kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Melirik keberuntungan dari jam tangan antik dan unik (1)


Sabtu, 22 Februari 2020 / 11:00 WIB
Melirik keberuntungan dari jam tangan antik dan unik (1)

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produk jam tangan biasanya terbuat dari logam atau bahan baku karet hingga plastik. Namun ditangan beberapa perajin, jam tangan bisa dibuat dari kayu malah jamur.  

Inilah yang dilakoni oleh Ilham Pinastiko, pendiri Pala Nusantara dari Bandung. Ia sengaja merancang jam tangan yang mengandung nilai kebudayaan lokal di setiap produknya. Produk yang ia buat itupun setelah melalui riset yang cukup mendalam selama setahun hingga akhirnya resmi berproduksi pada 2017.
 
Selain memproduksi jam tangan kayu, ia juga sudah membuat jam tangan yang terbuat dari bahan baku yang lain daripada yang lain yaitu jamur. Pembuatan jam tangan dari jamur itu bukan tanpa sebab. Setelah mengikuti sebuah pameran di Amerika Serikat, ada buyer yang menantang dirinya untuk membuat jam tangan dari jamur dan bukan dari kulit hewan. "Di sana sudah aware untuk tidak menggunakan bahan baku kulit hewan," katanya kepada KONTAN, Senin (17/2).
Ia pun menggandeng Mycotech, sebuah perusahaan pembuat bahan material dari  jamur, dan kebetulan sang pendiri adalah temannya. Pala Nusantara dan Mycotech pun melakukan riset mulai dari 2018-2019 untuk membuat jam tangan terbuat dari jamu sebagai pengganti kulit sapi. 
Hingga akhirnya jam tangan yang terbuat dari bahan baku jamur pun terwujud. Untuk urusan pembuatan tali jam tangan yang terbuat dari jamur menjadi kerjaan dari Mycotech. Sedangkan tugas dai Pala Nusantara adalah sebagai pembuat jam dan memadukan dengan kulit jam tangan jamur tersebut.
Lantaran tergolong sulit, dirinya hingga saat ini baru sanggup memproduksi 30 jam tangan jamur. "Jadi mitra kami Mycotech yang membuat kulit jamur yang dikembangkan sendiri dan kami yang membuatnya menjadi jam dan dikombinasi dengan kayu. Dan ini adalah vegan watch pertama," jelasnya.
 
Selain jam tangan kulit jamur, Pala Nusantara juga sudah merancang sembilan jam tangan lainnya dengan bahan dasar kayu yang biasanya berasal dari kayu maple dan sonokeling. Artinya, Pala Nusantara sudah membuat sebanyak 10 desain jam tangan unik.
 
Harga jam tangan kayu dibanderol Rp 550.000 - Rp 840.000 per satuan. Sedangkan untuk jam tangan kulit jamur berkisar antara Rp 1,35 juta sampai Rp 1,55 juta. 
 
Setiap bulannya Pala Nusantara mampu menghasilkan omzet sekitar Rp 260 juta. Penjualan masih didominasi produk jam desain reguler dari kayu dan kulit sapi. Maklum, pasokan vegan watch masih terbatas.
 
Pemain lainnya  adalah Rizki Febriani atau akrab disapa Kiki dengan label Kay. Merek Kay sendiri sudah ia rintis  sejak 2015 di Pandeglang, Banten.  Ini adalah merek jam tangan yang terbuat dari kayu. "Selain jam kayu ada kerajinan lain dari kayu, tapi saat ini lagi fokus di jam kayu," katanya ke KONTAN sambil menyebut kay dalam bahasa Sunda yang berarti kayu.
 
Sejauh ini, ia sudah merancang sembilan jam kayu. Jam yang terbuat dari full wood tersebut dibanderol dengan harga Rp 400.000 sampai Rp 800.000 per unit. 
Usaha yang ia garap bersama suami ini sudah bisa menghasilkan 50 jam tangan kayu. "Pengerjaannya tergolong rumit dan dalam sebulan omzet rata-rata Rp 30 juta," tuturnya.
 
Sama seperti Ilham, Kiki menggunakan kayu maple dan sonokeling. Untuk produk premium ia menggunakan kayu jati. Semua kayu tersebut ia dapatkan dari Jawa Timur.   n
 
(Bersambung)




TERBARU

Close [X]
×