual martabak manis original rasa cokelat dan keju saja. Namun, di awal tahun lalu Lia berinovasi dengan meluncurkan martabak aneka warna seperti merah untuk red velvet, ungu dan hijau untuk rasa matcha.
Bahkan putra Presiden Joko Widodo pun tidak ketinggalan untuk mencecap gurihnya bisnis martabak inovasi ini. Lewat usaha Martabak Kota Barat (Markobar), Gibran Rakabuming menjalankan usaha martabak delapan rasa pada tahun 2014 bersama kawannya Arif Setyobudi.
Markobar awalnya gerai martabak manis pada umumnya di Solo, Jawa Tengah milik ayah Arif. Setelah kerjasama dengan Gibran berjalan, nama Markobar pun kian berkibar. Saat ini sudah ada lima gerai Markobar yang beroperasi di Solo, Yogyakarta, Semarang dan Jakarta. Meski tidak menyebut detail angka untuk modal usaha, namun Gibran mengaku mengeluarkan kocek ratusan juta rupiah.
Produk martabak Markobar mampu bersaing dengan menyajikan delapan rasa dalam satu loyang yakni cokelat mesis, keju, cokelat Cadburry, Silverqueen, Kit Kat, Ovomaltine, Nutella dan Toblerone. Harga jual menu Rp 90.000 per loyang. Dalam sehari satu gerai Markobar bisa menjual 150 loyang hingga 200 loyang.
Denis Rahmat Wijaya, pemilik usaha Martabak Denis di Kuningan, Jawa Barat mengatakan, modal usaha membuka usaha martabak tergantung konsep yang dijalankan. Misalnya, untuk gerobak di pinggir jalan, hanya butuh modal mulai dari Rp 15 juta. Itu sudah termasuk gerobak standar, peralatan usaha dan bahan baku awal. Sementara untuk usaha yang berkonsep gerai di dalam ruko, modal usaha bisa sampai Rp 100 juta bahkan lebih. "Karena butuh biaya tambahan desain ruangan, sewa tempat dan peralatan tambahan seperti kursi, meja," ujar Denis.
Martabak Denis yang beroperasi sejak 2002 silam menawarkan konsep kemitraan usaha pada 2011. Ada tiga paket investasi yang ditawarkan, yaitu Rp 15 juta, Rp 35 juta, dan Rp 50 juta. Perbedaan paket terletak pada ukuran booth, kualitas booth dan jumlah peralatan yang didapat mitra. n
(Bersambung)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













